
Saat makan siang di rumah sakit Jihan Aulia hospital, El tidak mangasingkan diri pada yang lain, dan dia memilih untuk makan di kantin rumah sakit
Dulu sebalum Abah dan Uminya pindah ke KDS, tepatnya seminggu yang lalu Mereka sering makan bareng, dan sering Jihan bawakan makanan sehingga makan di ruangannya
Dan beberapa hari ini El memilih untuk makan di kantin aja
El istirahat di jam paling terakhir dan otomatis bangku di kantin udah penuh, apa lagi keluarga dari pasien yang rawat inap di sini juga banyak yang makan siang di kantin
El sudah memesan makanannya, El tidak mau di specialkan sebagai pimpinan rumah sakit, dia ambil menu sendiri dan membawanya sendiri seperti di sekolag waktu dulu
Menoleh ke berbagai bangku tidak ada yang kosong, dan hanya ada satu kursi kosong itu pun di meja tersebut udah ada 3 cewek, atau karyawannya yang sudah duduk di sana
" Yah gimana nih, mau naik lagi juga males cuman makan harus bawa sampe atas" gumam El dan berjalan mendekat kursi kosong tersebut
" Hem... Permisi, boleh ikut duduk di sini? semua udah penuh" ucap El minta pada ke 3 gadis tersebut
Merekapun mendongkak dan melihat ternyata El langsung berdiri
" Oh silahkan dokter" ucap mereka berdua kecuali Heny yang tidak menjawab
Dia cukup kaget kalau yang datang ternyata El, yang seminggu ini cukup mengganggu pikirannya
" Okey terimakasih" jawab El akhirnya duduk tepat di hadapan Heny
El tersenyum lembut pada mereka, dan sekilas tetap melirik pada Heny
" Ayo silahkan di lanjut makannya" ucap El lagi pada mereka
Mereka sangat gugup untuk makan kali ini, gimana tidak sebangku dengan sang pimpinan rumah sakit, mana berwibawa ganteng lagi,
Mereka lanjut dengan makan cukup cepat tidak seperti biasanya, dan fokus pada piring masing masing, sedangkan El dia sesekali terus menatap wajah Heny
Heny ingin kembali memerhatikan El, tapi dia merasa gengsi dan grogi, bayangan waktu SMA kembali melintas di kala El yang sering mengajak Heny makan di kantin bersama ke dua temannya
Bukan teman yang sekarang, tapi teman di pesantren dulu, yang kini mereka juga sudah punya kehidupan masing masing
" Gue ketoilet dulu ya Hen" ucap Teman Heny tiba tiba
Heny pun mengangguk karena hal seperti itu tidak boleh di tahan
" Ayo anter gue" ucap temannya lagi sambil menarik teman satunya
__ADS_1
Otomatis di bangku tersebut hanya tinggal Heny dan El saja
" Eh.... Jangan dong" ucap Heny makin gugup
" Udah gak apa apa, gue gak gigit kok" ucap El santai pada Heny
Heny terdiam dan menghentikan makannya , kemudian menyerutup esnya, tanpa menoleh ke depan untuk menatap El
" Kapan wisudanya?" tanya El tiba tiba
" Masih lama, baru aja coas" jawab Heny lirih
" Kok gak ambil paket sekalian, yang tanpa coas?" tanya El lagi
" Tua sendiri lah, gue masih sama kayak dulu, otaknya tak secerdas otak loe, jadi sejalannya" jawab Heny santai masih tidak mau menatap El sama sekali
" Gimana sekarang, kapan nih nikahnya?" tanya Heny tiba tiba
El hampir seja tersedak tapi El menahannya, dan segera meminum minumannya
" Belom dong, Gue santai kok" jawab El santai
" Enggak sih, gue kemaren transfer nilai ke Swiss, jadi sekalian lulus S2 di swiss, gak jadi nerusin di UI" jawab El vercerita dan Heny mulai mendongkakkan kepalanya
" Lha kenapa?" tanya Heny mulai kepo
