
Al kemudian tersenyum menatap Aliza yang sekarang artinya sudah resmi menjadi kekasihnya, atau lawan taarufnya
Hampir 7 bulan, lebih Al dan yang lain tinggal di Ndalem ponpes Al Musthofa, dan sudah hampir lebih dari 4 bulan Al putus dari Helend, tapi Al yang setiap harinya mengajar di ponpes tersebut tidak tertarik sama sekali dengan santri sana, bahkan melirik aja enggak, walau banyak fansnya juga di sana
Dan mungkin karena terbiasa dengan Aliza, dan tau keseharian Aliza, bahkan di hari libur mereka terkadang sering lembur bareng jadi membuat ketertarikan Al pada sosok wanita manis Aliza,
Dan tat kala Aliza yang begitu sabar mendampinginya saat kerja, yang terkadang emosi sendiri dengan ketidak cocokannya pada klayen lainnya, hingga membuat Al kadang emosi sendiri
Tapi sosok Aliza yang tetap sabar dan lembut saat menghadapi Al, apa lagi terkadang sifat jutek Al, bahkan sifat Ameng Al yang tiba tiba diam dan tidak nyaut saat di ajak bicara, sifat cueknya dan dinginnya yang terkadang timbul akibat suatu hal, tapi Aliza tetap sabar dan bisa menghadapinya tanpa adanya rasa baper dan tersinggung
" Makasih banyak... Kamu sudah bersedia untuk menjadi pendangping hidupku nanti" ucap Al akan menggenggam tangan Aliza tapi gerogi dan sadar mereka belum mukhrim
" Hem.. Maaf, saya udah boleh pulang? soalnya udah mau magrib, saya hari ini juga hendak pulang ke Rumah, dan kalau kemalaman takut gak ada angkot" ucap Aliza polos dan masih berbicara formal dengan Al
" Mau pulang ke rumah?" tanya Al lagi dan Aliza mengangguk gugup
" Saya antar ya, jangan naik angkot" ucap Al karena khawatir
" Tapi nanti merrpotkan" ucap Aliza sungkan
" Kamu sekarang bukan orang lain lagi, kan kamu tadi udah nerima saya ?" jawab Al masih dengan bahasa formal
Aliza tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Ayo saya antar, " jawab Al yang sudah berdiri
" Gak apa apa? Merepotkan gak?" tanya Aliza lagi
" Enggak... mau tak gendong sekalian" ucap Al bergurau dan membuat Aliza kaget
" Eh... Ampun, " jawab Aliza spontan langsung berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya
Al menggelengkan kepalanya santai dan mengikuti Aliza dari belakang, sesampianya di luar ternyata sudah ada bapak penjaga yang biasanya membuka dan mengunci ruangan Al
" Pak..." Sapa Aliza ramah
" Iya mbak Liza, baru selesai lembur sama pak Al?" tanya bapak tersebut karena terkadang mereka lembur sampai malam
" Eh iya pak,... saya duluan ya" ucap Aliza lagi
" Iya mbak Liza hati hati" jawab Bapak tersebut ramah
" Pak Al " ucap bapak tersebut saat Al lewat
__ADS_1
" Mari pak Tono" ucap Al sopan
" Oh.. Iya silahkan pak Al" jawab Pak Tono ramah
Tapi Al terhenti, dan kembali menoleh pada pak Tono
" Gimana pak Al, ada yang ketinggalan?" tanya Pak Tono heran
" Hem... Enggak, ini ada sedikit untuk beli susu anak dan sembako buat bapak, saya lagi bahagia saat ini, " jawab Al sembari memberikan uang merah yang entah berapa lembar tidak Al hitung
" Masyaallah... Terimakasih banyan pak Al, mudah mudahan rezeki pak Al makin barokah" jawab pak Tono sopan dan mendoakan Al
" Amin amin... Saya permisi ya pak Tono" ucap Al dan di angguki oleh pak Tono
Al kemudian berlari kecil mengejar Aliza yang sudah jauh darinya, bahkan sampai ke ruangan Aliza yanv ada di ruang TU
Saat Aliza mengambil tas dan berbalik badan ternyata Al sudah ada di depan pintu yang sempat membuatnya kaget
" Masyaallah... Pak" ucap Aliza dan al tersenyum
" Sekalian pulang kan? Makanya saya tunggu di sini" jawab Al sambil tersenyum tampan
