Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Dasar kucing liar menggemaskan!


__ADS_3

Ji terkejut hingga mematung setelah mendengar permintaan Ed


" My queen, my queen! Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya meminta pernikahan kita dipercepat. Apa ada masalah? Toh kita memang akan menikah kan? "


" Ehmnnn,,,Tapikan persiapannya masih banyak yang belum selesai? "


Jawab Ji dengan sedikit ragu - ragu


" Itu gampang. Tinggal kita bilang minta dipercepat saja pada orang tua kita. Mereka pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat "


" Baiklah. Aku setuju kalau rencana pernikahan kita dipercepat! "


Jawab Ji dengan malu - malu


" Terimakasih my queen. Nanti aku sampaikan pada ayah dan ibu atau,,, sekarang saja aku katakan pada mereka? "


" Sudahlah nanti saja! Kamu istirahatlah dulu! Aku masih harus pulang dan bicara dengan papi. Mereka juga pasti khawatir karena aku masih belum pulang kerumah sejak tiba disini"


"Bisakah kamu tetap disini? Aku ingin lebih lama lagi ditemani olehmu! "


" Tidak bisa! Aku masih belum bertemu keluargaku setelah beberapa hari tiba disini.. Besok saja aku kembali kemari untuk menjengukmu. Ya? "


" Sudahlah pergi sana! Kau sama sekali tidak peduli padaku! "


Ed berpura - pura marah dan memalingkan wajah dari Ji


" Kenapa kamu jadi marah seperti itu? Cih, seperti anak kecil saja! Sudahlah aku pergi dulu. Muach! "


Ji dengan cepat mencium pipi Ed lalu berbalik meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Ed tersenyum karena kecupan singkat dari Ji


" Dasar kucing liar menggemaskan! "


Gumam Ed yang masih menatap ke arah pintu padahal Ji sudah tidak terlihat


" Om, tante. Ji pulang dulu. Ed sedang istirahat! "


Pamit Ji ketika telah mendekati Maria dan Erik yang tengah duduk sambil menonton televisi


" Cepat sekali sudah mau pulang? Bukankah tadi tante bilang kita makan bersama? "


Maria berusaha menahan Ji untuk tidak pulang


" Terimakasih. Tapi Ji sama sekali belum pulang kerumah setelah sampai disini. Jadi Ji kira akan lebih baik Ji pulang dulu, lagipula Ed sudah ditemukan "


Ji berkata dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya


" Baiklah. Hati - hati dalam perjalananmu ya! "


" Terimakasih om, tante


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pak Jek dan anak buahnya yang lain akhirnya bisa menemukan sekertaris Fabian yang terakhir memberikan teh padanya. Dia bersembunyi di rumah orang tuanya yang terletak di ujung kota


" Deby,, saya harap kamu ikut dengan saya secara baik - baik "


Kata Jek dengan nada dingin


" Pa,, pak,, Jek,, anda disini? "

__ADS_1


Deby tergagap dan terlihat panik begitu melihat Jek ada dihadapannya


" Tuan muda meminta saya untuk membawamu secara baik - baik. Jadi akan lebih baik kalau kamu tidak melawan! "


" Saya tidak tahu apa - apa pak. Saya hanya membuat teh seperti biasanya "


Deby terlihat gemetar ketika menjawab pertanyaan Jek


" Kamu bisa mengatakan semua yang kamu tahu pada tuan muda! "


" Baik pak, saya akan ikut! "


Jawab Deby dengan lemas. Diapun ikut bersama Jek untuk menemui Leo di kediaman Fabian...


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya mereka tiba.


Namun tanpa mereka tahu ada seseorang yang tengah menghubungi Sandy


" Halo pak, sekertaris tuan besar telah ditemukan. Saat ini dia dibawa pak Jek untuk menemui tuan muda "


" Kamu tetap awasi dia, ketika lengah kamu harus mencari cara agar dia menutup mulutnya dan tidak mengatakan namaku pada Leo "


" Baik pak, saya mengerti! "


Orang itu mengakhiri panggilan telepon diantara mereka


Jek langsung membawanya ke ruang kerja, dimana Leo tengah duduk disana mempelajari file yang sebelumnya ditangani sang ayah.


" Kamu tunggu disini! Aku akan masuk dan memberi tahukan kedatanganmu kepada tuan muda! "


" Baik pak! "


Jek meninggalkan Deby sendiri diluar dan saat itulah orang yang menghubungi Sandy mendekati Deby dengan sebuah suntikan yang berisi obat.


