
Pengajian El sudah berlangsung, dan tawa dari santriwan santri wati sangat meriah, memenuhi aula yang luar biasa besar itu
Wajah malu malu dari Santri wati terlihat jelas apa lagi dagelan yang El berikan saat menjelaskan pasti makin membuat mereka memanas
Kini El kembali ke kamarnya dan lanjut ber istirahat, dia tidak mendengae suara Jihan atau siapapun, karena sudah bisa di tebak mereka semua sudah pada ber istirahat
Pagi harinya Tepatnya di jam 3 pagi, santri ndalem sudah menyiapkan menu sahur keluarga ndalem, dan bahkan sudah tersedia di kamar lantai 2
Satu persatu anggota keluarga Zain pada keluar dari kamar masing masing, suasana haru biru sudah terasa dari benak Jihan,
Entah mengapa dia tak berani menatap abah Umi mertuanya, tapi ini justru tatapan tetakhir mereka, takut akan kelihangan dimana sosok mertua yabg tiada duanya
Jihan menahan itu sendiri, dia gak berani berkata pada Zain maupun yang lain, dan beberapa kali dia sendiri sudah bermimpi kalau Abah Hasan dan Umi Jihan pamit
Dan beberapa kali Saat Jihan memeriksa Abah Hasan dan Umi Zahra, tak lupa sering mereka memberi wejangan bahkan menitipkan anak dan cucunya serta para santrinya
Kini Jihan memperlihatkan wajah yang entah gak bisa di artika lagi, bahkan gak bisa di tahan lagi
" Kenapa sayang?" tanya Zain lembut saat keduanya ingin keliar kamar
" Gak apa apa sayang.. Ayo sahur" jawab Jihan lembut
" Enggak jawab dulu ada apa? Kenapa wajahnya begitu, habis nangis ya?" tanya Zain menahan Jihan
" Iya umi gak apa apa Abah, Umi bahagia banget akhirnya Umi bisa kembali bertemu dengan bulan romadhon yang penuh bwrkah ini" jawab Jihan lembut dan mengelus pipi Abah Zain
" Beneran? Apa kurang enak badan, ?" tanya Zain lagi kembali memastikan
" Yuk bikin anak Yuk... Sebel Umi, di bilang gak kenapa napa juga" jawab Jihan langsung sewot
" ayo mumpung masih jam... Berapa ini?" tanya Zain sambil melihat arlogi di tangannya
" Baru jam setengah 4, Yuk bikin anam dulu, " ucap Zain makin terpancing
" Kalau itu aja cepet" kesal Jihan mencubit pinggang Zain
__ADS_1
" Beneran lho Mi, baru sekali Mi, masak nganggur lagi seminggu mi, jadi odol bahaya mi" Ucap Zain lagi dan masih menahan Jihan
" Odol odol... " kesal Jihan mencubit lembut si otong di balik sarung
" Ini mencing Lho Mi, tanggung jawab " ucap Zain mencekal Jihan karena memang si otong udah kembali berdiri
" Tau puasangak sih Bah, tahan dulu, habis lebaran aja ya otong pulang ke kandangnya" jawab Jihan dan kembali mengelus si otong
" Gak mau, sekarang bentar aja ya" Jawab Zain paling gak bisa nahan
"Udah berdiri tegak nih mi, tanggung jawab" sambung Zain lagi
" Bodo amat, Umi mau sahur" jawab Jihan langsung menarik kenop pintu
" Mi..." Rengek Zain dan ternyata di depan kamar mereka sudah banyak orang
" Udah tua gak usah rengak rengek Zain" Sindir Baha' yang Faham
Jihan dan Zain tidak menjawab dan mendekat pada mereka semua
Zula sama sekali tidak mengurusi pekerjaan kantornya, bahkan untuk sementara nomer Ryan dia blok, karena kesal gak mau mengerti keadaan
Sering kali telfon sering kali WA untuk meminta segera bernagkat ke kantor, dan masalah butik sudah di pasrahkan untuk para petugas dan bagian masing masing
Abah Hasan dan Umi Zahra sangat menikmati hidangan sederhana itu, bahkan sangat lahab dan habjs banyak
Sehabis sahur mereka kembali ke kamar masing masing, untuk siap siap wudhu dan menunggu adzan subuh
Di Bulan Romadhon semua santri Al Musthofa jamaah subuhnya di Masjid Al Musthofa,
Masjid peninggalan Abahnya Abah Hasan, yang sekarang makin luar dan makin megah, karena sudah di renofadi oleh Zain
Salah satu perusahaan Zain, kali ini bergerak di bikang matrial pembangunan dan juga arsitektur, mau bikin apa saja tentu mudah, secara ya...