" Tapi syok lihat loe udah punya tunangan, pergi jauh sekalian lah, udah gak ada harapan kok" jawab El meluapkan perasaannya 3 tahun lalu
Heny memilih diam dan tidak menjawab sama sekali, karena sejatinya dia saat ini juga masih jomblo
" Kok gitu, bukannya dulu loe juga kan udah ada, kenapa begitu?" tanya Heny balik
" Udah gak usah di bahas, udah masa lalu kan, sekarang kita udah punya kebahagiaan masing masing, jadi cukup jadi bestie aja ya " jawab El yang gak mau bahas lagi,
Lagian Sekarang Heny juga udah berkeluarga menurutnya, dan dia juga sudah punya Ailza jadi, cukup udah buka lembaran baru dan ganti buku
Di kantor tempat Ryan dan Zula bekerja, kini Zula sudah selesai mengerjakan tugas dari Ryan, yang mana dalam pengerjaan tadi, perdebatan sering mereka lakukan, membuat perkejaan mereka semakin lambat
Dan kini keduanya yang sama sama kelaperan sudah berada di kantin yang sama, dan nasib Zula kali ini sama dengan El, yang tinggal ada satu kursi kosong di sana,
Zula sudah tersenyum sumringah, karena akhirnya setelah meneliti dia dapat bangku juga
__ADS_1
Zula berjalan ke sana dan saat tiba di sana, Ryan juga sampai dan
" Loe lagi" ucap Ryan kesal
Zula bodo amat dan akan duduk, tapi Ryan yang tau kalau Zula akan mengincar bangku itu, dia duduk duluan, dan Zula hampir saja duduk di pangkuannya, tapi di tepis Ryan
" Heh... itu tempat duduk gue" ucap Zula kembali memulai peperangan
" Enak aja, gue sampe duluan di sini kok " jawab Ryan tanpa dosa
" Loe cowok seharusnya ngalah dong, " ucap Zula lagi
" Enak aja tiap hari gue loe suruh ngalah terus, " jawab Ryan slow dan mambuat Zula ingin menumpahkan es yang dia bawa ke muka Ryan
" Lagian, ini kenapa gak ada bangku kosong sih, kalia ngapain aja setengah jam yang lalu, jam segini baru ikut istirahat, " omel Zula pada karyawan yang ada di sana
" Udah gak usah dengerin, itu hak kalian, lagian jam istirahat masih lama, dianya aja yang lelet" ucap Ryan mengkompori yang lain
" Gue telat istirahat gara gara loe ya bapak Ryan yang terhormat" bantah Zula cepat
" Terhormat aja manggilnya loe gue, gurumu dulu siapa" jawab Ryan seolah membalas kesantaian Zula sebelumnya
Ryan lanjut makan, dengan nikmatnya bahkan seolah mengiming ngimingi Zula yang terlihat sudah kelaperan
Pertengkaran mereka sudah menjadi hal biasa di perusahaan tersebut setelah setiap hari selalu ada perdebatan di antaranya
Zula pun sudah kesal dan memilih duduk di bawah saja dengan sangat terpaksa, dan bodo amat kepada siapapun
Tapi saat akan duduk, Zula segera di tahan oleh Heri yang kebetulan mau makan juga bersama dengan Beni temannya
" Ayo sama Om aja " ucap Heri yang merasa sangat kasian dengan Zula
Zula ini atasannya, dan akan jadi pemilik perusahaan ini, mereka semua tidak tau, dan takut juga pada Ryan yang cukup tega dengan pembalasan kekesalan pada Zula
Cuman mereka semua belum tau siapa Zula, dan yang mereka tahu, Zula anak baru yang cukup mencuri keirian siapapun
" Makasih Om, " ucap Zula pelan dan pergi meninggalkan Ryan sambil menjulurkan lidahnya
Sebagai orang tua, Heri tentu gak terima melihat Zula di perlakukan seperti itu, apa lagi dia juga punya anak seumuran Zula juga,
Di IPTIQ BNT Yasmin kini berada di ruangan Al, yang mana dia memang ada perlu dengan Al, yang sudah seminggu bekerja sekantor dengan Al Yasmin selalu merasa tertekan banget batinnya
__ADS_1