
Di rumah Zain dan Jihan mereka sedang berada di kamar, karena kalau di luar cukup rame ya, dasarnya Zain yang gak bisa jauh dari sang istri apa lagi kalau dekat rasanya pengen uwel uwel jadi mereka pindah ke kamar agar lebih leluasa
Toh di kamar mereka juga semua fasilitas ada, mulai kulkas Tv dan pastinya AC dong, gak boleh terlewatkan
" Baby Bibi sudah terlelap setelah mandi, dan Di temani oleh Zain yang sedang menonton Sepak bola
Sedangkan Jihan barusan selesai mandi dan ganti baju tepatnya daster
Jihan beranjak naik ke atas ranjang dan mendekat pada baby Bibi yang tidur sambil ngenyot bibirnya seolah sedang nen
" Ih.... Gemesnya Umi, sayang..." ucap Jihan melihat baby Bibi sangat gemes
" Segemes apaan sih? Tanya Zain lagi
" Pokoknya gemes" jawab Jihan dan berkali kali mencium wajah tampan baby Bibi yang mirip dengan Abahnya itu
Tapi baby Bibi sama sekali tidak terbangun dan biasanya yang panik itu seorang Ibu, tapi beda dengan Zain yang sangat panik takut anaknya terbangun
" Umi... Bangun nanti" ucap Zain
" Gemes Bah... Ih gemes gemes" jawab Jihan sambil memperagakan gemesnya pada baby Bibi
" Umi..." hentak Abah Zain lagi
" Apa Abah... mau Umi praktekkan betapa gemesnya Umi pada baby?" tanya Jihan menatap Zain yang dekat dengannya
" Coba" tantang Zain
" Haduh... Gemes gemes gemes bah... Umi gemes.." kesal Jihan dan menguyel nguyel serta mencibit pipi Zain
" Haduh Mi... Bukan gemes ini namanya, tapi kesal" Protes Zain mencekal tangan Jihan yang cukup menjadi kepiting yang mencubitnya
" Gemes tuh seperti ini " ucap Zain masih menahan tangan Jihan dan kini justru mengambrukkan badan Jihan dan di tindihnya
" Muuacch... Muuachh, Muuuaaach.. " bertubi tubk Zain mencium dan menggesekkan bereoknya ke muka Jihan, dan sesekali menggelitiki Umi dari anak anaknya itu
Di sini lain, setelah El lapor pada Al Abah dan Uminya, tentang Aliza yang belum pernah berkunjung kebutik
Habis Al kena ledek bahkan kena Marah Abahnya, karena begitu pelitnya dan ketidak pekanya Al pada Aliza
Dan sore ini Aliza dan Al jalan ke butik, hanya berdua, tadinya Zula mau ikut, tapi Umi Zahra hanya ingin di temani Zula, jadi Zula saat ini memprioritaskan Mbah Uminya
Entah mengapa dia sendiri juga tidak mau jaih dari mbah Uminya itu, dan pengen selalu ada untuk mbah Umi dan mbah Abahnya
Seperti saat ini, Zula membantu Umi Zahra untuk mandi, bahkan Zula yang memandikan Umi Zahra dengan telaten dan sabar
__ADS_1
Zula tidak jijik apa lagi Ilfeel, dan mengikuti apa yang Uminya ajarkan untuk merawat Umi Zahra
Sayang, dia berjumpa dengan Umi Zahra di saat dia sudah tumbuh dewasa, bahkan Umi Zahra sudah sangat tua
Umi Zahra tidak minta apa apa darinya, hanya minta di temani saja, sebagai cucuk, Zula selalu berfikir kalau ini bentuk bakti dan sayangnya kepada mbah Uminya, dan dia gak mau melewatkan hal itu, takutnya nanti ini adalah permintaan terakhir mbahnya
Kini Zula sudah memakaikan mukena pada Umi Zahra yang sama sekali tidak pernah meninggalka sholat, apapun keadaannya Umi Zahra selalu menjalankan sholat, begitu juga dengan Abah Hasan yang terakhir sebelum jaruh sakit malah sedang mengisi pengajian ibuk ibuk di pondok Baha'
Berbeda dengan kita kaum yang mungkin bahkan ada islamnya hanya di KTP saja,
Sering kali kita lelet, bahkan merasa males saat hendak menjalankan kewajiban kita, yang hanya 5 kali dalam sehari dan bahkan cukup dengan waktu 5 menit saja, tapi rasa malesnya menyelimuti hati kita yang sama sekali sulit tergerak
Padahal, mainan hp yang berjam jam saja sangat betah, dan meluangkan waktu 5 menit saja justru merasa sangat berat
Ya ke sitimewaan ornag ber ilmu dan alim alamah, menjaga ibadahnya terhadap sang mencipta, kita yang kadang hanya pergi sehari saja, kadang sholat terlupakan, padahak di setiap jalan bertemu dengan masjid dan musholla,
Saat sakit apa lagi, makin berat menjalankan kewajibannya, Umi Zahra dan Abah Hasan, yang bisa di katakan sakit berat, tapi tetap on time saat menjalankan kewajibannya
Umi Zahra sholat di atas kursi roda, denga begitu khusuk,
