
" Kamu mau kemana? Ini sudah malam, apa kamu tidak pulang? "Tanya Biru sambil berjalan beriringan dengan Emili
" Tentu saja aku akan pulang. Tapi sepertinya sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati udara malam yang bebas "
Emili tersenyum lembut sambil mengatakannya. Sebelum sesaat kemudian wajahnya berubah murung
" Aku ingin sedikit menikmati kebebasan ku. karena begitu tiba di rumah, mama akan mengajukan berbagai pertanyaan tentang pesta. Juga memberikan banyak aturan yang harus aku ikuti "
Kata Emili dalam hati sambil menundukkan kepala
Biru terus memperhatikan Emili
" Hei, kenapa kamu malah melamun? "
" Aah tidak tidak , siapa juga yang melamun? " Emili dibuat terkejut ketika Biru menyentuh pundaknya
" O iya, sapu tangan mu belum aku cuci. Bagaimana caraku mengembalikannya padamu? "
" Tidak usah. Untukmu saja! "
" Terimakasih, Tapi nanti pasti aku cuci "
Emili menjawab dengan senyum tulus. Dan Biru hanya tersenyum sebagai jawaban.
" Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang. Aku juga akan pulang. Terimakasih telah menemaniku jalan -jalan "
Emili berpamitan kepada Biru dan berjalan meninggalkannya.
"Dia pergi begitu saja? Bagaimana ini? Bagaimana caraku untuk semakin dekat dengannya? Aku tidak bawa mobil, lagi pula dia tidak tahu aku punya mobil banyak. Harus bagaimana ini? "Biru masih diam disana dengan wajah frustrasi..
Tiba - tiba langkah Emili terhenti dan dia berbalik menatap Biru
" Eh apa kamu membawa mobil? Bagaimana kamu pulang? Disini kan susah mencari taksi? "
Senyum diwajah Biru kembali merekah dan wajahnya yang tadi frustrasi kembali tenang setelah berhasil menyesuaikan dengan berbaliknya Emili
" Aku tidak membawa mobil. Tadi mobil temanku yang ku bawa kan masuk bengkel!
Jadi, sepertinya aku akan menunggu orang yang ku kenal untuk meminta tumpangan pulang kerumah "
__ADS_1
" Ehm, dimana rumahmu? Apakah jauh dari sini? Biar aku mengantarkan mu pulang terlebih dahulu "
" Kalau begitu izinkan aku menumpang hingga perempatan di depan! Disana cukup mudah untuk mendapatkan taksi "
" Baiklah kalau begitu. Mobilku diparkir disana " Emili menunjuk ke arah dimana dia memarkirkan mobil kemudian berjalan bersama dengan Biru menuju ke mobil
"Gengsi dong. Masa iya aku harus diantar oleh perempuan pulang ke rumah. Dia hanya tahu kalau aku meminjam mobil teman saja. Bagaimana reaksinya kalau dia tahu aku tinggal dikawasan elit? "
Biru menutup mata sambil menghela napas perlahan
Setelah beberapa lama tibalah mereka di perempatan jalan.
" Disini saja, aku bisa melanjutkan dengan taksi dari sini "
Kata Biru sambil menunjuk ke arah pinggir jalan
" Tidak ingin di antar sampai rumah? "
" Tidak perlu. Jika kamu mengantarku, kamu akan tiba dirumahmu lebih malam lagi "
Emili mengangkat tangannya untik melihat jam tangan
Biru beranjak turun dari mobil Emili dan menunduk melihat ke bagian kaca jendela yang turunkan sambil berkata " Terimakasih atas tumpangannya "
" Sama - sama. Kalau begitu aku duluan ya " Emili melambaikan tangan kemudian menginjak pedal gas dan melesat, meninggalkan Biru sendiri.
Setelah melihat Emili yang semakin menjauh Biru menghubungi Alex.
" Hallo Alex "
" Ya, ada apa lagi Bi? "
Suara Alex terdengat seperti yang malas bicara
" Pulang sekarang. Jemput aku! Aku tunggu di perempatan ujung "
Kata Bi dengan dingin sebelum dia menutup panggilannya
" Tapi Bi, kamu bilang kan,,, Tut tut tut,,, Bi,,, Bi,,, Bi "
__ADS_1
Wajah Alex berubah kesal
" Entah bagaimana bisa aku berteman dengan orang seperti mu " Alex berbicara sambil menatap ponselnya.. Rian hanya tersenyum berusha menahan diri agar tidak menertawakan temannya itu
" Sabar saja bro. Ini bukanlah pertama kalinya si gunung es bersikap seperti itu... Hahaha " Rian berbicara sambil menepuk pundak Alex
" Terus saja tertawa. Nasibmu juga akan sama seperti ku, karena sekarang kamu sudah kembali hahaha" Alex berbicara sambil berlalu meninggalkan Rian dan wajah Rian seketika berubah setelah perkataan Alex
" Benar juga. Karena aku sudah kembali. Pasti dia akan selalu menggangguku. Ach menyebalkan!! "
Gumam Rian sambil menggelengkan kepala
Biru masih menunggu Alex ketika ponselnya berdering. Di ambilnya ponsel dari dalam saku dan terlihat di layar ponsel itu Ji yang menghubunginya
" Halo Ji "
" Bi, kamu dimana? Aku pulang ke rumah mu tapi kamu tidak ada. Apa kamu tidak pulang malam ini? "
Terdengar suara Ji dari ujung telpon.
Karena mereka memiliki sifat yang sama. Jadi percakapan diantara mereka berdua pun terdengar dingin dan datar. Tidak seperti saudara pada umumnya yang saat berkomunikasi dengan saudara akan terdengar hangat dan bersahabat. Tapi terkadang Ji akan bersikap seperti anak kecil kepada Bi. mereka memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan perhatiannya.
" Aku sedang menunggu Alex di pinggir jalan "
Ji mengerutkan dahi mendengar perkataan saudara kembarnya itu " Menunggu Alex? Dipinggir jalan? Apa kamu gila? "
" Hei, yang sopan kalau bicara! Aku ini kakakmu! "
" Cih. kakak? Hanya beda beberapa menit saja! ya sudah, kalau kau pulang hati - hati di jalan "
" Hmn,,, "
sambungan telepon diantara mereka pun terputus begitu saja.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Alex datang. " Akhirnya kamu sampai juga, setelah lama membiarkan ku menunggu di pinggir jalan seperti ini " Bi berkata dengan nada sinis
" Tadi kan kamu sendiri yang bilang akan pulang sendiri. Tiba - tiba malah memintaku untuk menjemput mu. Dasar menyebalkan! "
" Sudahlah! Ayo cepat jalan "
__ADS_1
Biru tidak menanggapi ocehan Alex dan memintanya untuk segera menyalakan mobil. Mau tidak mau, akhirnya Alex mengantarkan Biru pulang