
Zula yang terbangun memang langsung duduk, apa lagi perut lapar saat bangun tidur
Dan hal itu membuat tawa mereka semakin rame dalam ruangan Jihan, dengan sikap Zula yang persis seperti Jihan dulu
" Masyaallah, anak lakimu gak ada yang niru kok anak perempuanmu niru ya Say" ucap Ismi masih menuangkan makanan ke piring lain, barang kali Al nanti bangun
" Persis banget kan Is, kalau bangun harus ada kata kata makanan dulu" ucap Zain dan Ismi mengangguk
El masih sibuk mendengarkan cerita Abah Umi dan Tantenya, tanpa memerhatikan piringnya
Zula yang sudah mengecapkan mulutnya, akhirnya merebut piring El, dan langsung melahapnya
" Yah La, kok di ambil" ucap El kaget saat piringnya di minta sama adeknya
" Jangan bangunin singa betina yang kelaperan bang makanya " jawab Zula sambil menikmati makanan nasi jagung plus lauk komplit
El mau gak mau harus kembali mendekat pada Ismi lagi dan meminta jatah lagi, hingga tercipta rumah sakit rasa rumah makan
Zain terus menatap Jihan yang menikmati makanan yang dia masa, sangat lahap dengan muka penuh haru,
Pasalnya hampir 2 bulan istrinya gak pernah merasakan nikmatnya makan, dan selalu muntah, dan ini melihat sangat bahagia, bisa menikmati makanan yang di inginkan
" Abah kenapa? mau juga?" tanya Jihan melihat Zain yang terus memerhatikannya
" Nih pak... Saya ambilkan" saut Ismi cepet
" Udah gak apa apa, lanjut aja, makannya Is, gue masih kenyang, kasian lihat mak mak di depanku ini, 2 bulan gak doyan makan" ucap Zain sambil terus menatap Jihan
" Nunggu di masakin suaminya dulu" jawab Jihan singkat
El dan Zula sedang menimmati makanannya bedua, dan Al tiba tiba terbangun karena terdengar suara dentingan sendok yang membuatnya ingin makan juga
" Enak enak makan gak ada yang bangunin " ucap Al langsung bangkit dari tidurnya
" Kenapa bang ? terbangun karena mencium aroma makanan?" ucap El lagi
" Mana, brisik suara sendok kalian" jawab Al bangkit dan mendekat pada Ismi
" Ada jatah untuk Al kan tan" ucap Al sambil mencari jatahnya
" Ada tuh, udah Tante siapkan" jawab Ismi dan Al langsung mengambilnya
__ADS_1
Jihan yang sangat lahap cukup membuat Zain tersenyum bahagia, tapi dia masih was was takut aja kalau Jihan kembali memuntahkan makanannya dan hilang tenaganya lagi
Seolah kasian, dan dia berharap bisa merasakan apa yang Jihan rasakan, kalau bisa biar dia aja yang merasakan itu, dari pada Jihan,
Dulu dia pernah perasakan, dan hanya tidur duduk dan gak beraktifitas apa apa, dan bayangan rasa itu kembali hadir di saat Jihan sedang lemes dan muntah lagi
" Minum sayang?" tanya Zajn dan Jihan mengangguk
" Ini ya bah yang namanya nasi jagung?" tanya Al sambil makan
" Heem..." jawab Zain singkat dan menganbil gelas dari dekat dispenser
" Enak juga ya, Abah beli kan?" ucap Zula kurang percaya kalau abahnya yang masak
" Enak aja abah masak ya, nanti ada videonya abah kirim" jawab Zain gak terima
" Paling cuman setingan videonya, yang masak orang lain" saut Al yang tidak melihat Umi dan Abahnya saat Video call dengan Alif
" Abah totalitas ya kalau untuk Umi" jawab Zain sambil memberikan air minum pada Jihan
" Udah tinggal makan aja ribut" jawab Jihan setelah menerima air minumnya
" Besok besok biar abah aja yang masak" jawab El sambil menyendok makanannya
Seharian penuh berlalu, Zula sama sekali tidak kembali ke kantor, saat abang dan abah mereka pergi sholat Jum'at Zula juga tetap di rumah sakit enggan untuk kembali ke kantor, dan mengabaikan apa pesan Ryan, dan cerita Irfan yang menyusul Ismi di rumah sakit
Karena kebetulan besok hari sabtu, Zula yang mungkin seharusnya berangkat kerja cuman sebentar juga rasanya agak males
