
Biru dan Mili masih bercerita dengan bi Marni dirumahnya
" Non, bibi masih tidak percaya, kalau ini adalah non Mili.. Untunglah non Mili masih bisa selamat... hiks.. hiks... hiks... " Bi Marni berbicara dengan derai air matanya, setelah mendengar kebenaran dari kejadian yang menimpa mereka berdua
" Semua itu benar bi. Maaf karena aku tidak memberitahukan pada bini. Aku yang meminta Jingga kemari dan tidak boleh memberitahukannya pada bibi. Aku tidak mau bibi khawatir "
Mili berkata sambil menggenggam tangan bi Marni
" atapi non jika saja bibi tahu, bibi pasti akan menemani non dirumah sakit! "
" Aku tidak papa bi. Itu semua sudah berlalu. Bi,,,, bisakah bi Marni tidak memanggilku dengan sebutan non lagi? " Kata Mili memohon
" Non Mi... li.... "
Bi Marni berkaca - kaca mendengar kata - kata Mili
" Kalau begitu, bisakah kamu panggil aku nenek? " Mili terkejut dan sejenak terdiam juga, mendengar permintaan Bi Marni, tapi setelah beberapa lama, Mili tersenyum
" Baiklah Nenek,,,, "
Mereka berdua akhirnya saling berpelukan. Bi hanya tersenyum tipis memperhatikan nenek dan cucu itu.
Lalu entah apa yang ada dipikirannya, pandangannya seakan menerawang jauh. Bi termenung dalam dunianya sendiri. Mili memperhatikan suaminya cukup lama kemudian melerai pelukannya dari nek Marni dan mengalihkan pandangannya pada Biru
" Bi,, apa yang sedang kamu pikirkan? " Mili mendekati Biru dan duduk di sofa sebelahnya
" Nenek pergi ke kamar dulu, kalian lanjutkan saja perbincangannya "
nek Marni beranjak pergi menuju kamarnya
" Baik, nek. Selamat beristirahat "
Kata Mili disertai senyum
" Bi,, Kita kembali ke kamar ya? " Biru hanya tersenyum dan menganggukkan kepala perlahan. Mili pun mendorong kursi roda Biru ke kamar mereka. Karena kondisi Biru saat ini yang harus menggunakan kursi roda, mereka memutuskan untuk sementara menempati kamar yang ada di lantai bawah. Dan memindahkan sebagian barang yang diperlukan dari kamar Biru yang sebelumnya di lantai atas
Setelah mereka tiba di dalam kamar. Mili duduk di tempat tidur dan Biru berada di kursi roda dihadapannya
" Bi,,, sebenarnya apa yang kamu khawatirkan? " Mili menatap Biru dengan tatapan yang lembut
" Sunshine,, Apa kamu tidak malu jika harus tetap bersama dengan ku? "
Biru tertunduk menatap kedua kakinya yang saat ini tidak dapat digerakkan
" Kenapa aku harus malu? Lagi pula, dokter mengatakan kalau ini hanya sementara. Kamu pasti akan sembuh dan bisa berjalan seperti dulu. Kakimu tidak lumpuh Bi, kakimu masih bisa sembuh dengan terapi "
Mili berusaha menguatkan Biru yang saat ini sedang merasa terpuruk. Hatinya pun terasa sakit melihat Biru yang dulu kuat dan selalu membelanya kini hanya duduk di kursi roda
__ADS_1
" Bi,, aku selalu bergantung padamu. Ku mohon kamu tetap kuat. Aku yakin kita bisa melewati ini. Kamu tidak sendiri Bi. Ada aku bersama denganmu, ada keluargamu juga yang selalu mendukung mu. Kamu yang sabar ya Bi! Demi aku, demi kita. oke? "
Mata Mili kini mulai berkaca - kaca dan perlahan meneteskan air mata. Biru tersenyum lembut dan menghapus air mata yang mulai membasahi wajah cantik Mili
" Jangan menangis. Aku tidak papa. Aku tidak akan menyerah dengan mudah. Seperti kata papi. Tantanganku untuk bisa dapat pengakuan dari dunia bisnis dimulai saat ini " Mili mengangguk dan tersenyum disela isak tangisnya
" Ayo kita istirahat saja sunshine! "
*****
Keesokan harinya disebuah perusahaan yang cukup besar di kota F, staf HRD sedang menyeleksi CV pelamar yang masuk ke perusahaan. Perusahaan ini sedang membuka lowongan kerja untuk ditempatkan menjadi seorang sekertaris direktur, menggantikan sekertaris sebelumnya yang resign karena menikah.