" Kamu sama sekali tidak boleh membuka mulutmu! kalau tidak, aku tidak akan memberikan obat ini lagi padamu! "


Bisiknya ditelinga sang gadis. Kemudian dia melapaskan tangannya yang menutupi mulut sang gadis


" Obat apa yang kamu berikan? Kenapa aku seperti melayang? "


" Ini obat yang akan membuatmu selalu bahagia. Jika kamu mengikuti apa yang aku katakan, maka aku akan memberikannya lagi dengan cuma - cuma! "


Kata orang itu dengan senyum menyeringai. Lalu dia kembali ke belakang meninggalkan sang sekertaris


Jek keluar dari ruang kerja Leo setelah berbicara dengannya..


" Deby, masuklah! Tuan muda sudah menunggu mu! "


Deby mengikuti Jek dari belakang. Namun pikirannya seperti melayang, pandangan matanya seolah berputar. Dia berjalan dengan terhuyung. Dia seperti mabuk


" Hai tuan muda tampan! "


Deby menyapanya dengan nada menggoda, dia mendekatinya dan mulai berdiri disamping kursi Leo


" Deby! Apa yang kamu lakukan?! "


Jek terkejut dengan perubahan sikap Deby yang mendadak. Dia menarik lengan Deby dengan kuat


" Lepaskan! aku ingin bersama tuan muda yang tampan ini! "

__ADS_1


Leo mengernyitkan dahi karena sikap Deby ini


" Untungnya Vio sedang pulang kerumahnya. Jika tidak dia sudah pasti akan memberikan tatapan mata yang tajamnya hingga menusuk ke ulu hatiku "


Kata Leo dalam hatinya


" Pak Jek, apa yang terjadi dengannya? Sepertinya saat ini dia sedikit aneh? "


Tanya Leo heran, Deby masih berdiri disamping Leo dangan sebelah tangan yang terus membentuk lingkaran di sekitar pundak Leo


" Saya juga tidak mengerti tuan muda, tapi tadi dia baik - baik saja. Entah kenapa dia sekarang jadi seperti,,, sedang tidak sadar "


" Sepertinya ini akan sulit. Pak Jek bawa dia pergi! lain kali saja kita tanyai dia perihal teh itu"


Kata Leo pada Jek


" Baik tuan muda "


" Bagaimana aku bisa menemukan pelaku kematian ayah jika aku sama sekali tidak mengerti harus mulai dari mana? "


Pikir Leo setelah melihat Jek dan Deby keluar dari ruangan


\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara di kediaman Kusuma. Yudha, Gina dan Vio tengah duduk di ruang televisi ketika Ji datang


" Selamat malam mih, pih, Vio! "


Suara Ji membuat mereka menoleh ke arahnya dan Vio dengan cepat berdiri lalu memeluk kakaknya itu


" Kak Ji,, aku merindukanmu! Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan kak Ed? Apa dia terluka, bagaimana kakak bisa menemukannya? "


Tanya Vio begitu dia melerai pelukannya dari Ji


" Bisakah kamu memberi aku kesempatan untuk menjawab pertanyaan mu satu persatu? Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaan mu sekaligus? "


Kata Ji dengan memicingkan matanya


" Maaf, maaf "


" Mih, pih. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mami dan papi! "


" Katakan saja Ji! "


Kata Gina yang sedang mengupas apel untuk Yudha


" Aku dan Ed ingin mempercepat pernikahan kami! "


Gina dan Yudha saling manatap sebelum Yudha menjawab " Tentu saja, papi mendukung rencana kalian "


" Tunggu, tunggu! Sebelum kak Ji menikah bisakah membantu kak Leo terlebih dahulu? Aku kasihan melihat dia dalam kesulitan. Karena kami tidak tahu harus mulai dari mana untuk membuat penyelidikan "


" Kenapa papi tidak membantu calon mantu papi? "


Kata Ji dengan nada dingin kepada Yudha


" Papi dan mami tidak ingin terlibat. Kami ingin menikmati masa - masa kami sekarang ini! "


" Cih, jadi papi dan mami ingin menikmati masa pacaran untuk yang kesekian kalinya, huh? "

__ADS_1


Ji menjawab dengan sinis


" Baiklah, aku akan memberikan mereka hadiah sebelum pesta pernikahanku digelar! "


__ADS_2