
Zain dan Jihan saat ini sedang berada di kamar, Zain membaringkan tubuhnya di sebelah Jihan yang miring karena sedang memberi ASI pada Bibi yang hendak tidur nyenyak
" Sayang..." Panggil Zain lembut
" Hem... Kenapa Bah?" tanya Jihan menoleh sedikit
" Masih lama sucinya?" tanyanya lagi
" Gimana?" tanya Jihan kurang jelas
Zain berbalik arah dan mendekat ke arah Jihan sambil meninggikan bantalannya
Di sini makin jelas apa yang sedang di lakukan Bibi, sudah lama dia tidak melakulan hal itu dan rasanya pengen merebut dari Bibi
" Umi masih lama gak nifasnya? Sucinya masih lama gak?" tanya Zain sambil mengelus kepala Jihan
" Kenapa emangnya? Mau jatah?" tanya Jihan balik
" Ya Harus kalau itu, Abah udah gak tahan" jawab Zain lagi
" Dulu tahan bertahun tahun kenapa sekarang enggak?" balik Jihan pada ucapan Zain
" Tahan dari mana? Ngempet sayang bukam tahan" jawab Zain lagi gak terima
" Orang mau minta gak di bukakan pintu gimana coba?" jawab Zain lagi masih gak terima
" Ya sekarang siapa yang mau ngasih coba, kalau siang habis di bentak bentak di maki maki di fitnah fitanah, malam datang minta jatah, enak kali" jawab Jihan membantah keras
" Ya namanya di kendalikan sama setah sayang, Abah juga gak mau, hati Abah ini seolah berontak sayang, bukannya bagia, berontak apa lagi saat Umi minra di pulangkan, rasanya ingin meledak" jawab Zain lagi mengungkapkan perasannya .
" Gitu dulu perasaan Abah kayak apa Sih? Maksudnya kan tiba tiba sebenci itu sama Umi, padahal Umi berjuang demi Abah, tapi Abah malah begitu sama Umi, rasanya di taklukkan makhluk gaib itu seperti apa" tanya Jihan yang sampai saat ini masih penasaran
__ADS_1
Zain mendekat dan mengelus lembut pundak Jihan
" Gimana ya sayang, Dulu tuh Abah rasanya kalau Lihat Umi, lihat El benci banget, " jawab Zain mengakui hal itu
" Bahkan ya saat pulang ke rumah dan saat sadar dari koma, pikiran Abah juga Umi, cuman rasanya pengen ketemu umi dan langsung memaki Umi" tambah Zain dan Jihan mendengarkan dengan seksama
" 10 hari lebih dari rumah sakit Umi gak pulang pulang, rasanya lama banget dan gak tau Umi kerjanya kemana, Abah mau tanya ke kantor juga gak bisa mengendarai mobil sendiri, masih belum boleh sama Rani" jawab Zain mulai bercerita
" Terus selama itu Abah apaain Al bah? Al gak abah benci juga kan?" tanya Jihan malah kepikiran Al
" Enggak... Abah gak benci sama Al, dia selalu di bawa pulang mbak Halimah waktu itu, dan hanya tinggal Abah sama Rani saja di rumah" jawab Zain lagi
" Kikuk kikuk dong kalau gitu?" tanya Jihan sengaja
" Enggak sayang... Abah gak pernah seperti itu selain sama Umi, hati Abah ini masih di jaga walaupun batin Abah dan dhohirnya di kendalikan, hatinya masihterjaga untuk Umi, " jawab Zain lagi
Mereka kalau tidak sama anak anaknya, biasanya makin bisa blak blakan, apa lagi soal kayak gitu yang mana anak anaknya sama sekali gak kenal dengan sosok Rani penghancur rumah tangga abah dan Uminya
" Pengennya hanya sama Umi, kalau dia menggoda pikiranku langsung tertuju pada Umi yang menangis keras, di hadapan Abah" jawab Zain apa adanya
Karena di saat hal itu mau datang pikirannya hanya Jihan, di depannya seolah ada Jihan yang menangis keras
