Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Love you


__ADS_3

Al sebenarnya menahan tawa dengan ucapan Ryan, padahal yang menjadi pemilik perusahaan adalah Zula, yang bener aja Zula suruh mecat


" Yang mana? yang tadi persentasi?" tanya Al pura pura gak tau


" Nah betul tuh anak, songong banget tau gak" jawab Ryan makin kesal


" Bagus gitu, cerdas lho dia kalau memang dia anak baru" jawab Al masih membanggakan Zula


" Iya bagus, tapi songongnya minta ampun, mana setiap hari harus ketemu lagi" jawab Ryan makin murka


" Gak boleh gitu Yan, cakep anaknya, nanti naksir lho" goda Al pada Ryan


" Ogah Al, gue punya pasangan kayak tuh anak, mati muda gue" jawab Ryan ilfil sendiri


Bebarengan dengan Zain yang baru turun dan akan keluar dari Lift, Ryan saat mengumpat


" Kenapa?" tanya Zain tiba tiba


" Eh bapak" jawab Ryan gelagapan


" Gak apa apa Pak" jawab Ryan sopan


Tentu Ryan menyembunyikan sesuatu dari Zain, dan gak akan bahas tentang Zula di hadapan Zain


" Oh... ya Udah, kalau gitu kami pulang duluan ya Yan, " pamit Zain karena sudah selesai


" Oh baik pak, saya juga tinggal beresi berkas berkas saya" jawab Ryan dan mereka berpisah tak lupa bersalaman dan saling mengucapkan salam


Zain dan Al berjalan keluar dan tentunya nelewati Zula juga,


" Abah tunggu di lobi" ucap Zain pada Zula yang masih sendirian


Zula hanya mengangguk dan pastinya akan langsung menyusul abahnya nanti, dia kasian dengan abahnya yang terus terlihat mengalah padanya,


Abahnya yang terlihat tidak tega melihatnya bekerja


Sesaat kemudian Nadia kembali kebangkunya, dengan perasaan sudah tak enak,


Pasalnya dia saat hendak mendekat ada Zain dengan tatapan datar pada Zula, tak seramah dengan karyawannya,


Dan Nadia pikir itu suatu peringatan untuk Zula sebagai karyawan baru


" Haduh Dek, kamu gak apa apa?" tanya Nadia khawatir

__ADS_1


" Gak apa apa kak, kenapa? kakak kok panik gitu" tanya Zula santai dan polos


" Ya gimana gak panik, kamu sebenarnya ada apa sih sama pak Ryan? sampe tarung gitu , baru pertama lho kejadian ini terjadi di kantor ini" ucap Nadia sangat kaget


" Gue gak ngelakuin apa apa kak, gue lho bantu dia" jawab Zula mejelaskan


" Bantu apa? kok sampe ngamuk gitu?" tanya Nadia penasaran


" Dan Loe juga tadi ngapain aja, lama banget, ada apa juga sampe pak Ryan segitu marahnya" tambah Nadia ikut kalang kabut


" Gue bahasanya biasa aja ya, biar akrab, kaku kalau pake aku kamu" tambah Nadia sambil nyengir


" Santai lah" jawab Zula sebelum menjawab


" Gue tadi tuh.." ucap Zula kemudian bercerita semua yang dia lakukan tadi sampai akhirnya kembali kesana


" Kok Loe bisa persentasi, itu gak mudah lho, pake habasa asing tentunya" ucap Nadia makin hedan dan curiga


" Ya makanya itu, si Ryan bikinnya kelamaan, orang bloon kok, udah di bantu bukannya terimaksih, malah ngomel gak jelas, dia takut posisinya gue ambil, makanya marah marah gak jelas, gue juga gak gila jabatan kali" jawab Zula sambil ngomel gak jelas


Nadia terdiam sesaat, dia masih bertanya tanya tentang kampuan Zula, Zula kok sampe bisa membantu Ryan, sedangkan dia yang S1 hanya sebagai resepsionis, lha dia SMA kok bisa ikut keruang meeting


" Tapi bentar La" ucap Nadia mulai menyelidik


" sesuai di ijazah Loebukannya lulusan MA BNT ya, dan itu di IPA, okey bahasa asing semua yang lulus di sana tentu bisa bahasa asing, tapi untuk persentase dan membuat proposan seperti itu gak mudah lho La, " Ucap Nadia mengungkapkan kecurigaannya


Zulapun kikuk dan nyengir kuda


" Dan hati hati kalau loe udah unjuk kemampuan loe, apa lagi depan pak Zain, loe nanti bisa bisa di bawa ke lebih tinggi lagi jabatanmu, " tambah Nadia lagi menakuti


" Ya Syukur Alhamdulillah dong kak" jawab Zula masih cengengesan


" Iya.. tapi gue masih belum percaya, dan sebenarnya loe itu lulusan mana?" tanya Nadia makin penasaran dan Zula kembi nyengir


