Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Model


__ADS_3

Sore harinya kini Aliza dan Al sudah berangkat ke Bandara, Aliza mengantarkan Aliza saja, mobil Al nanti di tinggal dan di titipkan di bandara, dan Aliza di jenput Zula setelah pulang kerja


" Mas pergi dulu ya, jaga diri baik baik, jaga kesehatan, jaga anak kita" ucap Al sambil mengelus perut Aliza yang masih rata


" Jangan lama lama" ucap Aliza manja


" Haduh.... Iya sayang..." jawab Al seolah gak tega meninggalkan Aliza


" Besok pulang" ucap Aliza lagi


" Waduh... Hehehe.. Belum bisa dong sayang, besok baru sampe sayang" jawab Al sambil memeluk Aliza


" Besok aja baru mendarat, gak apa apa ya" ucap Al lembut


" Hati hati jaga diri,jangan lupa makan, dan makan sendiri, adek jauh gak bisa nyuapi" ucap Aliza lagi karena biasanya Al kalau sedang sibuk lupa makan dan harus di ambilkan dan di suapi oleh Aliza


" Iya sayang... Sayang mau pulang ke rumah Mas Farhan gak apa apa, selama Mas di luar negri, nanti minta antar sama Zula " ucap Al menawarkan barang kali kangen dengan keluarga dan gak nyaman dengan mertua


" Enggak lah... " jawab Aliza masih dalam pelukan Al


Dari Jauh Zula datang menghampirinya karena dia sudah pulang kerja dan kini menghampiri Aliza untuk pergi


" Romantisnya yang mau di tinggal jauh, " ucap Zula pada mereka dan Aliza melepaskan pelukannya


" Temani mbaknya ya La, Abang pergi dulu," ucap Al saat Zula bersalaman dengannya


" Tidur minta di temani juga?" tanya Zula lagi


" Mau gak?" tanya balik Al


" Gue takut nanti perut mbak Liza ke pancal sama Gue, kasian dong calon ponakan gue" jawab Zula santai


" Ya udah, bobok sendiri ya sayang, dari pada teranjam nanti anak kita" ucap Al dan Aliza tersenyum


Setelah pamitan dan saling pelukan Al berburu untuk pergi dan melambailan tangannya saat menuju ruang cek in


Setelah itu Aliza dan Zula kembali ke mobil untuk pulang, tapi sebelum pulang Zula mengajak Aliza mampir sebenatar ke butik untuk mengecek


" Kita kemana dek?" tanya Aliza yang belum tau tentanh butiknya


" Kebutik dulu ya mbak, gue mau ngecek dulu," jawab Zula sambil konsentrasi dengan jalanan yang begitu padat


" Itu butik punya siapa dek?" tanya Aliza polos


" Punya keluarga Mbak, sebenarnya punya Umi, tapi sekarang gue yang pegang, namanya aja Jihan Aulia, collec, " Jawab Zula sambil menunjuk ke arah plang besar nama Butiknya


Sesampainya di sana, Aliza dan Zula masuk dan di sambut oleh karyawan yang sangat ramah


" Ante sini dong" ucap Zula memanggil Sintia


" Iya sayang... Gimana?" tanya Sintia mendekat


" Gimana? Udah nemu modelnya?" tanya Zula lagi


" Belum Cah ayu, kamu aja ya, " ucap Sintia


" Jangan dong tan, kalau Umi dulu iya lah, Ula sibuk kerja" jawab Zula gak mau

__ADS_1


" Lha ini mbaknya" ucap Sintia lagi


" Dia?" tanya Zula dan Sintia mengangguk


" Hem.... Di gorok bang Al, Ula Tan" jawab Zula gak mau


" Lho ini istrinya Al?" tanya Sintia pangkling


" Ya Allah... Kemaren beda sama yang aslinya" jawab Sintia dan membuat Aliza tersenyum


" Coba nanti Ula promoin di IG lah, atau entah nanti gimana" ucap Zula sambil duduk santai