Dan masih yang megah itu sudah berdiri sejak 8 tahun yang lalu,
__ADS_1
Semua santri putra putri ikut ngaji di sana, bahkan yang sedang berhalangan mereka tidak ikut jamaah subuh melainkan ikut ngaji kitab di sana, karena itu aturan wajib dan mereka bertempat di bagian teras masjid atau serambi masjidnya yang sangat luas
Bukan hanya subuh saja, saat magrib semua santri juga mengaji di sana, dan yang mengisi Abah Zain sendiri, sehabis itu buka bersama karena ada jatah buka puasa dari ndalem abah Zain dan beberapa donatur lainnya
Kini Abah Hasan sudah berada di mimbar dan sudah siap mengaji, di temani oleh anak cucu dan yang lain
Apa lagi Zula kali ini di minta oleh Abah Hasan untuk berada di sebelahnya
Ngaji sudah di mulai, kali ini mengaji tentang ilmu tauhid, yang cukup dalam, bahkan mengaji ilmu tasawuf
" Wallahu a'lam bis sowah Al fatihah" ngaji usai dan santri santri udah mau berdiri
Karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 6 pagi, saatnya santri mulai kembali dan nanti jam 8 pagi akan di lanjutkan ngaji lagi
" Sebelum ngaji saya tutup, saya mau memperkelankan cucu saya, " ucap Abah Hasan sebelum menutup ngajinya
Seketika para santri kembali duduk di lagi larena mungkin ada pengumuman maupun penyampaian dan mereka juga penasaran siapa cucu yabg di maksud, sedangkan mereka semua sudah faham para cucu cucunya
" Mungkin sebagian besar dari warga sini, santri al Musthofa juga belum mengenal siapa sosok gadis cantik yang ada di sebelah Abah ini" ucap Abah Hasan dengan nada yang santun dan sangat lembut
Abah Hasan menoleh pada Zula yang berada di sebelahnya, atas permintaan Abah Hasan
" Dia ini Nazula Lailal Musthofa, Cucu Saya putri dari Mas Zain, sama mbak Jihan, atau kalian sebut dengan Abah Zain sama Umi Jihan" ucap Abah Hasan resmi membuka dan memperkenalkan Zula
Zula kaget dengan ucapan mbah Abahnya yang mengenalkan dirinya pada semua orang
Mungkin kalau Abahnya sendiri yang memeprkenalkan, Zula akan marah, tapi tidak kalau Abah Hasan yang memperkenalkan padanya
Kini Zula meunduk dalam rangkulan Abah Hasan, dan menahan air matanya
Baru kali ini, ada seseorang yang bahkan memeperkenalkan diri di hadapan umum, dan itu kakeknya, seorang ulama yang sangat di segani masyarakat
Bahkan dirinya dulu begitu hina saat di kenal masyarakat karena status yang sama sekali belum di ketahui kepastiannya
" Dari kecil sama sekali gak pernah pulang kerumah, karena selalu berada di pesantren, dan ini anak perempuan satu satunya Abah Zain dan Umi Jihan, baru kali ini muncul dengan sosok wanita yang sholehah, Ahlul Qur'an, Ahlul kitab, Ahlul khoir, dan mudah mudahan selanjutnya di kenal begitu dekat dengan masyarakat dan para santri, ini cucu Abah Hasan dan Umi Zahra, " Ucap Abah Hasan menegaskan dan merangkul Zula yang sudah berlinang air mata
__ADS_1