Bahkan sore ini dia sama sekali tidak pulang, apa lagi Umi Abahnya yang tetap harus di Rumah sakit karena Jihan yang belum boleh pulang, harus masih di pasang selang infus dan juga suntikan vitamin
Sebenarnya bisa sih Jihan di rawat di rumah, tapi El yang melarang, dan meminta agar tetap di Rumah sakit dan dia tetap bisa bekerja juga di sana
Dengan kondisi seperti itu, Zula makin males pulang, dan memilih untuk stay di rumah sakit aja, masalah pakaian ganti dan yang lain, dia memilih untuk pegi kw butik untuk ganti baju baru, ah sultan mah bebas, apa lagi mereka karyawan butik yang sudah mengenal Zula sebagai orang dalam cukup welcome, karena sekarang Zula juga ikut andil dalam bisnis butiknya
Di hari berikutnya Zula semaki mager, entah apa yang membuat moodnya kembali kumat, dia mager banget untuk berangkat kerja, apa lagi baju kerjanya juga tidak di bawa, dan hanya ambil baju santai serta gamis santai dari butik
" Gak kerja Zul" ucap Al yang sama sekali belum pulang dan mager juga
" Zula izin ya bah, Zula mager banget" ucap Zula sambil rebahan kembali di pangkuan Al
Apa lagi saat semalam semua menginap tentu ruangan pribadi pemilik perusahaan itu di tambah fasilitas baru dari pihak rumah sakit
__ADS_1
" Iya gak apa apa sayang" jawab Zain tentu mengizinkan
" Terus mobilmu dari semalam di kantor?" tanya Al dan Zula mengangguk
" Gak akan ilang kan?" tanya Zula dan Al pun menjawab dengan anggukan
" Kenapa pada mager gitu sih? kamu juga gak berangkat ke kampus Al?" tanya Jihan heran pada anak anaknya
" Mager mi, " jawab Al singkat
" Masih patah hati dia, Zula ikut prihatin jadi maget juga" saut Zula dan membuar Jihan menggelengkan kepalanya
" Gitu mau sukses, kerja aja males" jawab El yang sudah siap dengan jas putih yang melekat di tubuh kekarnya
" Minta obat mager dong pak Dokter" ucap Zula sambil memainkan ponselnya
" Bangun, mandi, biar cantik, wangi pasti semangat" jawab El sambil mendekat pada Zula
" Mandi aja mager" saut Al singkat
" Mandi juga bukan perkara yang bisa membuat cantik" saut Zula lagi yang sama sama masih asyik dengan ponsel masing masing
" Karena yang bikin cantik adalah?" sambung Al lagi
" Skin care" jawab Zula dan membuat El kesal dan menipuk jidat Zula yang tidak menggunakan hijab,
Ya karena hanya ada keluarganya dia yang sangat super males gerak itu melepas hijabnya juga
Celetuk...
" Tuman, sana mandi kerja di maeah Ryan nanti" ucap El tau akan siapa Ryan dan Zula
" Itu pasal utama yang memvuat Gue males ke kantor" jawab Zula santai dan lanjur asyik dengan ponselnya
Dan benar apa yang di katakan El, di kantor Ryan sudah mulai ngomel gak jelas,
Awalnya akan mengomeli Zula, karena sudah melihat mobil Zula yang terparkir, Ryan pikir Zula juga udah berangkat, dan siap akan memberikan tugas pada Zula dengan tumpukan berkas
Tapi saat di hampiri ke ruangannya, Zula sama sekali tidak ada dan malah dapat laporan kalau Zula izin dengan alasan mager dari Irfan makin menjadi panas membaharanya
Sore harinya Zula hendak mengambil mobilnya di kantor, karena nanti malam kebetulan malam minggu, dan dia berencana mau jalan dengan abangnya, ya sekalian ambil mobil yang sudah menginap 2 hari di kantor
__ADS_1
Kantor sudah sepi karena hari sabtu masuk setengah hari, dan hitungan lembur, saat dia hendak masuk ke mobilnya tangannya segera di cekal oleh Ryan yang kebetulan belum pulang dan mau pulang
" Hayo mau kemana? 2 hari gak kerja, ayo sekarang masuk dan lembur, gue gak mau tau" ucap Ryan sambil menarik Zula untuk masuk ke kantor, padahal Zula kali ini cuman bawa pakaian setelan daster rayon, dan hijab simpel saja, harus masuk kantor gara gara Ryan yang sudah esmosi dari kemaren