
Keesokan harinya, Ji memulai rencananya.
" Vi, aku harus pulang dulu kamu berjaga disini. Ingat jika ada yang memberimu minuman atau makanan, maka kamu tidak boleh menerimanya! Kalau perlu kamu harus buat orang itu sendiri yang meminumnya dan memakannya! "
Ji memperingati Vio
" Memang ada apa ka? Apakah terjadi sesuatu? "
Vio merasa curiga
" Tidak ada. Hanya saja kamu harus waspada karena kita tidak tahu siapa yang berusaha mencelakai Leo. Kita harus waspada pada siapapun "
Ji menjelaskan pada Vio
" Baik kak, aku mengerti "
" Kalau begitu aku pergi dulu. Nanti aku kembali lagi dan membawakan makanan untukmu "
Ji berbicara sambil berjalan menuju pintu keluar. Diluar pengawal selalu berjaga, begitu dia melihat Ji meninggalkan ruangan dia memperlihatkan senyum liciknya
"Ini satu - satunya kesempatan untukku "
Dia membeli 2 kopi instan dan membawanya ke dalam kamar rawat Leo.
" Permisi nona, anda pasti lelah. Saya bawakan kopi untuk anda "
Kata pengawal dengan 2 buah cangkir plastik ditangannya
" Terimakasih tapi saya tidak papa. Letakkan saja disitu "
Kata Vio dengan tenang. Vio memperhatikan gelagat pengawal yang biasanya tidak pernah menyapanya ini. Pengawal itupun duduk dan cangkir kopi diletakkan diatas meja
Disisi lain Jek juga mengawasi ruang Leo tanpa diketahui siapapun. Dia mengawasi ruangan itu melalui kamera tersembunyi yang di selipkan Ji pada pot bunga diatas meja samping tempat tidur Leo
" Nona Ji, saya melihat pengawal pria di ruangan tuan muda, tapi saya tidak melihat jelas wajahnya. Anda harus segera kemari! Tuan muda dan nona Vio dalam bahaya "
Kata Jek yang langsung menghubungi Ji ketika melihat pengawal masuk kedalam ruangan
" Biarkan dulu saja. Kamu awasi dulu sampai mereka bertindak, jadi kita punya bukti kejahatannya "
Kata Ji dengan tenang
" Tapi nona.... Baik nona. Saya akan ikuti apa kata nona "
Jek mengakhiri panggilan telepon diantara mereka dan kembali mengawasi ruangan Leo dengan hati yang berdebar karena khawatir terjadi sesuatu
Sementara diruang Leo
__ADS_1
" Nona, bagaimana keadaan tuan muda? "
Tanya pengawal yang memperhatikan Leo, disaat yang sama Vio menukar kopi yang diletakkan di atas meja
" Setelah hari ini dia tidak akan apa - apa. Ini hanya pengaruh obat sehingga keadaannya sedikit kritis. Setelah obat diterima dengan baik oleh tubuh Leo, maka semua akan baik -baik saja. Karena kamu ada disini aku titip Leo sebentar. Aku ingin pergi ke toilet "
Kata Vio sambil berdiri dari duduknya
" Baik nona "
Katanya sambil menganggukkan kepala
Setelah Vio keluar dari ruangan, pengawal itu menghubungi Sandy.
" Halo tuan. Diruang tuang muda sedang kosong. Semua orang sedang pergi dan hanya aku yang berjaga disini "
" Baiklah, aku segera kesana sekarang! "
Sandy yang memang telah menunggu sejak semalam di parkiran mobil dengan segera masuk ke rumah sakit dan naik ke lantai atas menggunakan lift untuk bisa segera sampai ke ruang Leo.
Namun Vio kembali ke kamar sebelum Sandy tiba
" Anda,,, sudah kembali nona? "
Tanya pengawal itu dengan wajah yang terlihat gugup
Kata Vio dengan menganggukkan kepala dan senyum manis
" Sama,,, sama,, nona. Nona minumlah kopinya. Ini sudah aga dingin "
" Kamu minumlah juga! "
" Baik nona "
Pengawal dan Vio mengambil cangkir kopi masing - masing. Vio mendekatkan cangkir ke mulutnya namun tak meminumnya. Dan pengawal langsung menenggak kopi sampai habis, Vio memperhatikan pengawal itu yang perlahan - lahan kehilangan kesadarannya. Vio pun ikut memejamkan mata dan berbaring di sofa pura - pura tertidur.
