Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Pejuang garis 2


__ADS_3

Di kamar Al El dan Il, semua langsung bangkit dari tidurnya yang awalnya mereka santai rebahan sambil main ponsel


" What... Umi Hamil?" ucap ke tiganya bersamaan dan langsung bangkit dan lari keluar secara bersamaan


" Kalian buka juga?" tanya Zula yang kamarnya berada di tengah tengah abangnya


" Iya" jawab Al El kompak


" Ayo kita ke kamar Abah sama Umi yuk" ucap keduanya dan turun ke kamar abah Uminya


Sesampainya di sana mereka mengetuk pintu dan mengucap salam secara bersamaan


Untung lagi tidak ada tamu, kalau sempet ada tamu udah heboh ikut keluar semua, karena kamar Jihan dan Zain berdampingan dengan para kamar tamu yang biasanya di tempati Baha' dan yang lain saat berkunjung


Tok tok tok....


Suara ketukan mereka bertiga kompak seperti akan grebeg kamar


" Abah Umi,.. Bah... Mi..." panggil mereka bersamaan


Yang di dalam kamar tentu kaget, apa lagi Jihan yang masih di peluk mesra Zain dengan DERAI AIR MATA yang tak kunjung berhenti saking bahagianya


Gimana tidak, moment seperti ini udah beberapa kali dia lewatkan, dan penantian panjang setelah 20 tahun lebih akhirnya ada juga


" Siapa? Abah kabari anak anak?" tanya Jihan dan Zain mengangguk dan melepas pelukannya


" Hm... Pantesan heboh, ya udah abah bukain gih" ucap Jihan dan Zain tersenyum sambil berjalan membukakan pintu


Ceklek.... Pintu telah Zain buka


" Assalamualaikum... " ucap Mereka bertiga saat masuk


" Waalaikusalam..." jawab Zain setelah membuka pintu


Al El Dan Zula berlari ke arah Uminya yang terduduk di tepian ranjang

__ADS_1


" Umi beneran Hamil?" kata pertama yang menjadi pertanyaan ketiganya


" Alhamdulillah... tadi dari tes peck iya, tapi kan belum di cek darah dan juga USG untuk memastikan bener apa enggaknya" jawab Jihan menjelaskan


Mereka pun berjalan menghampiri Uminya dan duduk di sebelah Jihan, dengan Zula yang sudah antusias banget karena pengen punya adek


Berbeda dengan Al dan El, penantian panjang mereka kini kayaknya sudah hilang,


Karena mereka merasa saatnya Abah Uminya udah punya cucu, bukan anak lagi, lha ini mereka aja belum kawin malah Uminya yang hamil lagi


" Tapi kayak gitu biasanya gak akurat lho Mi" ucap Al mengelabuhi


" Enak aja, akurat dong, " jawab Zain gak terima


" Gimana dong El" ucap Al menyenggol El


" Kenapa? Ya Gimana Rezeki kan gak boleh di tolak bang" ucap El faham ucapan Al


" Kalian gak terima kalau Umi Hamil lagi? " ucap Zula langsung tanggap


" Seharusnya punya cucu Umi ini" ucap Al bergurau


Jihan yang tau kekonyolan Al dan El pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya


" Betul tuh Nak, Orang ada abah kok repot" jawab Zain membela Zula


" Loe jangan seperti mak mak rempong di luar sana ya bang, yang suka mencibir orang, kalau ada pengantin baru lama gak hamil hamil, di omelin, kapan nih hamil kok gak hamil hamil, giliran hamil cepet, cepet kali, pasti kredit dulu, orang tua hamil di omelin lagi udah tua hamil, seharusnya kan udah waktunya punya cucu, eh hamil lagi, gak malu tuh" ucap Zula menirukan mak mak rempong yang bisanys suka berkomentar


Al El dan Jihan tertawa ngakak melihat reaksi Zula menirukan mak mak rempong tukang ghibah


