
Ji mengendarai mobil sport terbarunya menuju kantor. Di depan gedung terlihat Adel dan Bina yang juga baru saja tiba, mereka berdua begitu terpesona tak percaya melihat mobil Ji. Tidak hanya mereka berdua saja yang antusias dan terpana melihat mobil Ji, tapi juga karyawan lainnya
" Woow, bu Jingga. Apa kamu benar - benar memiliki mobil ini sekarang? Mobil dengan rekor tercepat didunia. Yang produksinya juga hanya beberapa puluh unit saja. Dan dengan harga yang bukan main, kira - kira 1 unitnya dibandrol dengan harga sekitar 30 - 40 milyar "
Adel begiru antusias mengatakannya pada Ji
" Kamu terlihat senang sekali Del? "
" Aku sangat senang dengan hanya melihat mobil barumu. Bagaimana dengan mu Ji? Sepertinya kamu sama sekali tidak senang?! "
" Entah kenapa.. Aku terus saja memikirkan Ed yang saat ini sedang melakukan perjalanan untuk kembali ne negara A. Hatiku tak tenang. Jantungku terus berdetak kencang tak terkendali. Kuharap tidak akan ada apapun yang terjadi! "
Ji, Adel dan Bina berbincang sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kerja mereka.
Adel dan Bina terus memperhatikan Ji yang terlihat murung selama seharian.
" Aku malah merasa khawatir melihat Ji yang seperti ini. Tidak seperti biasanya dia hanya diam tanpa mengatakan apapun "
Kata Adel kepada Bina dengan mata yang terus tertuju pada Ji
" Benar. Apakah pak Edward belum memberikan kabar, kalau dia sudah tiba disana atau belum? "
Jawab Bina yang juga tengah menatap Ji
" Sepertinya belum. Jika sudah ada kabar tentu dia tidak akan murung seperti ini "
\=\=\=\=\=\=
Ed masih berada dalam pesawat, dia mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Dia terus menatap keluar jendela, memandangi awan yang putih yang seakan dapat dijangkau hanya dengan tangan, lautan yang telihat berwarna biru terang dan daratan yang terlihat hijau. Dia tersenyum memandangi jendela seakan Ji sedang tersenyum riang padanya.
Namun tiba - tiba terdengar suara keras,
Gejug,, pesawat bergoyang tidak stabil
"Aaachhh! "
" Aachh! "
Kini pesawat menjadi riuh dengan suara teriakan penumpang yang panik
" Roger roger. Lapor menara pantau, pesawat kami dengan no penerbangan xxxx dari negara F dengan tujuan negara A kehilangan kendali. Kami meminta petunjuk arah untuk melakukan pendaratan darurat "
__ADS_1
Sang pilot berusaha untuk mengendalikan keadaan dengan melakukan pendaratan darurat. Namun mereka berada di aras lautan. dan kini berusaha menukik tajam untuk dapat mendarat di daratan sebelum pesawat semakin kehilangan kendali
" Para penumpang, harap tenang! Kenakan pelampung yang terdapat di depan kursi masing - masing dan juga alat keselamatan lainnya. Pesawat mengalami sedikit kendala, karena itu kita akan melakukan pendaratan darurat . Harap semua tidak panik dan kapten tengah mengupayakan yang terbaik! "
Terlihat wajah panik semua penumpang dengan teriakan yang semakin kencang
" Aaaccchhh!!! "
Dipikirkan Ed hanya terbayang wajah Ji dengan senyum manisnya ketika bersenda gurau dengannya
" My queen,, maafkan aku, entah aku bisa menepati janjiku untuk kembali padamu atau tidak. Aku selalu mencintaimu. Kuharap ini bukanlah akhir dari kisah kita. Aku ingin hidup bahagia sebagai suamimu! "
Guman Ed sambil menutup mata, dengan air mata yang menetes dan memegang erat pegangan tempat duduknya
Prang!!!!
