
Zula mengerutkan keningnya dan menurunkan jari telunjuk teman Heny secara pelan dan sopan
Prinsip Zula, loe sopan, gue segan, tapi kali ini dia maklum mungkin teman Heny belum tau siapa Zula
Zula seorang yang berpendidikan, mementingkan adab lebih utama
" Maaf mbak, kalau mbk kira gue selingkuhan Bang El, anda salah alamat" jawab Zula tegas
" Gue sayang sama dia, untuk selamanya" Tambahnya memancing esmosi Teman Heny yang sudah melotot
" Kan...!" kesal Teman Heny
" Karena beliau abang gue" jawab Zula sopan
Membuat Teman Heny langsung melotot dan meredup karena malu seketika
" Lain kali kenalan dulu mbak, tak kenal maka tak sayang" jawab Zula kembali mengulurkan tangannya pada Teman Heny
Teman Heny menahan malu dan teman teman El sudah tertawa karena menertawai teman Heny
" Kalau mbak Tanya tentang kak Heny, coba di telfon langsung, apa mau gue telfonin?" ucap Zula malah menawarkan untuk segera menelfon Heny
" Kamu kenal Heny?" tanya Teman Heny balik
" Heny kerja di perusahaannya, sebagai BA" Jawab El menyaut
Teman El dan Heny spontan kaget saat mendengar ucapan El, perusahaan, di usia muda udah punya perusahaan
" Terus dia kok gak kesini kenapa El?" tanyanya saat sadar dari kagetnya
" Gue gak berani ajak dan jemput dia lagi, dia sudah di pinang, gue takut nanti sebagai pengganggu hubungan orang lain" jawab El apa adanya
" Maksud loe?" tanya teman Heny lagi
" Kak Heny udah ada calon suami mbak, jadi mohon maaf, hargai Abang gue, jangan bahas di sini, kak Heny sudah di jodohkan sama orang tuanya, dengan pak Lurah muda di desanya," Ucap Zula menjelaskan
" Udah bang... Yuk pulang yuk, gue laper" jawab Zula mangalihkan karena dia tau gimana rasa hati abangnya itu
" Kamu belum makan neng?" tanya teman El perhatian
__ADS_1
" Belum yang kedua, " jawab Zula karena tadi cuman alasan, dan memang tadi mau makan sungkan sih, secara di hadapan para sesepuh
El akhirnya berdiri, dan tau tujuan adeknya itu, ya mereka saling mengerti dan melengkapi
" Saya ambilkan neng" Ucap Teman El
" Trimakasih bang... Gak usah repot repot, " jawab Zula sopan dan kemudian pamit
" Pulang dulu ya mbak Bang.. " Ucap Zula dan El juga bersalaman dengan nya
Tapi sebelum melangkah Zula berhenti tepat di hadapan teman Heny
" Mbak Bestienya kak Heny?? " tanya Zula dan teman Heny dengan polos mengangguk
" Perhatikan temannya saat sedang bersedih, sedang butuh teman untuk bercerita, jadilah sahabar yang selalu ada untuknya, karena mencari sahabat sejati yang tulus itu susah," jawab Zula langsung pergi karena El langsung menariknya
_______________
Sore harinya,...