" Ketawa lagi, Abang mau seperti mereka? yang hidupnya semrawut kalang kabut, suka mikirin orang, " ucap Zula lagi dan Al El berteriak


" Tidak , Now" ucap mereka tegas


" Ya udah, di syukuri apa yang ada, gak usah koment, kalau Umi Hamil ya udah itu rezeki kita semua, kita jadi ada adek, " ucap Zula mendekat pada Uminya

__ADS_1


" Kapok loe bang, kena semprot mak lampir" ucap El pada Al


" Tapi bener juga ya kata Ula El, mereka kalai suka ngomongin orang hamil kayak gak punya imam, yang memberi kehamilan janin dan kehidupan dalam rahim seseorang kan Allah, bukan manusianya " ucap Al menelusuri


" Ya makanya Abang tuh gak punya Imam, " cetus Zula kesal


" Astagfirullahal adzim....x1000" Al beristigfar sebanyak banyaknya


Makanya wahai para readers yang budiman, anugrah rezeki itu bukan kita yang menciptakan, karena ada Allah yang maha kuasa dan berkehendak


Apa lagi soal kehamilan, itu sangat jadi perbincangan sensitif bagi para kaum wanita yang menjadi pejuang garis 2,


Author sendiri dulu pernah mengalami dan menjadi pejuang garis 2, dan rasanya pertanyaan dari pada orang orang tuh menyakitkan, apa lagi kalau " gimana udah lama gak ada isinya,"


Haduh andai bisa di buat melalui aplikasi udah tak buat langsung, kadang orang yang puluhan tahun, melakukan program ini itu, bahkan sampai bayi tabung juga beberapa kali tetap gagal, karena apa Allah belum menghendaki, Allah akan memberi semua yang kita inginkan itu di waktu yang tepat, karena Allah tau dimana waktu yang tepat untuk hambanya


Jadi yang masih menjadi pejuang garis 2, semangat.. Semua akan indah pada waktu yang tepat, Allah maha pengasih dan penyayang pada semua hambanya, jadi semangat dan optimis, untuk terus berkhusnudzon pada diri sendiri dan Allah yang menciptakan


Saranku, abaikan cibiran orang lain yang hanya bisa mengkritik, karena mereka memang kurang kerjaan, dan mereka hanya bisa membuat kita down, jaga hormon kita untuk selalu srong, dan bahagia, karena kesedihan gak kekecewaan akan menjadi pengaruh untuk hormon kita


Cukup di tanggapo dengan senyuman, dan jawaban " Donya ya .... Semoga segera ada" cukup dengan senyuman yang tulus


Okey next...


" Zula boleh elus perut Umi?" tanya Zula lembut


" Boleh dong" jawab Jihan lembut dan Zula tersenyum


" Baby....Sehat sehat ya di dalam perut Umi, ini ada kakak yang menunggumu, kamu nanti perempuan aja ya, biar kakak ada temannya, jangan laki laki seperti mereka, rese" ucap Zula mengajak ngobrol dan mengelus perut Jihan yang masih datar


" Enggak rese deng dek, abang cuman kadang sebel aja sama kakakmu itu" ucap Al membela diri


El pun ikut mendekat pada Uminya yang senyumnya tak surut sedari tadi


" Umi Harus bahagia ya di kehamilan kali ini, Umi sudah merdeka, ada kami yany siap menjaga adek nanti" ucap El entah apa yang membuatnya terbayang gimana perasaannya saat dulu Jihan hamil di masa penjajahan Perasaan oleh Zain

__ADS_1


Semua terdiam dan langsung mendekap Jihan secara bersamaan, Umi yang hebat, Umi yang berjuang demi anak anaknya, Umi yang senantiasa menjadi pahlawan bagi anak anaknya, yang memprioritaskan anak anaknya, yang rela jungkir balik demi anak anaknya, yang rela bertahan dalam penjajahan perasaan, dan sakit hati yang mendalam demi anak anaknya


Yang selalu terlihat ceria di hadapan anak anaknya sampai saat ini


__ADS_2