
" Bagaiamana? Apakah sudah merasa lebih baik dari sebelumnya? "
Ji memeriksakan kakinya terlebih dahulu sebelum ia pergi menemui orang yang dikatakan pak Bobi
" Iya tidak terlalu sakit seperti sebelumnya. Tapi ketika melangkahkan kaki rasa sakitnya tiba - tiba terasa "
Jawab Ji menjelaskan kepada dokter
" Benar, karena kaki yang terkilir akan membutuhkan beberapa waktu untuk pulih total. Anda bisa menggunakan tongkat untuk membantu anda berjalan selama beberapa waktu. "
" Baiklah dokter, terimakasih! "
Ji meninggalkan ruangan dokter yang memeriksanya dan kembali ke ruang Biru
Yudha, Gina dan Vio sedang keluar untuk membeli makanan ketika Ji tiba diruang Biru.
Ji duduk di sebelah Biru dan mulai berbicara padanya meskipun dia masih belum sadarkan diri
" Bi,,, sampai kapan kamu akan terus tidur dan tidak mempedulikan aku yang berada disini sendiri?
Papi, mami dan vio sedang pergi membeli makanan, mereka meninggalkanku sendiri untuk memeriksakan kakiku ke dokter. Kamu lihatlah Bi, kakiku masih sedikit bengkak karena aku terkilir saar mencarimu di dasar jurang kemarin "
"Apa kamu tidak mengkhawatirkan aku?
Aku begini karena kamu. Harusnya kamu sedikiiiiit saja merasa khawatir padaku. Kamu bilang kamu menyayangiku?
Bagaimana kamu bisa mengacuhkam aku?
Bi,,, bangunlah, aku mencemaskanmu. Kenapa kamu tidak peduli padaku dan membiarkan ku bersedih karena melihat keadaanmu seperti ini? "
" Bukankah kamu bilang akan menjaga kami adik - adikmu?
Ku mohon, bangunlah.. sudah cukup kamu tidur hiks...hiks... hiks... "
Ji berkata dengan linangan air mata yang membasahi pipinya hingga dia membenamkan kepala disamping Biru dan meluapkan kesedihannya.
Tanpa sadar Biru menggerakkan tangannya dan mengusap rambut Jingga. Ji tersentak dan langsung mengangkat kepalanya. dengan cepat
" Bi, kamu sudah sadar?
akamu tahu tidak betapa khawatirnya aku padamu? Hiks... hiks... hiks
Kamu jahat sekali Biru! Hiks hiks hiks.
Tunggu sebentar aku akan panggilkan dokter kemari!
Ji berjalan dengan kaki pincang yang disanggah tongkat. dia berteriak di depan kamar Biru
" Dokter,, dokter,, Biru sudah sadar, cepat periksa dia! "
Katanya dengan air mata yang masih membasahi pipinya .
Para suster dan dokter langsung berlarian menuju ruangan Biru.
Papi, aku harus menghubungi papi!
Guman Ji sambil mencoba menghubungi Yudha. Tak berselang lama panggilannya tersambung dengan Yudha
" Halo papi. Bi udah sadar Pih "
Kata Jingga begitu riang
" Benarkah? Kami akan segera kesana! "
Jawab Yudha dan langsung menutup teleponnya
__ADS_1
Dokter sudah selesai memeriksa Biru
" Bagaimana keadaannya dokter? "
Kata Jingga begitu dia menghampiri dokter
" Keadaannya sudah membaik. Tapi dia masih harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemah "kata dokter menjelaskan
" Baik dokter, terimakasih! "
" Kami permisi! "
Kata dokter kepada Ji, yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Ji. Setelah dojter dan suster meninggalkan ruangan. Ji berjalan mendekat ke arah Biru
" Bi, Bagaimana perasaanmu?
