
Al samgat kaget dengan ucapan Aliza yang begitu cepat mengucap kata pisah,
Al menatap dan memper erat genggaman tangan Aliza yang masih menangis sesenggukan
" Ya Mas, maaf.... Kita pisah aja" ucap Aliza dengan hati yang sangat hancur
" Adek..." ucap Al tegas
" Adek gak mau, gara gara Adek, semua nama baik keluarga Mas hancur, dan tercoreng" tambah Aliza lagi
" Gak boleh ngomong gitu, " ucap Al dengan nada tinggi
Aliza makin menjadi tangisannya, dan Al langsung mendekap Aliza di pelukannya
" Huuu....huuu...... Hiks hiks" tangisan Aliza cukup membuat Al sakit hati apa lagi ada muka Yasmin di hadapannya
Al merogoh ponselnya, dan menelfon Zula untuk datang sekarang ke Kampus,
Untung saat ini Zula juga sudah mengabarkan kalau sedang berada di lokasi resepsi, untuk cek lokasi persiapan Resepsi Al dan Aliza
Karena hari ini Hari minggu, yang mana yayasan PTIQ BNT tetap masuk dan libur di hari jum'at, jadinya Zula yang libur kerja lanjut survai
" Kekampus sekarang" ucap Al dengam Zula di balik telfon dan mengakhiri panggilannya
Zula kalau udah tau nada bicaranya abangnya seperti itu, udah pasti hal penting dan siap meluncur ke lokasi tanpa nunggu lama
Al menatap sadis Yasmin sambil tetap memeluk Aliza, dan kemudian berjalan menggandeng Aliza ke luar ruangannya
" Al..... Jawab" teriak Yasmin saat Al pergi
Al enggan menoleh apa lagi menatap Yasmin, tapi Al justru berjalan menuju lapangan yang sudah rame dengan para pendemo
Suara huru hara sudah makin rame dan memanas, mereka gak sadar kalau yang di demo adalah pemilik kampus tempat mereka belajar di sana,
Memang perkara jelek dan bodoh itu cepet kali nularnya dan cepet kali ramenya, berbeda dengan perkara yang baik dan membanggakan, rame sebentar lanjut redup
Al masih menggandneg bahkan mendekap Aliza dalam dekapannya, yang masih menangis dengan tubuh yang sepertinya tak berdaya lagi
Semua mahasisa mahasiswi memenuhi lapangan bahkan tempat parkir kampus yang ada di sana, bahkan para dosen sendiri gak bisa mengatasi hal itu
Al meminta mic dari pihat oprator kampus untuk menenangkan suasana
Aliza sudah semakin lemas gak berdaya, sedibully bullynya dia paling di abaikan oleh teman temannya, dalam arti di jauhi tidak sampe membuat rame satu kampus seperti ini
" Assalamualaikum wr wb" ucap Al membuka dengan pandangan yang jauh berbeda dari biasanya
Pandangan Murka sudah Al tampakkan, dengan tatapan tatapan tajam menghadap ke semua orang di sekitarnya
__ADS_1
" Waalaikumsalam wr wb" jawab mereka serempak
" Siapa yang mengadakan demo seperti ini?" tanya Al tajam
" Siapa?" bentak Al lagi membuat semuanya jumbul karena kaget dengan bentakan Al
Yasmin baru saja sampai di sana, dan justru tidak ada rasa takut sama sekali, dan kebetulan Ilyas tidak ada di kampus saat ini, sedang di tugaskan Al di luar
Dan beberapa detik kemudian keheningan terjadi, dan Pas Zula sampe di sana dan keluar dari mobilnya
Zula menunggu sejenak, tentang huru hara di sana, dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi
" Maaf sebelumnya bapak, Kami hanya mau mempunyai pimpinan yang benar benar menjadi contoh dan teladan bagi kami" ucap salah satu mahasiswa yang mewakili
" Betul betul betul" sorak semuanya
" Maksud kalian apa?" tanya Al lagi
" Nih...." ucap Salah satu mahasiswa yang tepat di hadapan Al dengan melihatkan ponselnya
" Dan bapak berdosa membawa wanita yang belum mukhrim bapak" ucap Lagi makin riyuh
" Buka Undangan yang sudah menerima" ucap Al lagi
" Baca betul betul, matanya di buka, bukan mata hati ke burikan yang di buka" ucap Al lagi karena saking kesalnya
" Aliza gak pantas jadi istri pak Al, dan menjadi pelakor" ucap Yasmin justru makin kompor
" Pelakor siapa? Siapa istri Bang Al yang di rebut sama Kak Liza?" saut Zula dari balik kerumunan para Mahasiswi
