
Kini Zula sudah kembali ke ruangan tadi, dan giliran el gang masuk untuk memeriksa kondisi Abah Hasan
El melihat ada respon setelah Zula dan Umi Zahra keluar dari ruangan tersebut
Tetesan air mata yang tidak Zula sadari, terlihat oleh El yang barusan masuk
El memeriksa terlebih dahulu kondisi Abah Hasan,
Dan Masyaallah tabarokallah, Abah Hasan mulai ada perubahan, dan sudah melewati masa kritis
El melanjutkan pemeriksaannya, dan mengambil ponsel kemudian menelfon Uminya
El meminta Uminya agar segera menyusulnya karena ada kabar yang barusan ia ketahui
Jihan segera menyusul tanpa mengatakan sesuatu, dan menitipkan baby Bibi pada Zain,
Tak lupa Jihan memakai pakean steril terlebih dahulu dan buru buru masuk keruangan Abah Hasan
" Masyaallah... Luar biasa El" ucap Jihan makin bersyukur dengan perubahan Abah Hasan yang sangat cepat
El dan Jihan mulai memeriksa kembali dan melepas semua jarum serta kabel kabel yang menempel di dada Abah Hasan
Di dalam ruangan keluarga, mereka semua justru panik, karena setelah Jihan menerima telfon langsung sat set pake baju steril dan pergi tanpa mengatakan sesuatu
Mereka semua takut dan panik akan terjadi apa apa sama Abah Hasan, dan mereka semua ikut keluar dan menunggu kabar di depan pintu ruangan Abah Hasan
Padahal ini suatu kabar gembira karena Abah Hasan sudah melalui masa kritisnya, dan tinggal pemulihan serta menunggu kesadaran
" Alhamdulillah...." Ucap Jihan dan El saat sudah selesai melepas semua alat berat dalam tubah Abah Hasan
Dan kali ini Di sana bukan hanya Jihan El dan perawat yang berjaga sebelumnya saja, karena saat ini perawat yang berjaga sudah ganti, dan di gantikan dengan Heny yang masuk sebelum El masuk
Kini Heny membantu El dan Jihan membereskan semuanya, berikut alat alat medis lainnya
Tapi Jihan dan El yang menangani semua, Heny cuman sebagai pendamping saja, walaupun statunya bekerja sebagai dokter, tapi kalau menangani keluarga, Jihan tidak mau sembarangan apa lagi anak magang atau Coas seperti Heny
" Mohon maaf, kalau begitu saya permisi dokter" Ucap Henu Sopan
" Oh baik, terimakasih dokter Heny" jawab Jihan lembut pada Heny yang mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
Tapi senyum manisnya tertutup oleh masker yang ia kenakan
Tuing..... Jihan menyenggol El di sebelahnya yang sedari tadi diam tanpa menyapa Heny
" Tuh.... Kejar dong.." ucap Jihan pada El
" Apaan sih Mi...." jawab El salah tingkah
" Gaya sih El sok jaim... Salah tingkah lagi" Cibir Jihan dan kembali menyenggol El
" Udah Umi keluar dulu mau mengabarkan yang lain" ucap Jihan sambil berjalan ke arah pintu dan saat pintu di buka, Jihan justru
" Astagfirullahal adzim..." kaget Jihan yang melihat Zain tepat di depan pintu
Plak.... Ngagetin aja sih Bah" ucap Jihan memukul pelan lengan Zain
" Gimana Abah sayang?" tanya El gak peduli pukulan Jihan
" Alhamdulillah... Abah sudah melewati masa Kritisnya, dan tinggal menunggu siumannya" jawab Jihan sambil melepas maskernya
" Alhamdulillahi robbil Alamin" ucap mereka semua kompak, tak lain Umi Zahra dan Zula yang sudah ikut menyusul di sana
" Biar mbak sama mas aja Han, dari kemaren mas Baha' sudah, kalian juga habis dari Bajo, jadi kalian istirahat aja, biar kami dulu" jawab Fani yang bersedia
