
Keesokan harinya Kini Zula sudah sampai di Kantor dengan mengendarai mobil milik Uminya,
Walapun belum punya SIM Tapi Zula nekat untuk membawa mobil sendiri
" Tumben bawa mobil sendiri, biasanya di antar sama draver misterius" ucap Ryan pada Zula yang tepat di sampingnya,
Karena tak sengaja Zula mereka tiba bareng dan berjalan ke lobi bareng
Pasalnya selama ini Zula memang di antar jemput El maupun Al yang menunggunya jauh dari pintu lobi kantor
" Loe tanya gue" tanya Zula lagi
" Emang di sebelah gue siapa kalau bukan elo gendruwo" ucap Ryan langsung ngegas
Soalnya Zula ada aja nanya gitu, jelas jelas di sebelahnya cuman ada dia, masak iya tanya yang lain
" Kali aja, kan kalian sejenis" jawab Zula menjengkelkan dan langsung berjalan masuk meninggalkan Ryan
" Gila ya tuh anak, pagi pagi udah cari gara gara aja, " ucap Ryan dan berjalan masuk kedalam
" Kalau gue pemilik perusahaan ini udah gue putusin tuh anak" kesal Ryan lagi sambil menggerutu
Zula tidak langsung kedalam, dan justru menghampiri Nadia dulu di Meja resepsionisnya
" Pagi pagi udah ngomel, ganteng ganteng ati ati nanti mukutnya miring" ucap Zula yang dengar gerutu Ryan
Ryan kembali menghentikan langkahnya dan menghadap ke Zula yang asyik berdiri dengan Nadia
" Bentar lagi clayen datang, segera siapkan proposalnya, dan bawa keruang meeting" ucap Ryan tegas dan meninggalkan Zula
" Wani piro?" jawab Zula nyeleneh dan langsung naik lift duluan tanpa menunggu Ryan, karena pintu segera ia tutup
Ogah kali bareng se lift dengan musuh bebuyutan yang hanya suka marah marah
Walaupun kesal dan mereka seperti kucing dan tikus, Zula tetap tanggung jawab pada tugasnya dan itu yang bisa mengganti dan meredakan rasa kesal Ryan pada Zula
Dan Zula itu sosok yang profesional kerja di mata Ryan, walau serjng cek cok, tapi saat meeting atau menghadapi clayen Zula cukup memberi kekompakan padanya
Sebelum Ryan sampai di ruang meeting Zula sudah ada di sana bahkan sudah menyiapkan semuanya dan tak lama kemudian clayenpun datang
Kemudian meeting berjalan dengan lancar, semua sudah Zula persentasikan dan lanjut kerja sama yang baik dengan clayennya
Setelah itu Clayen pamit dan tinggal Zula dan Ryan saja yang ada di sana
" Kurang baik apa coba, Gue udah bikin proposal, persentasi, dan menyiapkan semuanya, dari pertama meeting sampai selesai, dan Elo yang dapat nama, gitu aja gue masih loe anggap musuh" ucap Zula menyindiri Ryan secara terang terangan
__ADS_1
" Gue gak pernah anggap loe musuh ya, " ucap Ryan mengelak
" Ngajak debat tiap hari apa?" ucap Zula lagi
" Ya udah kali ini kita berdamai ya,..." ucap Ryan sambil mengulurkan tangannya
" OGAH, berdamai sama elo, sebelum gue rebut posisi elo" jawab Zula langsung pergi
Sengaja Zula membuat Ryan panas, karena ucapan yang menjengkelkan dari Zula karena itu yang di takutkan Ryan selama ini
" Wek....." tambah Zula setelah pergi dan agak jauh
Ryan kembali mengepalkan tangannya baru aja mau berbaik hati, Zula justru ngeprank dia
Ryan pun ikut keluar dan akan kembali ke ruangannya
Di situasi lain, Jihan dan Zain dalam semobil akan mengantarkan Jihan untuk priksa merumah sakit,
Awalnya Zain menawarkan kalau akan bawa dojter serta alat medisnya kerumah tapi Jihan menolak, karena dia juga pengen mengecek keadaan rumah sakit setelah hampir 10 hari lebih tak di kunjungi