" Ach! "
Gelas yang di pegang Ji tiba - tiba terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke lantai. Semuanya pecah bahkan melukai kakinya. Ji menatap keluar jendela dan teringat perkataan terakhir Ed ketika di telepon
" My queen, kamu harus menungguku sampai aku kembali padamu! "
" Ed, apa kamu baik - baik saja? kenapa hatiku saat ini terasa begitu sakit? Ku harap tidak terjadi apapun padamu! "
" Ji, apa kamu baik - baik saja? "
Adel dan Bina yang mendengar suara sesuatu yang pecah dan dengan cepat memasuki ruangan Ji untuk melihat keadaannya
" Aku tida papa. Kalian tidak perlu khawatir! " Ji berusaha senyum namun itu terasa sulit
" Apanya tidak papa? Kakimu berdarah Ji! "
Adel terlihat panik melihat darah di kaki Ji
" Benarkah? Oh hanya luka kecil karena terkena pecahan gelas saja! "
***Breaking news
Pesawat dengan nomor penerbangan xxxx yang berasal dari negara F dengan tujuan penerbangan negara A, mengalami kecelakaan. Pesawat tiba - tiba kehilangan kendali dan mengalami ledakan setelah sebelumnya melakukan pendaratan darurat di sekitar laut Biru.
Jumlah penumpang diperkirakan mencapai 100 orang. Berikut nama - nama penumpang pesawat. Saat ini korban meninggal tercatat 40 orang, dengan penumpang yang mengalami luka - luka sekitar 45 orang, baik luka ringan maupun luka parah dan 15 orang masih dalam tahap pencarian
__ADS_1
Bagi anda yang ingin mencari informasi mengenai saudara atau kerabat yang berada dalam pesawat, silahkan hubungi nomor dibawah ini. Kami akan melayani selama 24 jam
Sekian beraking news kali ini. Sampai jumpa***
Wajah Ji seketika berubah pucat setelah melihat berita dari televisi yang ada diruang kantornya tersebut
" Adel, apa yang dikatakan dalam berita itu, tidak benar kan? Pesawat yang Ed tumpangi mengalami kecelakaan? Ed bilang kalau pesawat itu yang akan membawanya ke negara A. Itu tidak benarkan? Dia pasti baik - baik saja kan? tapi namanya tidak ada dalam daftar orang selamat "
Air mata Ji tumpah begitu dia selesai melihat berita, dia terduduk dilantai tanpa memikirkan pecahan gelas yang masih berada dilantai, hingga kaki dan tangannya kini mengalami luka
" Tenanglah Ji, Ed pasti baik - baik saja. Kita akan kesana untuk mencari informasinya. Kamu tenang dulu! "
Adel memeluk Ji. Dia dan Bina saling menatap, mereka turut sedih setelah mendengar berita tersebut
" Ed harus baik - baik saja. Kami akan menikah. Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Aku harus segera pergi ke pusat bantuan informasi "
" Ji tenang dulu! "
" Tidak, tidak. Aku harus segera kesana. Oh tidak papi. Aku harus menghubungi papi. Lokasi jatuhnya sudah dekat dengan negara A. Papi pasti bisa mencarinya! oh tidak, aku harus menghubungi nomor Ed terlebih dulu "
Ji yang panik berusaha berdiri untuk meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja dengan tubuh gemetar
Tuut tuut tuut.
nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan
" Tidak tersambung .. tuan Jendral angkat teleponnya. Jawab teleponnya. Kumohon beritahu aku kalau kamu baik - baik saja! Shit tidak ada jawaban. Papi! sekarang hubungi papi! "
Setelah menghubungi nomor Ed Ji kembali menghubungi Yudha
" Papi. papi. papi! Angkat pih kenapa tidak di angkat? "
Ji dengan derai air matanya terus bergumam
Plak!!
Tamparan Adel yang keras mendarat di pipi Ji membuat dia terdiam menundukkan kepala
" Ji jangan seperti ini! Kamu harus tenang. Kita akan pergi mencari tahu mengenai Ed. Tapi sebelumnya obati dulu luka di tangan dan kakimu. Kita harus mencabut pecahan gelas yang menacap ditangan dan kakimu sebelum lukanya menjadi lebih parah! "
Teriak Adel dengan air matanya setelah melihat Ji yang seperti ini untuk pertama kalinya
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa merasakan luka di tangan dan kakiku? Jika aku tidak tahu apakah dia juga terluka atau baik - baik saja " Ji menatap Adel dengan linangan air mata penuh kesedihan