" Eh dek... Coba loe hubungi, Yasmin deh, mana tau minat dia buat model di sini" ucap Aliza mengusulkan sahabatnya yang bahkan membencinya


Zula tidak langsung menjawab dan justru menatap Aliza heran


" Mbak Serius?" tanya Zula pelan


" Iya dia dulu kan model, dan endosrmant, jadi kayaknya dia berbakat deh dek" ucap Aliza memberi saran


" Hem... Coba mbak yang ngomongi berani gak?" tanya Zula lagi


" Gue gak kenal sama dia, gak kenal dekat" jawab Zula lagi


" Hem... Gimana ya, nanti gue coba deh bilang sama teman gue lainnya mana tau mau menyampaikan, gue takutnya nanti gue di kira sok sokan sama dia, " jawab Aliza masih bimbang dan Zula mengangguk


" Okey... Mudah mudahan mau lah, mayan untuk tambah tambah lahiran" ucap Zula yang tau kondisi keluarga maupun perekonomian Yasmin dan Ilyas tentunya


" Gimana mbak Liza mau gak? Baju yang mana?" tanya Zula menawarkan baju untuk Aliza


" Enggak lah dek, orang yang di siapkan Abangmu aja masih banyak yang belum di pake" jawab Aliza dengan halus


" Gak apa apa, gak suruh bayar kok gratis di sini" ucap Zula lagi


" Iya sayang.. Namanya butik sendiri" jawab Aliza dan Zula menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Udah pulang aja yuk, nanti di cariin Umi, " Ajak Aliz dan Zula mengangguk


" Nanti Ula kabari ya Tan, masalah model" ucap Zula sebelum pamit


" Kamu aja La, udah deh.. " ucap Sintia lagi karena sedari kemaren belum menemukan model yang cocok


" Wani piro?" jawab Zula dan membuat semuanya tertawa, secara berapapun nilainya juga semua yang bayar perusahaan


Dan dia sendiri yang bayar karena itu miliknya, sebenarnya kalau Zula sendiri justru buget dan jatahnya malah utuh tanpa potongan model yang tentunya bukan hal murah menjadi brand ambasador di sebuah produk


Bisa jadi Zula dan pihak perusahaan berani mengeluarkan buget yang sangat mahal untuk membayar model tersebut


Setelah pamitan Kini Zula dan Aliza sudah berada di perjalanan, saat tiba di halte rumah sakit, Zula melewati Heny yang dia kenal, masih menunggu bus untuk arah pulang


" Berhenti ya mbak, sepertinya itu kak Heny" ucap Zula berniat berhenti


" Siapa dek?" tanya Aliza


" Mantan Bang El" jawab Zula dan Aliza mengangguk


Pas kebetulan mobil Zula berhenti di depan halte

__ADS_1


" Bentar ya mbak, Gue turun dulu, mau Ngajak bareng dia, tapi kita drama jangan kaget kalau gue nanti di kenal sebagai istrinya bang El" ucap Zula dan membuat Aliza menahan tawa dan menggelengkan kepalanya


Nazula turun, dan menghampiri Heny dan kemudian beberapa saat kemudian Zula kembali datang dengan Heny


" Maaf ya mbak di belakang, ini ada kakak ipar di depan soalnya" ucap Zula ramah


" Gak apa apa, saya juga makasih malah di beri tumpangan segala, udah ngerepotin" jawab Heny lembut


Heny yang dulunya cukup sinis dan sebal dengan kabar El yang sudah menikah dan mempunyai istri Zula, pernah merasa kecewa, pernah ikut sakit hati dan seolah gak terima,


Tapi Heny sangat bijak, apa lagi wejangan dari orang tuanya, karena kita tidak bisa merubah takdir yang Allah berikan, dan akhirnya Heny pasrah dan ikhlas dengan apa yang ada di depannya, menerima kenyatan kalau sampai saat ini dia belum bisa membuka hatinya untuk orang lain