Zula sambil Naik ke atas podium tempat Al menyapa para mahasiswanya yang sekarang mendemonya
" Istri bang Al yang mana yang di rebut kak Liza" tanya Zula makin tegas dengan membawa mic yang di minta dari Al
Mata Zula melirik ke sebelah ada Yasmin yang sepertinya terlihat paling antusias sendiri, karena tadi Yasmin yang mengatai Aliza sebagai pelakor
" Ibu Yasmin S.Ag, yang terhormat, perkenalkan saya, Nazula Lailal Musthofa, Adek perempuan dari bapak Muhammad Haidar Al Musthofa," ucap Zula bersalaman
Zula bukan orang yang mudah di permainkan, Zula melihat huru hara semua ini tau siapa yang ber ulah, siapa yang menjadi biang keroknya
Zula masih menjabat tangan dengan Yasmin yang sangat syok menddengar pengakuan Zula di depan semua orang
Pengakuan yang seharusnya belum di umumkan, tapi untuk menyelamatkan kakak iparnya, dia rela membuka siapa dirinya
" Syok kan? Dan saya yakin semua yang ada di sini juga Syok, terutama para alumni BNT yang pernah membuli Gue" tambah Zula tentu membuat semua orang tercengang
" Gue gak mau umbar aib orang di sini, Allah menutupi aibnya tapi dia membuka sendiri, yang cerdas bisa mengerti, apa yang gue katakan saat ini" ucap Zula lagi dan membuat huru hara terdiam tanpa ada yang bersuara
__ADS_1
Mereka masih berfikir entah kemana mana, bukan hanya mahasiswa, bahkan para dosen di Sana juga masih bertanya tanya dengan benak hatinya sendiri sendiri
" Pesan saya bu Yasmin yang terhormat, intropeksi diri, dan kenapa Abang saya enggan menerima anda kembali, dan membuat sekenario seperti yang anda ketahui" ucap Zula santai tapi mak jlep bagi Yasmin
Al masih mendekap Aliz dan mereka semua akhirnya tau siapa Aliza sebenarnya, hubungan Aliza dan Al yang sebenarnya, dan juga siapa Zula sebenarnya
Aliza yang ada di dekapan Al, tiba tiba melemas dan pingsan,
" Sayang sayang...." panik Al saat Aliza pingsan
" La, buka mobil Loe, bawa kakakmu ke Rumah sakit sekarang" ucap Al pada Zula
Dan dengan sigap Al membopong Aliza ke mobil Zula, dengan melewati mahasiswa dan mahasiswi yang masih berkerumun
Seperginya mobil Zula, semuanya bersorak pada Yasmin yang ada di pentas sana
" Pecat pecat pecat" ucap semua Mahasiswa pada Yasmin
Dan Al kini masih sangat panik dengan Aliza yang belum juga terbangun dari pingsannya, hingga sampai mereka di rumah sakit terdekat
Aliza langsung di larikan ke ruangan UGD, dan langsung di tangani
Al makin panik bahkan justru sampe nangis karena merasa sangat bersalah,
Aliza masih belum siuman juga, sampe dokternya keluarpun gak bisa jawab apa apa, hanya membawa sempel darah dari Aliza untuk di tes ke laborat
Aliza di pindahkan ke ruang VVIP, untuk menunggu hasil lapnya
" Mas..." panggil Aliza saat siuman
" Iya sayang" tanggap Al cepat
" Kita pisah aja ya" ucap Aliza masih ketakutan, karena tadi saat kedatangan Zula dia sudah lemes gak berdaya, dan bahkan gak faham apa ucapan Zula juga
" Kita bunuh diri aja sama sama sayang" jawab Al ketus karena gak terima
Dan di tengah pembicaraan yang penuh ketegangan itu datanglah salah satu suster yang membawa hasil labnya
Al menerima dan membacanya, sedangkan Aliza terus menangis meratapi hidupnya, yang nanti kedepannya seperti apa kalau memang harus pisah dengan Al
Al masih membaca hasil lab semuanya, tanpa melepas genggaman tangan Aliza sama sekali
Setelah itu Al kembali menaruh kertas tersebut dan tersenyum serta mencium tangan Aliza yang masih terus menangis
Al berdiri dan membawa Aliza kembali dalam dekapan pelukan hangatnya
" Gak boleh ngomong gitu sayang, dan jangan pernah ngomong seperti itu lagi, apapun yang terjadi kita hadapi sama sama, katamu mau mencermin dari Umi Jihan, ayo dong semangat, jangan sedih sedih kasian Al Junior ini nanti" ucap Al lbut dengan ending mengelus perut Aliza yang masih sangat datar itu
__ADS_1