" Haduh kenapa gue tadi bantuin sih Ryan sih kalau akhirnya seperti ini" batin Zula kepergok sendiri


" Hehe Iya kak, sebenernya gue lulusan S2 di Swiss, jurusan bisnis managemant, " jawab Zulq nyengir


" Hah.... Haa... Ha..." kaget Nadia lemes sendiri


" Lha terus kenapa di CV mu kamu pake ijazah MA?" Tanya Nadia lagi


" Ijazah S2 ku ketinggalan di Swiis kak, lupa bawa" jawab Zula bohong pastinya

__ADS_1


Kini Zain bukan menunggu Jihan, tapi langsung kerumah sakit, dan nantinya El yang akan menjemputnya karena ada suatu hal yang akan di bicarakan dengan Jihan


Dan Kini Al sudah pulang dengan mobilnya sendiri yabg tadi sempet di tinggal di RS, sedangkan Jihan sudah pulang bareng Zain, dan El masih bertugas


Zain sudah mengirim pesan pada Zula sebelumnya, dan Zula kembali meminta di jemput di halte kantor saja


" Mi..." panggil Zain lembut


" Kenapa Bah?" jawab Jihan tak kalah lembut


" Abah mau terus terang" jawab Zain sambil melirik ke arah Jihan


" Terus terang apa sih? Abah nikah lagi?"kaget Jihan pada Zain


" Kalau abah nikah lagi, silahkan abah tabrakkan mobil jni ke semua mobil biar kita sama sama mati bah, " omel Jihan kembali nerocos


" Apa sekalian lempar Umi dari mobil sini, kalau Umi harus mengalami pahitnya kehidupan seperti dulu lagi" ucap Jihan makin memanas


Zain menggelengkan kepalanya dan kembali menepuk jidatnya berkali kali,


Sejak kapan dia nimah lagi, dan sejak kapan dia selingkuh juga, padahal setiap hari pagi siang sore malam selalu bersama, bahkan makan belum waktunya udah di jemput duluan


" Jawab Bah" hentak Jihan sudah hampir nangis


" Astagfirullahal adzim..... Ayo isyigfar dulu Mi" ucap Zain dan Jihan pun mengikutinya


" Udah lega?" tanya Zain dan Jihan mengangguk


Zain mengambil nafas dalam dulu sebelum berterus terang pada Jihan


" Umi diam dan jangan nyaut sebelum Abah selesai ngomong" petingatan Zain berikan pada Jihan dan Jihan mengangguk dan tersenyum geli karena kebiasaan dia yang suka nerocos


" Abah gak kuat lihat Zula bekerja, Abah gak rela anak abah di bagian itu, dan abah gak sanggup, harus pura pura terus seperti dulu lagi saat Umi.menjadi istri Abang tapi di umpeti dari semuanya, Abah udah kapok nanti akhirnya semua anak Abah yang jadi korban, Abah sudah capek mengalah, Abah sudah capek menuruti kemauan konyol anak anak Abah, abah mau kita hidup apa adanya, gak perlu pake drama, Abah selama bertahun tahun ngempet ketakutan Mi, Abah mau kita apa adanya, jangan bikin Abah menyiksa diri abah sendiri, cukup kesalahan terbesar yang abah alami dulu, cukup Umi saja yang jadi korban, cukup hukuman yang kalian berikan pada Abah, Abah gak mampu, abah gak sanggup, kalau harus berdrama lagi, Abah gak mau lihat anak kesayangan Abah duduk sebagai penyambut tamu di depan, tidak semua tamu yang datang itu ramah, dan Abah gak rela anak abah yang dari dulu di bulli kembali mendapat perlakuan jutek dari tamu yang gak bersikap ramah, okey ini lebay ini sepele, tapi abah gak akan pernah rela hal itu, saatnya Zula itu du hargai di hormati dan di segani, buka di anggap remeh dan di rendahkan lagi, udah itu aja titik, tolong Umo bantu Abah ngomong sama Zula, Abah gak tega ngomong dan ngomel seperti yang Umi lakukan pada anak anak" ucap Zain puaaanjaang... Karena takut di selak oleh Jihan lagi


Jihan tidak langsung menjawab, dan malah mengelus pundak Zain lembut, dia bahagia sangat bahagia, memang dari dulu Zain tidak mau melihat anak anaknya bahkan istrinya sengsara,


Dan Zain sebenarnya deg degan juga, takut kalau Jihan membantah dan menolak, karena prinsip El sama Zula itu hampir sama kayak Jihan, keras kepala


" Okey Umi bantu, terimakasih udah selalu memberi yang terbaik untuk anak anak dan juga Umi, Umi sayang abah, Love you" Ucap Jihan lembut


Zain mengangguk dan mengusap air matanya, kemudian membawa Jihan kedalam pelukannya dan menciumnya lembut


" Abah sayang Umi juga, Love you too" jawab Zain lembut

__ADS_1


__ADS_2