Dan Harus ikhlas dan sabar melihat mantan yang sudah berkeluarga, kedua putra Zain dan Jihan cukup baik, sehingga mantannya sulit untuk melupakan,


" Enggak repot mbak, sekalian jalan, " jawab Zula sambil melajukan mobilnya


Mereka lanjut ngobrol dan saling berkenalan antara Aliza dan Heny, mereka ngobrol santai di sepanjang perjalanan


" Jadi mbak Heny kerjanya dari jam berapa sampai jam berapa setiap harinya?" tanya Zula sambil nyetir


" Kalau besok kan hari ahad ya, saya libur, makanya saya pulang kerumah, karena senin saya sif malam, jadi ada 2 hari di rumah, kerjanya sehari 8 jam, gak tentu tergantung sifnya, pokonya 3 sif, pagi siang malam, setiap minggu berganti jadwal sifnya" jawab Heny ngobrol mengenai pekerjaan


" Jadi gak seharian penuh ya mbak?" tanya Zula lagi dan Heny mengangguk


" Terus anak dan suaminya gimana mbak?" tanya Zula lagi


" Saya belum bersuami mbak, masih gadis" jawab Heny jujur apa adanya dan gak perlu di tutup tutupi lagi


" Hah.... Serius?, tapi kata bang El?" ucap Zula kurang percaya


" Hehe kuliah belum selesai mbak, ini aja masih Coas, belum berani untuk nikah, belum menemukan yang tepat, dulu dr. El, cuman tau saya punya tunangan, dan mungkin dr. El mengira kalau saya sudah berumah tangga sepertinya" jawab Heny yang saat ini mulai belajar apa adanya


" Jadi selama ini tinggalnya?" tanya Zula lagi


" Saya mah ngekos mbak, kalau bolak balik pulang jauh, jadi kos aja, cuman kalau pulang bawa motor sendiri saya masih gak berani" jawab Heny lagi dan Zula mengangguk


Dan dari benak hati Zula justru mempunyai ide untuk mengajukan Heny sebagai model BA nya, karena dari postur Heny cukup pas dan menarik


" Hem... Maaf selain di rumah sakit mbak Heny kerja di mana lagi?" tanya Zula lagi


" Kalau gak kerja malam, atau sift malam saya biasanya ikut ngajar ngaji sih di pesantren, samping kosan, saya dulunya sambil mondok di sana, tapi karena saya coas jadi gak bisa izin keluar malam, jadi saya paling ikut ngaji saja di sana, ikut bantuin nyemak setoran" jawab Heny santai


" Wah masyaallah... Bu dokter Hafidzoh nih jangan jangan" ucap Zula yang belum tau seluk beluk Heny


" Terinspirasi sama Umi Jihan, ibu mertua kalian" jawab Heny malu malu


Kemudian Heny lanjut bercerita tentang Umi Jihan yang namanya tidak surut di pesantren bahkan sampai angaktannya El yang modok di sana


" Umi keren ya mbak" Ucap Zula ikut bangga


" Mbak Heny kira kira kalau saya kasih tambahan kerjaan mau gak? Lumayan lah untuk beli sabun " ucap Zula mencoba menawarkan


" Apaan mbak? Saya gak bisa apa apa lho mbak" jawab Heny semakin akrab dengan Zula


" Di butik kami kan lagi butuh BA nih mbak, untuk produk atau colleksi baru di butik, kami kekurangan model, rencana mau cari 2, dan saya perhatikan mbak cocok deh, gak sibuk banget sih, nanti jadwal pemotretannya kami ngikut mbak aja deh, jam kosongnya, aman lah" jawab Zula menjelaskan


" Hem.... Gimana dek, saya kurang pede depan kamera lho" jawab Heny masih berfikir

__ADS_1


" Santai aja, nanti ada yang bimbing kok, mau ya" ucap Zula meyakinkan


__ADS_2