" Udah siap?" tanya Al lagi dan Aliza mengangguk
Al membukakan pintu untuk Aliza, karena Aliza sekarang bukan hanya sekertarisnya tapi juga calon istrinya
" Ya Allah, maaf pak merepotkan " ucap Aliza masih sungkan
" Enggak... Ibu Al" jawab Al bergurau dan makin membuat Aliza makin salah tingkah dan langsung masuk ke dalam
Al masih senyum senyum sendiri karena melihat salah tingkahnya Aliza, hingga dia kembali masuk ke kursi kemudia
Al berdoa terlebih dahulu, dan memasangkan seat belt pada Aliza juga, dengan jarak yang begitu dekat sehingga membuat Aliza makin berdebar debar
Mobil Al berjalan, dan Aliza masih terdiam karena gak tau mau ngomong apa,
Hingga di tengah perjalanan bunyi suara adzan magrib terdengar dari mobil Al, karena ada alarm otomatis yang menyesuaikan lokasi dan waktu sholat
Mereka masih sama sama canggung, apa lagi dengan status baru mereka, makin membuat keduanya makin canggung,
" Kita sholat magrib di Masjid dekat minimarket aja ya" ucap Al dan Aliza hanya mengangguk
Tak lama Al berbelok ke salah satu masjid yang dia maksud dan sesampinya di sana mobil sudah terparkir, Aliza kesusahan membuka seat beltnya
__ADS_1
" Jangan diam terus dong, kakunya jadinya ya.." ucap Al sambil mebantu membuka seat belt Aliza
" Saya bingung mau ngomong apa, gugup" jawab Aliza masih gugup
" Masak iya mau gugup terus" jawab Al dan Aliza tersenyum
" Nanti di coba ya" ucap Al lagi dan Aliza mengangguk
Keduanya turun, dengan Al yang membuka pintu untuk Aliza, dan mereka sholat di bagian masing masing, karena tempat sholat yang terpisah antara putr dan putri
Setelah sholat, Al yang keluar duluan berjalan ke minimarket di sebelah Masjid, Aliza yang keluar terakhir menunggu di dalam mobil karena tadi Al sudah mengirim pesan padanya
Cukup lama sekitar 15 menit Al baru kembali ke mobil dengan membawa 2 kantong besar untuk di bawakan ke keluarga Aliza,
Aliza gak tanya apa apa, dan mengira Al cuman belanja kebutuhannya sendiri
" Masih jauh gak rumahnya?" tanya Al pada Aliza saat Mobil kembali berjalan
" Lumayan" jawab Aliza singkat
" Nanti sekalian ya, saya mau bilang sama kakakmu, untuk melamarmu, dan meminta restu" jawab Al karena sekalian jalan dan sat set
" Ha.. Apa ?" tanya Aliza kaget
" Gak usah kaget gitu ah, kalau sering kaget nanti jantungan lho, " jawab Al bergurau dan Aliza kembali salah tingkah
" Boleh kan?" tanya Al lagi dan Aliza menoleh pada Al
" Maaf pak, apa Umi sama Abah Pak Al, sudah menyetujui hubungan kita ini, saya gak enak nanti kalau keluarga Pak Al Menolak saya," jawab Aliza kembali memastikan,
" Maksud saya, alangkah baiknya pak Al bilang sama Umi Dan Abah dulu, beliau setuju gak?" ucap Aloza takut juga
" Itu udah menjadi prioritas saya, sebelum saya melamarmu, sudah saya diskusikan masalah hal ini pada Abah Umi, Jadi.. kamu tenang aja ya, semua akan baik baik saja, dan saat ini giliran saya untuk meminta restu langsung sama kakak kakakmu" ucap Al menjelaskan lembut pada Aliza
" Abah Umi sudah merestui dan semua ikut keputusan saya, jadi kamu tenang aja, Abah Umi yang meminta saya untuk segera bicara dengan kamu, takut calon mantunya di ambil orang" jawab Al membuat Aliza kembali salah tingkah
" Bapak bisa aja" jawab Aliza senyam senyum
" Iya bisa dong Ibuk" jawab Al menanggapi panggilan Aliza yang masih bapak
" Kok ibuk," heran Aliza asal nyeplos
" Kan tadi manggilnya bapak, sekalian dong biar sama Ibuk, jadi bapak Ibuk, panggilan kesayangan" jawab Al santai sambil bergurau membuat Aliza kembali tersenyum ceria
__ADS_1