Tak lama setelah itu. Sandy masuk, dia melihat Vio dan dan pengawal yang tertidur
" Bodoh! Bagaimana bisa kamu juga ikut meminum obat tidur "
Katanya kepada pengawal yang tertidur. Sandy kemudian berjalan mendekati tempat tidur Leo.
" Keponakan ku tersayang, selama ini kamu bernasib baik karena masih bisa selamat dalam penyerangan dirumahmu yang aku rencanakan beberapa tahun yang lalu. Tapi kali ini keberuntungan mu telah habis. Tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkan mu. Karena ayahmu juga telah mati ditanganku. Kini aku akan berbaik hati untuk mempertemukan mu dengan kedua orang tua mu, agar kalian bisa berkumpul dan hidup bahagia di surga. Kamu tidak perlu memikirkan masalah perusahaan, karena aku yang akan mengelola semua aset pribadi milik keluarga Nugraha. Tidak perlu takut, ini sama sekali tidak akan menyakitkan "
Sandy berbicara sambil mengeluarkan jarum suntik dan mengisinya obat, yang akan dia suntikan ke selang infus milik Leo
" Om fikir bisa dengan mudah menyingkirkan kak Leo begitu saja? "
__ADS_1
Vio yang tiba - tiba bangun berhasil membuat Sandy terkejut
" Jadi kamu tidak pingsan? Kamu hanya pura - pura pingsan?! "
Kata Sandy dengan sedikit berteriak
" Jangan terlalu naif paman. Kami ini bukan orang bodoh "
Vio menjawab dengan acuh tak acuh.
" Kamu telah menggali lubang kuburmu sendiri Sandy Nugraha! Kamu fikir sedang berurusan dengan siapa? "
Kata Ji yang tiba - riba masuk ke ruangan Leo bersama dengan Jek
" Siapa kamu? Jadi kalian menjebakku?! "
Sandy terlihat mulai panik
" Kamu tidak kenal aku? Kamu hampir mencelakai adikku, tapi kamu tidak mengenalku? Ayolah, apa akau sangat berbeda dengan foto yang terpampang dimajalah? "
Kata Ji dengan sikap acuh tak acuhnya
" Aku Jingga, kakaknya Vio. Dan tentu sekarang kamu tahu siapa aku. Karena kamu tidak mungkin tidak mengenal orang tua kami. Benar kan? "
Ji tersenyum sinis dengan tatapan mata yang tajam. Kemudian dia berjalan ke arah meja samping tempat tidur Leo dan mengambil kamera tersembunyi itu
" Kami sudah memiliki bukti kejahatan mu. Setidaknya kamu akan mendapatkan hukuman puluhan tahun, atau mungkin kurungan seumur hidup atas kejahatan yang kamu buat sendiri. Tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan nyawa yang telah melayang karena ulahmu "
Ji berkata sambil melihat kamera kecil yang telah dia ambil, dan memberikan isyarat kepada Sandy kalau itu adalah bukti yang dia miliki
Sandy terlihat gemetar, matanya membelalak tajam.
" Tidak mungkin. Semua ini tidak mungkin. Aku sudah merencanakan semua ini dengan sempurna. Bagaimana mereka bisa mengetahui rencanaku? "
Gumam Sandy yang kini wajahnya telah pucat
" Kalian tidak akan pernah bisa memasukkan ku ke dalam penjara. Ini adalah harta keluarga Nugraha dan aku juga berhak mendapatkan harta ini. Fabian sama sekali tidak memberikan ku sedikit saja saham miliknya. Dia menyerahkan smeuanya pada anaknya ini. Yang bahkan kita tidak tahu kemampuannya. Aku lebih baik mati daripada dijebloskan kedalam penjara "
" Ach!! "
Sandy menyuntikkan obat itu pada dirinya sendiri
" Itu lebih baik, karena kamu hanya jadi sampah masyarakat yang tega mencelakai anggota keluargamu hanya demi harta. Bahkan jika kamu tidak bunuh diri, aku bisa saja menghabisimu dengan cara yang lebih kejam dari sebuah racun. Sekalipun kamu mati kamu tidak pantas mendapat kata maaf dari orang yang kamu sakiti! "
Ji menatap dingin pada Sandy yang kini telah tergeletak dilantai
" Aku,,, tidak,, merasa,, bersalah,, sama,, sekali,,, "
__ADS_1
Katanya sebelum menghembuskan nafas terakhir