Apa ada yang tidak nyaman? "
Tanya Ji lembut
" Aku sudah lebih baik. Ji, bagaimana dengan Mili? Apakah dia baik - baik saja? "
Suara Biru masih terdengar lemah
" Dia,, dia,, kondisinya masih kritis. Tapi dokter mengatakan kalau perlahan kondisinya semakin membaik "
Ji menjelaskan kepada Biru perlahan
" Ini salahku. Jika saja aku tidak membawanya ke perusahaan Indrayasa untuk menyaksikan penyegelan, mungkin semua ini tidak akan terjadi "
Biru terdengar lirih, air mata menetes dari ujung matanya dan membasahi bantal putih yang dia gunakan
" Bi, kamu tenang saja. Mili pasti baik - baik saja. Dan untuk masalah Indrayasa. Beruntung dia melakukan perbuatan ini. Jadi aku bisa melampiaskan kekesalanku mewakilimu kepadanya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Aku dan papi akan mengurusnya! "
Ceklek
Bruk
Tiba - tiba pintu dibuka dengan cepat dan itu membuat Biru dan Jingga terjingkut karena terkejut kemudian menoleh ke arah pintu
" Kak Bi,,, akhirnya kakak sadar juga, kakak tahu tidak kalau kami semua sangat mengkhawatirkan kakak. Lihatlah kak Ji, kakinya sampai terkilir karena ikut mencari kak Bi di dasar jurang "
Vio berlari dan berhambur ke pelukan Biru sambil menangis, di ikuti Yudha dan Gina berjalan dibelakangnya
" Benarkah? Ji, bagaimana dengan luka kakimu? "
Bi menoleh kembali kepada Jingga dan bertanya dengan wajah yang terlihat khawatir
"Tidak apa Bi. Aku hanya sedikit terkilir "
Kemudian Biru menoleh lagi ke arah Yudha dan Gina
" Papi, mami maaf Biru membuat kalian khawatir "
" Tidak apa Bi, yang penting sekarang kamu istirahat untuk memulihkan kondisimu "
Kata Gina dengan lembut
" Aku ingin melihat Mili. Aku ingin tahu bagaimana kondisinya! "
Biru berusaha bangkit dan menggerakan kakinya. Tapi kemudian
Nyut.. Nyut.. . "Aach. Aduuhhhh"
kedua kakinya terasa begitu sakit
__ADS_1
Jingga yang berada paling dekat dengannya langsung bereaksi
" Kenapa Bi? Apa terasa sakit? "
Tanya Ji panik
" Kakiku,, sakit sekali,,! "
Biru meringis kesakitan
" Aku panggilkan dokter! "
Vio dengan cepat berlari memanggil dokter. Tak lama dokter pun memasuki ruangan dan memeriksa kaki Biru
" Apa yang terjadi dok? "
Kata Yudha dengan sikap tenangnya
" Seperti yang saya katakan kemarin. Kedua tulang kakinya mengalami keretakan, jadi tidak boleh banyak digerakkan. Tapi anda semua tidak perlu terlaluI khawatir ini hanya sementara waktu. perlahan kakinya akan kembali pulih. dan berjalan dengan normal kembali! "
Dokter kembali menjelaskan keadaan Biru
" Terimakasih dokter. Bisakah kami membawanya untuk melihat Mili diruang ICU? " Tanya Yudha lagi
" Owh, pasien Mili sudah melewati masa kritis. Nanti saya akan meminta suster untuk memindahkannya ke ruang rawat! "
" Bisakah dia ditempatkan disini juga? "
Tanya Biru kepada dokter
" Baiklah. Saya akan menempatkannya disini! "
" Terimakasih dokter! "
Kata Biru dengan suara lemah dokter hanya tersenyum sebagai jawaban
" Kalau begitu saya permisi. nanti suster akan langsung membawa pasien Mili kemari "
Dokterpun langsung meninggalkan ruangan Biru
Tring..
Ponsel Jingga bergetar dan terlihat itu adalah pesan singkat dari pak Bobi yang mengirimkan alamat tempat Bayu disekap
Jingga tersenyum membaca pesan teesebut
" Papi, bisa temani aku pergi? "
Tanya Ji kepada Yudha dengan senyum oenuh makna yang ia tunjukkan. Tentu Yudha mengerti maksud putri cantiknya karena sebelumnya mereka sudah menunggu pesan dari pak Bobi tersebut
" Tentu saja sayang. Ayo jalan! "
Ajak Yudha kepada Jingga kemudian dia berbalik dan mendekati Gina sambil berkata " Sayang, aku pergi dulu. Kamu temani saja Biru dan Vio! " dan diakhiri dengan kecupan manis dikening Gina
" Baiklah. kalian harus hati - hati " Jawab Gina dengan tersenyum simpul. Yudha dan Jingga berjalan meninggalkan ruangan Biru, menuju gedung tua di jalan D di ikuti Hendri dan beberapa pengawal dibelakangnya.
Semua orang memperhatikan mereka terutama Jingga yang berjalan disamping sang ayah dengan menggunakan tongkat kecil sebagai penyangga
" Papi. kenapa semua orang memperhatikan kita? Apakah aneh jika aku yang menggunakan tongkat ini, berjalan berdampingan dengan papi? "
Jingga merasa aneh dengan pendangan orang - orang kepadanya. Tatapan mereka seperti sedang mencibir dan membenci Jingga
Yudha tersenyum mendengar perkataan putrinya sambil melingkarkan tangan di pundak Jingga
" Mereka melihat mu seperti itu, karena mereka tidak tahu kalau kamu adalah putri dari penguasa kerajaan bisnis. Dan papi sudah memutuskan kalau sebentar lagi semua orang di dunia ini akan tahu mengenai kamu dan Biru. Sudah cukup selama ini kamu dan Biru bersembunyi dari nama keluarga Kusuma. Sekarang semua orang harus tahu siapa kalian sebenarnya! "
__ADS_1