" Okey siap, nanti kami pantau juga Mbak, El biar stanbay di sini malam ini" jawab Jihan lagi yang sepertinya butuh istirahat
" Umi pulang dulu?" tanya Zain dan Jihan mengangguk
" Kasian Baby Bah, Abah sudah mendingan jadi Umi pulang dulu lah, Baby Biar istirahat di rumah" jawab Jihan berubah pikiran
" Ya udah, mau pulang sekarang? " Tanya Zula dari belakang
" Iya lah, biar tidur adeknya, kamu bawa mobil apa radi ke sini?" tanya Jihan balik
" Alpukat... Kata Bang El, mana tau butuh yang lain, kalau pake Al Pukat muat banyak" jawab Zula lagi padahal dia seneng kalau pake yang mini mini
" Okey, kita semua pulang dulu, udah ada mbak Fani sama mas Hamzah istirahat di rumah besok gantian kesini lagi" ucap Zain yang memutuskan untuk ikut pulang juga
" Okey... Kalau mau nengok Abah dulu, El masih di dalam" jawab Jihan dan mereka semua perlahan masuk keruangan Abah Hasan
__ADS_1
Sedangkan Jihan kembali ke ruangan untuk melepas baju sterilnya dan siap siap untuk pulang
Kini mereka semua suda berada di dalam mobil Al pukat, dan kali ini Zain yang nyetir karena mobilnya besar Zain gak mau Zula nyetir
Di rumah sakit, Heny malam ini bertugas khusus di ruangan Abah Hasan yang pastinya akan mendampingi El saja
Entah mengapa, saat melihat Heny El selalu salah tingkah, padahal Heny sudah mulai biasa biasa saja justru El yang mulai berdebar debar di dada
Kini keduanya berada di ruangan yang sama, yaitu ruang tunggu di mana mereka bertugas mengawasi kamar keluarga Zain
Awalnya Heny sendirian di sana, dan El menyusul karena sudah ada Fani dan Hamzah yang menunggu di dalam
" Udah makan belum?" tanya El basa basi
" Udah Dokter, sebelum berangkat makan dulu dong, ini juga bawa bekal kalau lapar lagi" jawab Heny santai karena sudah mulai melupakan hubungan mereka di masa lalu
Walaupun tidak sepenuhnya move on, karena memang sangat sulit dan bahkan sulit banget
Terus terang Heny sampai saat ini gak bisa buka hati sama siapapun, kecuali El, rasa masih dan seolah gak mau pergi, berkali kali dia di tembak lelaki gak ada yang di terima
Bahkan sudah di paksa Bunda Ayahnya, untuk di jodohkan dia selalu tidak bersedia, bahkan di kasih waktu sampai dia wisuda harus sudah ketemu calonnya
" Weh... suka makan ya, gak gemuk gemuk juga" ucap El menciba mengalihkan perasaan gugupnya
" Hahahaha... Masih muda dokter, sebanyak apapun makannya, gak ngaruh" jawab Heny santai
" Enak ya... Gue makin kesini makin mengembang" jawab El sambil melihat tubuhnya sendiri yang makin menjadi
" Kebanyakan Ragi Instan makanya mengembang" jawab Heny bergurau dan El tertawa
" Ragi instan apa sih?" tanya El gak faham
" Hem.... Ya dokter fahamnya alat medis aja, itu bahan kue, gak ada di sini" jawab Heny makin santai
" Oh ya... Lama gak ke RS, tugas di luar apa di mana dokter?" tanya Heny yang baru kali ini melihat El kembali ke RS
" Oh... Frustasi di rumah" jawab El santai tapi Heny malah mengerutkan keningnya
" Kok frustasi, kenapa? Oh ya, bukannya mau nikah juga kan? Kok gak ada kabar selanjutnya, kami kira dokter udah ambil cuti untuk persiapan nikah seperti kabar yang kami dengar, kenapa sih, ada apa, di undur apa gimana, masak sampe frustasi, apa frustasi mikirin persiapannya?" tanya Heny mulai kepo dan cerewet
__ADS_1