Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Rendah Hati


__ADS_3

Zain semakin bingung dengan tangisan Jihan, Jihan sudah terbiasa muntah seperti ini, bahkan lebih parah dari ini juga pernah sampe di bawa ke rumah sakit


Menuangkan muntahan pada tubuh Zain itu sudah jadi hal biasa selama Jihan hamil ini, tapi Jihan tidak sampe nangis seperti ini


" Kenapa sayang?" tanya Zain lembut dan Jihan masih ber DERAI AIR MATA


" Udah sayang, diem ya, Umi gak lagi mikirin yang aneh aneh kan?" tanya Zain lagi masih mendekap Jihan yang masih menangis


" Hiks... Ya Allah..." tangisan Jihan terus pecah dengan dirinya yang terus memeluk Zain juga


Zain terdiam dan berfikir sendiri karena gak tau apa yang terjadi sebenarnya,


Cukup lama Jihan menangis, dan Zain tidak bersuara hanya mengelus pundak dan juga kepala Jihan dengan lembut


" Ya Allah..." ucap Jihan lagi dan Zain terus mengelus kepala Jihan dengan lembut dan sesekali, menyisipkan anak rambut Jihan yang menutupi wajahnya


" Umi kenapa selemah ini ya Bah" ucap Jihan tiba tiba


Jihan berfikir kalau di kehamilan ini dia sangatanja dan lemah, jauh dari kehamilan sebelumnya


" Aduh sakit.. Hiks hiks hiks.." tangis Jihan terus pecah sambil menekan dadanya yang masih merasakan kesakitan


Zain faham apa yang Jihan rasakan, dan sudah peka dengan kata sakit yang Jihan ucapkan ini


" Maaf sayang.. Maaf" ucap Zain yang ikut menitikkan air mata


" Dulu Umi kuat, dan bahkan pura pura sehat agar tetap bisa bekerja" ucap Jihan lagi mengingat masa lalu penderitaannya


Di mana di kehamilannya yang sebelumnya, 3 kali hamil dia harus kuat montang manting, jatuh bangun dan harus terlihat sehat karena harus bekerja demi anak anaknya


Walaupun badannya sudah gak sanggup lagi, makan gak terasa, waktu tidur tersita banyak, muntah datang setiap saat, tanpa ada yang membantu dan menemani apa lagi yang memanjakannya seperti ini


" Harus selalu pura pura tersenyum agar terlihat bahagia" tambahnya lagi begitu berat rasanya dulu

__ADS_1


" Dulu abah kemana? dulu abah ngapain aja? hanya bisa dan merasakan nikmat cara buatnya, kenapa abah tidak ada di samping Umi dulu, Kenapa abah dulu jahat sama Umi" ucap Jihan kembali menangis dan memukul dada bidang Zain


Zain tidak bisa berkata lagi, Zain ikut menangis dan menyesali perbuatannya dulu, yang menjadikan istrinya sebagai korban keegoisannya, korban robeknya hati akibat lisannya yang pernah bisa di jaga


" Maaf sayang... Maaf, maafkan Abah, yang begitu berdosa" jawab Zain lirih dengan terus mencium kepala Jihan


Zain gak pernah tersinggung saat Jihan mengungkit masa lalunya, itu memang sangat menyakitkan, bahkan dia sendiri masih terasa sakit di mana saat teringat Jihan yang terlalu cuek padanya, Jihan yang tidak menganggapnya ada


Tapi untung istrinya adalah Jihan, yang mana di saat Zain yang salah besar, yang sudah membuat hati Jihan hancur berkeping keping, dan bahkan sempat emosi dan egois tidak menyapa Zain, tapi Jihan tetap bertahan , bahkan mengakui semua kesalahannya pada Zain, dan minta maaf


Zain sempat membayangkan andai saja istrinya bukan Jihan, Zain gak tau gimana nasib rumah tangganya, nama baiknya bahkan keluarganya, dan mungkin Zain saat ini bukan Zain yang di kenal sebagai pengusaha sukses, atau Kyai yang terkenal, tapi mungkin hilang nama baiknya


Karena prestasi seseorang, dan kebaikan seseorang itu pasti akan redup seketika di saat orang tersebut sekali melakukan kesalahan, baik di nyata ataupun di berita saja