Surat lamaran yang memenuhi kriteria dipisahkan dan diberikan kepada asisten direktur untuk kembali di seleksi.
Tok tok tok
" Masuk! "
Ceklek, pintu dibuka setelah mendapatkan izin dari dalam ruangan
" Permisi pak. Ini surat lamaran yang menurut bagian HRD cocok dengan kriteria sekertaris untuk anda. Apa anda mau menyeleksi ini sendiri atau saya yang menyeleksi ini? "
Kata Leo, sang asisten direktur
" Biar saya lihat sendiri! "
" Kalau begitu saya permisi kembali ke maja kerja saya! " Leo berkata dengan sopan dan direktur hanya menganggukkan kepala. Kemudian diambillah surat lamaran tadi dan dilihatnya satu persatu.
" Eh! ini,,,, "
Sang direktur terkejut sebelum akhirnya dia tersenyum melihat salah satu surat lamaran kerja dari seorang pelamar. Kemudian dia bergumam
" Violetta Indriani Putri . Kita akan lebih sering bertemu mulai sekarang , gadis jutek nan manja! " Direktur itu tersenyum licik kemudian memanggil Leo
" Leo, masuk ke ruanganku! "
Tak lama setelah panggilannya, pintu diketuk dari luar
Tok tok tok
terlihat Leo yang muncul dari balik pintu
" Anda memanggil saya pak? "
" Masuklah, ini beberapa pelamar yang menurutku akan cocok menempati posisi sebagai sekretaris ku! "
Leo mengambil CV pelamar yang berjumlah 5 orang. dan salah satunya adalah CV milik Vio
__ADS_1
" Baik saya akan segera menghubungi mereka untuk melakukan tes penerimaan "
Direktur menganggukkan kepala dan setelah Leo meninggalkan ruangannya, dia tersenyum sambil bergumam
" Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Sebenarnya, apa yang ada dipikirannya, hingga dia harus melamar pekerjaan di perusahaan orang lain? Bukan milik orang tua atau kedua kakaknya! Gadis aneh! "
******
Trililing Trililing Trililing
" Nomor tidak dikenal? Nomor dari mana? apa dari salah satu perusahaan tempat ku melamar kerja? "
Bio bicara sendiri ketika ada panggilan masuk ke telepon miliknya
" Hallo... "
Vio menyapa lebih dulu ketika dia menerima panggilan masuk
" Hallo,, dengan nona Violetta Indriani Putri? " Kata seseorang dari ujung telepon
" Iya, saya sendiri! "
" Saya dari perusahaan Sanggara Corporation tempat anda mengirimkan surat lamaran pekerjaan. Apa anda bisa datang besok untuk melakukan interview? "
" Benarkah? Baik. Jam berapa interviewnya dilaksanakan? " Tanya Vio begitu antusias
" Pukul 09.00 pagi "
" Baik, terimakasih. Besok saya pasti akan datang kesana! Ec tunggu! Apakah ada persyaratan khusus yang harus dibawa atau dilakukan untuk interview besok? "
Tanya Vio lagi sebelun telepon dimatikan
" Tidak ada. Anda cukup hadir dan mempersiapkan diri untuk interview saja. Apa ada lagi yang ingin Ditanyakan? "
Katanya dengan suara yang begitu tenang
" Tidak ada. Sekali lagi terima kasih banyak! "
" Sama - sama nona "
Mereka pun menutup panggilan teleponnya
"Aaaccchhh,, suaranya begitu lembut dan seksi. Apakah dia pria yang tampan? Kira - kira, dia dari bagian apa ya? Apakah bagian HRD? aduh, ada apa dengan ku. Sampai segitunya aku memikirkan laki - laki yang bahkan tidak aku tahu. Sungguh gila! bisa benar - benar gila aku ini "
Vio menunjukkan ekspresiyang berbeda - beda, seperti tersenyum. mengkhayal dan membuat rambutnya sendiri berantakan..
" Aku harus melakukan persiapan untuk interview besok! Tantanganku dalam dunia kerja akan dimulai saat ini "
__ADS_1