" Abah tuh bukan sepenuhnya di kendalikan sayang, Abah masih sayang sama Umi, tapi saat itu melihat Umi yang hamil besar abah benci banget, apa lagi saat Umi secar dan El prematur ,sampai Abah berharap El itu mati Mi, sangat jahat rasanya, cuman itu bukan kemauan Abah lho Mi" ucap Zain berterus terang dan baru kali ini setelan 20 tahun lebih kelahiran El
" Ya Allah Bah sampe segitunya?" tanya Jihan langsung menoleh pada Zain
" Ya makanya itu, abah ngotot gak mau donor darah, " jawab Zain lagi
" Tapi melihat perjalanan Umi Abah juga gak peduli, Abah memaksa Jihan untuk buabg El, abah memaksa Jihan untuk kembalikan El pada orang tuanya, orang tuanya lho kita" jawab Jihan lagi
" Makanya itu sayang, begitulah sadisnya setan sayang, sebegitu parahnya merusak hati manusia, dan mempengaruhi manusia" jawab Zain mengelus Jihan
__ADS_1
" Alhamdulillah ya Allah... Dulu engkau sudah melindungi aku dan juga anak anakku" ucap Jihan gak kebayang kalau sampai dulu El gak ada
" Udah gak usah di bahas tentang El, umi sakit rasanya kalau saat lihat El menangis, sakit yang dia rasakan Umi ikut merasakan" jawab Jihan lagi teringat saat El yang menangis langsung sesak nafasnya
" lanjut ke lagi, saat jauh dari Umi, berbulan bulan tanpa jatah rasanya gimana?" tanya Jihan lagi
" Ya rasanya ngempet dong Mi, tau gak abah sampe beli guling khusus mi, untuk menggantikan Umi, sampe koprot sama cairan juga" jawab Zain teringat guling pengganti Jihan
" Makanya Abah dulu nekat, gak peduli di marah di pukul dan di caci maki sama Umi kalau habis nyolong diam diam minta jatah" jawab Zain terus terang
" Gak apa apa pikir abah, gue maksain istri gue sendiri, dari pada gue jajan di luar dosa, cari yang halal halal aja, " tambah Zain sambil nyengir
" Yang gratisan?" jawab Jihan lagi dan Zain tertawa
" Ya gak merengkel sih gak mau di kasih nafkah, " jawab Zain menyentil hidung Jihan
" Ya dari pada di ungkit, males mending cari sendiri kan bisa gue cari sendiri" jawab Jihan lagi dan Zain memeluknya
" Paling mama saat apa Bah??" tanya Jihan menggoda Zain
" Saat habis memblak klis Umi, sekali dua kali langsung jadi, dan setelah itu hilabg arah setahun kebih, sampe bertahun tahun ternyata saat itu jadi anak gadis kesayangan Abah" Ucap Zain karena dulu gak tau kehamilan Zula
" Dulu gimana Umi bisa kepikiran untuk menyembunyikan itu, kok bisa, padahal kita juga sering jumpa" Ucap Zain bertanya
" Sedangkan Abah, semua gak ada yang tau kalau Umi hamil Bah, hanya mbaj Della mas imam dan dokter yang menangani doang, " jawab Jihan terus terang
" Karena dalam pikiran Umi, saat semua ornag tau, Umi takut nanti kejadian seperti Al dan El, saat hamil mereka Umi selalu dapat serangan kasar, terlebih Abah kan masih melindungi Rani" jawab Jihan apa adanya
" Terus pas Rani udah di penjara kok Umi gak ngaku sama Abah?" tanya Zain lagi
" Orang kasus semuanya aja Umi yany penjarakan, Abah kan gak percaya sama Umi, nanti takutnya hal yang pernah Umi alami, pas hamil El nanti Abah gak percaya lagi, jadi makin besar urusannya" jawab Jihan lagi
__ADS_1
" Intinya Umi terauma berada di titik terendah umi saat itu, perjuangan Umi yang gak di hargai sama sekali" jawab Jihan sambil meneteskan air mata