Selesai habis asar, El dan para kaum adam semuanya pergi ke makam, untuk ziarah ke makan kakek canggahnya,
Sedangkan Zula kini di rumah mbah Tentenya sedang bermain dengan para sepupu dan saudara lainnya
Di belakang pada sibuk masak, anak seumuran Zula juga banyak yang ikut bantuin di sana keculi Zula yang di larang keras sama Uminya
Bukan karena takut lecet takut bosen dan banyak ngeluh, yang akhirnya menyerah dan buang buang waktu
Mending duduk manis momong adeknya saja , dan bermain bersama mereka
" Lha anak perempuan kok gak boleh bantuin kenapa? Nanti kalau udah menikah gak bisa masak lho" Ucap salah satu tetangga
Dan biasa mulut orang desa lebih lemes dari pada orang kota,
Orang desa selalu nyinyir bahkan sampai sekarang dari dulu Ulfa masih kecil sampai punya cucu besar besar masih aja berlanjut dan parahnya turun temurun
" Orang kota buk, takut tangannya lecet" sambung yang lain
" Ya.. Lecet tingga di obati buk, kalau gak bisa masak tinggal beli, " jawab Jihan santai tanpa mememasukkan dalan hati
__ADS_1
" Suami tuh paling enak makan masakan istri buk, kalau kerumah mertua nanti bisanya apa, kalau gak pernah tau pekerjaan rumah" tambah yang lainnya membantah
" Lha kalau cuman duduk manis doang ya gak berkesan" tambah yang lainnya
" Mertua yang baik, itu mertua yang gak pernah rela menantunya jadi pembantu buk, masalah berkesan dan tidak berkesan, itu tergantung yang mejalani, dari pada berkesan tapi ngomel di belakang kan, mending diem aja, " jawab istri dari Alif
Istri Alif sudah faham sedari dulu, bahkan sudah hafal debgan sikap ornag orang di sekitarnya
Sering kali mertuanya meeanti wanti, dan harus kanfel telinga saat mendengar omongan nyinyir mereka
" Jadi ngapain aja anakmu mbam Jihan? Kalau di rumah gak tau pekerjaan rumah?" tanya Yang lain lagi
" Ya kan pekerjaan rumah lain laon bude, banyak juga, kalau Zula kerjaan rumahnya lembut dari kerjaan kantor ya, itu juga kan pekerjaa rumah, tau lah" jawab Atifa dan Jihan memilih diam
Atifa tau kakaknya itu pasti males dan enggan menanggapi,dia anak Charir yang mau kalah dengan nyinyiran tetangganya
" Jadi gak pernah nyapu masak, ngepel nyuci dong" jawab yang lain
" Gak tau kerjaan perempuan juga?" tambahnya lagi
" Ya Ampun buk... Mau tau atau enggak kan bukan anak ibuk, gak merugikan ibuk, dan bukan ibuk juga yang modali atau kasih makan" jawab Istri Alif lagi
" Ya iya.. Tapi kalau anakku seperti itu udah tak godek mbak"jawabnya malah membandingkan dengan anaknya Jihan
" Kasian banget ya buk anaknya..." Ucap Zula ikut muncul karena sempet dengar saat mau manggil tantenya
Zula sengaja nunggu di sebelah pintu dan ikut menguping ocehan para tetangga Charir itu
" Masak gara gara gak bisa nyapu di godek, sakit lah buk" tambah Zula lagi menjadi pusat perhatian
" Kasian anaknya buk,... " tambah Zula lagi dan ikut nimbrung
" Saya begini juga bukan sengaja ornag tua saya mengajarkan seperti ini, saya bisa kok nyapu, ngepel juga bisa, nyuci baju nyetrika juga bisa, apa soh buk yang gak bisa di lakukan sama santri" ucap Zula sambil tersenyum
Jihan hendak menegur agar Zula diam dan jangan menanggapi, tapi di tahan oleh Atifa biar buat pelajaran untuk ibuk ibuk terangganya biar tidak sering mengurusi orang lain
" Semua santri tuh bisa apa aja lho buk, dari saya kecil sampai besar di sekolah tetap ada yang namanya jadwal piket, karena saya kan sekolahnya bukan di internasional scool, sama dengan anak anak ibuk lainnya yang berangkat agak pagi karena piket, di pondok juga nyuci sendiri saat tukang londrynya sedang tutup, dan masalah masak buk, itu aman sekarang banyak tutorial masak di jutup kalau memang wartegnya tutup , tapi kalau ada rezeki apa salahnya sih buk bagi rezeki ke warung makan, tukang londry dan para ART yang membutuhkan pekerjaan, " tambah Zula panjang dan seolah sedang khotbah di dapur perewangan
" Jadi mohon maaf ya buk ibuk, bukannya saya gimana gimana, tapi menurut saya ibuk ibuk semua rugi dan buang buang tenaga untuk iri pada orang lain, di sholawatin aja buk, siapa tau bisa melakukan apa yang seperti kami lakukan, biar ibuk gak kebawa bawa emosi dan habis tenaga saat menilai orang lain" tambah Zula
__ADS_1
" Takutnya ibuk malu sendiri nanti" tambah Zula dan mengakhiri khotbahnya di dapur