Zula biasanya kalau Umi sholat dia istirahat dan mengambil ponselnya untuk membalas chat dari Maulana, karena mulai kemaren Zula sudah bilang sama Maulana untuk menghubunginya lewat chat saja, karena dia fokus dengan mbah Uminya
Di tambah Umi Zahra dzikirnya cukup lama sama seperti Abah Hasan dan Abah Uminya juga
Di butik Aliza sangat terkesima dengan kemewahan di butik Uminya ini, yang sekarang di kelola oleh Zula
Dan sekarang bahkan beberapa waktu lalu, Zula menambah koleksi produk kecantikan yang baru saja loncing beberapa waktu lalu, produknya sendiri atau usahanya sendiri yang di pasarkan memalui Online dan di pajang di sana sebagai pelengkap saja, barang kali ada custemer yang minta mencobanya
" Pengunjungnya rame banget ya Mas" Ucap Aliza yang melihat banyaknya pengunjung yang hadir malam ini, secara weekand ya, jadi cukup rame
Mulai dari kalangan anak anak, anak muda para mahasiswi yang mencari baju muslim kekinian
Secara ya, Zula adalah sosom instagrameble yang OOTD nya sesuai denga stailis anak muda saat ini
" Adek mau yang mana?" tanya Al memberi kebebasa pada Aliza
" Borong boleh?" tanya Aliza sengaja
" Boleh dong, mau apa aja boleh" jawab Al santai karena dia juga asal ngambil dan tidak membayar, toh ini punyanya juga
Walaupun yang menjelankan Zula, tapi sebagian hasilnya selalu di bagi rata dengan Abang dan orang tuanya
Seperti perusahaan perusahaan lainnya, dan bisnis yang berkembang di bidangnya
Secara otomatis keuntungannya masuk ke Rekening masing masing, sesuai persentase yang sudah di tentukan
__ADS_1
" Bercanda mas, Adek cuman mau tau dan mau lihat butik milik Zula seperti apa" jawab Aliza sambil matanya mengelilingi koleksi dari Butik tersebut
Sampai akhirnya ada salah satu pegawai datang menghampiri mereka
" Maaf ibuk ada yang bisa kamu bantu?" tanyanya sopan
Al dan Aliza menoleh pada soson wanita yang berhijab dan memakai sragam butik Zula
" Eh mas Al, maaf maaf, silahkan mbak, saya kira siapa tadi, silahkan pilih sendiri aja ya mbak, sekali lagi mohon maaf" ucap pegawai itu ramah dan saking kegetnya dengan kedatangan Al, jadi merasa gak enak
" Eh gak apa apa mbak, saya justru kebingungan, boleh minta tolong?" jawab Aliza yang justru mibta bantuan pada Sang pegawai
Sang pegawai mengangguk dan menemani Aliza memilih beberapa produk Zula
Al mulai jenuh karena dengan di temani pegawai Zula seolah keberadaan dirinya tak di anggap lagi, sampe 30 menit Aliza belum juga memilihnya
" Sayang... Mas kebelakang dulu ya" Ucap Al pamit
" Kemana?" tanya Aliza kaget
" Mungkin di ruang istirahat di belakang mbak, ada kok ruangan mbak Zula di sana" jawab Sang petugas dan Aliza akhirnya mengangguk
Setelah menemukan beberapa pakaian yang sekiranya muat buat dirinya, Aliza pamit dan minta di anterkan kebelakang, takut kalau nyasar sampe soalnya sangat besar butiknya
Kini Aliza sudah bersama dengan Al yang ternyata sedang menyantap beberapa cemilan dan minuman yang di sediakan oleh mbak yang bagian CS di butik tersebut
Aliz duduk dan mulai mengajak ngobrol Al kembali dengan kemewahan yang Keluarga suaminya miliki
" Mas... Karyawan Zula banyak banget ya Mas" ucap Aliza kagum
" Di sini?" tany Al balik dan Aliza mengangguk
" Banyakan di pusat dong sayang, di tempat produksi apa lagi, " jawab Al yang tau akan semua karyawannya
Karena lebaran kemareb dia pernah merekapa ada puluhan ribu, bahak ratusan ribu karyawan abah Uminya di semua bisnis yang mereka miliki
" Di pusat di sebelah mana?" tanya Aliza kepo
Karena disinya yang sangat polos dan gak peduli harta kekayaan dari suaminya jadi gak tau menau bahkan seolah gak mau tau
" Ada di KDS, "jawab Al dan Aliza mengangguk
" Mas rekap apa yang sebel dan capem baca dan ngetik semua nama karyawan yang sangat buanyak itu" tanya Aliza tiba tiba polos
" Idih siapa yangmau rekao sayang, Abang cuman salin aja nama mereka, hanya tau jumlah ya, untuk mengirim hampers lebaran, kan tau data serra alamatnya, untuk langsung di kirim" jawab Al dan Aliza mengangguk
__ADS_1
" Abah sama Umi gan bangkrut kalau harus mengirim hampers segitu banyaknya Mas,?" tanya Aliza makin kepo