Jihan masih terlelap, karena entah bawaannya dia pengen tidur terus, kalau gak makan mutah tidur, kayak tadi pagi Jihan habis muntahkan semua isi perutnya setelah sarapan,
Dan setelah itu tidur lagi, karena Zain yang menyuruhnya istorahat, sebelum berangkat ke RS, Zain pun meminta Jihan untuk kembali makan, tapi lagi lagi mutah kembali dan akhirnya Jihan meminta gar segera berangkat cek up ke rumah sakit
" Makasih sayang, sudah setia pada Abang yang dulu selalu menyakiti hati Adek" ucap Zain sambil tersenyum dan terus memandang wajah Jihan yang masih terlelap
Zain dan anak anaknya tadi sudah berjanjian mau berjumpa di rumah sakit, apa lagi Zula yang sangat antusias dan nanti akan ikut menyaksikan di saat Uminya priksa USG
Dan tiba saatnya mereka sampai di parkiran khusus di rumah sakit milik mereka sendiri
" Sayang... Bangun yuk.." ucap Zain lembut
Jihan menggeliat kecil, dan merubah posisi wajahnya
" Sayang... Kita udah sampe ayo bangun" ucap Zain lago sambil mengelus pipi Jihan
Jihanpun perlahan membuka matanya dan tersenyum karena di setiap dia bangun pasti ada wajah tampan suaminya
" Udah sampai sayang?" tanya Jihan dan Zain mengangguk dan tersenyum
" Bisa jalan sendiri, apa mau abah gendong?" ucap Zain dan Jihan cemberut
" Umi masih kuat jalan sendiri" jawab Jihan dan Zain tersenyum
Zain kemudian membuka seat belt Jihan, dan lanjut keliar dan berputar untuk membuka pintu untuk Jihan
__ADS_1
Setelah itu mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruangannya, lebih tepatnya ruang perawatan khusus keluarga Zain dan Jihan
" Terakhir Abah nganter Umi kapan ya?" tanya Zain terlupa
" Kapan hayo, ya Pas Hamil Al lah, seumuran Al" jawab Jihan dan Zain tersenyum
" Dulu pas Umi hamil El dan yang lain, siapa yang nganterin Umi priksa?" tanya Zain lagi
" Sendiri dong, orang berani kok" jawab Jihan santai
Zain makin mengeratkan gandengan tangan Jihan, sambil menyusuri lorong lorong rumah sakit
Banyak pegawai dan petugas rumah sakit yang di setiap langkah Zain dan Jihan sering mengangguk sambil menanggapi sapaan dari para karyawan mereka
" Lho say...." ucap Melisa saat melihat Jihan
" Assalamualaikum Say.." ucap Jihan dan di deketi oleh Melisa yang nyengir
" Pak Zain" ucap Melisa menyapa Zain dan Zain memgangguk
" Tumben ke sini, mana nih sragamnya Jas putihnya ?" gurau Melisa
" Ah Elo say, " jawab Jihan dan Melisa tertawa
" Kenapa nih? mau ngecek apa gimana?" tanya Melisa lagi
" Mau cek up Mel" jawab Zain mewakili Jihan
" Ha... Kok cek up, bu dokter sakit apa?" tanya Melisa kaget
Zain menjawab dengan isyarat tangnya yang membiat gundukan pada perutnya
" Hah.... Yang bener say?" kaget Melisa lagi dan Jihan tersenyum
Melisa langsung antusis bahagia dan memeluk Jihan erat saking bahagianya
Pasalnya Melisa tentu mendengar semua curhatan Jihan setelah mengetahui semuanya, bahkan program kehamilan Jihan sebelum dan saat di Swiss juga tentu sudah Melisa dengar dari mulut Jihan sendiri, yang terkadang sharing pada kedua sahabatnya itu
" Bentar jangan jalan, pake ini " ucap melisa sambil membawakan kursi roda
" Gak usah Mel, gak enak di lihat yang lain, anati di kira apaa lagi, dan malah makin heboh seisi rumah sakit" jawab Jiban menolak karena gak mau jadi pusat perhatian, apa lagi dia yang sudah berusia Dan sebagai pemilik rumah sakit
Di kantor Zula izin sejenak, karena ingin menyusul Abah Uminya
" Pak Ryan, saya permisi sebentar ya, mau keluar" ucap Zula seakan bersikap sopan agar dapat izin dari Ryan
__ADS_1