Becik ketitik olo ketoro, begitu pribahasa jawa yang dapat menggambarkan hal tersebut


" Terimakasih ya Umi, sudah bertahan untuk Abah, terimakasih masih selalu menjadi wanita pemaaf yang Abah Punya, terimakasih, sudah menjadi istri terbaik Abah, dan Umi terbaik bagi anak anak" ucap Zain masih mendekap Jihan


Jihan semakin menjadi tangisannya, saat mendengar kata kata yang Zain ucapkan barusan, padahal menurutnya dia bukan wanita yang luar biasa kalau tidak ada Zain di sampingnya


Tapi gak ada wanita yang rela begitu aja di madu, dan di salah salahkan terus menerus, di kata katai terus menerus, apa lagi oleh suaminya sendiri


Jihan bangkit dari dekapan Zain dengan wajahnya yang penuh DERAI AIR MATA


Dan Zain juga ikut bangkit dan duduk menghadap Jihan yang sangat terlihat sendu


Zain meraih wajah cantik Jihan dengan penuh kelembutan, dan Cup....


Satu kecupan mendarat di kening Jihan dengan lembut dan Jihan menggenggem lengan Zain dengan erat


" Maafin Umi, Umi bukan wanita yang sempurna bersih dari dosa, Umi masih banyak salah dengan Abah" ucap Jihan terhenti karena Zain menutup mulur Jihan dangan jari telunjuknya


Jihan bukan lah wanita yang angkuh sombong dengan apa yang dia raih, apa yang dia dapatkan dan dia punya saat ini,

__ADS_1


Semakin hari semakin merasa bersalah, semakin merasa banyak salah dan dosa, apa lagi saat mengingat kelakuannya yang berlebihan pada Zain, sangat membuatnya merasa seperti gombal keset yang gak guna


Ya kehidupan manusia tidak ada gunanya hanya karena di umbul umbulkan saja, apa lagi di iringi dengan sikap angkuh dan sombong terhadap yang lain


Hal tersebut bukan membiat hidup kita semakin mulia tapi tanpa kita sadari justru kita menjatuhkan diri kita sendiri


Padi, semakin tua semakin berisi dan semakin menunduk, kalau udah tua dia berdiri itu kopong artinya


Jihan kembali memeluk Zain erat dan menata hatinya kembali agar tidak selalu teringat dengan masa lalu yang menyedihkan itu


" Ya Allah kuatkan hati hambamu yang hina ini dan jauhkan dari masa lalu ya Allah" ucap Jihan dalam pelukan Zain


Zain membalas pelukannya dan terus mencium kening Jihan,


" Udah ya, jangan nangis terus kasian babynya, " ucap Zain sambil mengelus perut Jihan lembut


Jihan tersenyum dan Zain mengusap air matanya lembut sambil terus memberi kecupan lembut di kening Jihan


" Kita lebay gak sih bah?" ucap Jihan tiba tiba


Ya begitu lah mood bumil kali ini, tiba tiba sedih nangis bahagia bergantian secara tiba tiba


Harus ekstra sama sabar memang pak Kyai Zain kali ini, dapat hadiah di masa tuanya dengan kehadiran dan ke anehan istrinya yang hamil Muda


" Lebay gimana sih? kok lebay segala" tanya Zain lagi


" Ya kita udah tua, sudah waktunya punya mantu cucu, kok masih gini aja, manja manjaan, cengeng lagi Umi, di tambah hamil lagi" jawab Jihan kembali ngedumel dan seolah terlupa apa yang barusan terjadi


" Bagus dong, keromantisan rumah tangga gak bisa di ukur dengan usia pernikahannya, lagian kita mesra aja di dalam kamar, siapa sih yang akan menilai kealayan kita?" jawab Zain santai sembali merangkul Jihan tanpa mau di lepas


Jihan menanggapi dengan senyuman, karena bener juga apa kata Zain gak ada yang lihat


" Umi udah jalan 4 bulan kan hamilny" tanya Zain sambil mengelus perut Jihan yang semakin menonjol

__ADS_1


" Heem.." jawab Jihan ramah


" Udah boleh belum sih Abahnya nengoin, udah puasa lama lho" ucap Zain yang ternyata selama Jihan hamil dia menahan dan puasa


__ADS_2