Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Tuan Jendral, aku akan menjemputmu!!


__ADS_3

" Ji, papi tidak bisa menemanimu untuk terus mencari Ed. Papi masih memiliki konferensi penting setelah ini. Papi sudah memesan beberapa vila untukmu dan para pengawal menginap. Papi tidak mau kamu kelelahan hingga jatuh sakit"


Yudha beroesan pada Ji sebelum dia pulang


" Papi tenang saja. Ji akan baik - baik saja. Lagipula disini banyak pengawal papi yang akan menjaga Ji. Jadi papi tidak perlu khawatir. Sampaikan salam pada mami. Ji akan pulang setelah menemukan Ed "


Kata Ji tenang dengan senyum terukir manis


" Baiklah, papi pergi dulu! "


" Hati - hati papi! "


Setelah Yudha pergi pada sore hari, Ji masih terus mencari Ed tanpa istirahat walaupun hanya sebentar. Dia ikut menyusuri tepian pantai bersama anak buah Yudha. Bahkan dia pun ikut mencari ke tengah laut menggunakan speed boat..


Hari sudah sangat gelap, ini sudah tengah malam saat semua orang terlihat lelah, bahkan wajah Ji juga sudah terlihat sangat pucat


" Nona, sebaiknya kita istirahat dulu. Kita bisa mulai pencariannya lagi besok pagi. Lagipula sekarang ini sudah sangat gelap, sangat sulit untuk kita melakukan pencarian dengan kondisi gelap seperti sekarang ini "


Kata seorang pemimpin tim pencarian. Ji terdiam sejenak mempertimbangkan


" Kalian istirahatlah lebih dulu! Papi sudah menyewa sebuah vila disekitar sini. Aku masih ingin disini sebentar lagi! "


Kata Ji dengan wajah yang muram


" Baik nona. Anda juga jangan terlalu lama disini. Angin laut sangatlah dingin dan anda juga pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan ikut kami dalam pencarian "


Ji hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban , barulah mereka pergi.


Ji terus manatap ke arah laut, dia duduk di tepian pantai dengan mata memandang jauh ke depan. Kedua kakinya ditekuk dan tangannya memeluk lutut.


" Tuan Jendral,, sebenarnya kamu ada dimana? apa kamu juga melihat taburan bintang yang begitu indah dilangit malam ini? "


Ji berkata dengan suara lirih dan air mata yang terus mengalir


Tanpa dia sadari langit sudah kembali berwarna Jingga, dimana matahari akan segera terbit menggantikan cahaya bulan yang menerangi langit semalaman


Drrrttt drrrtt drrrtt


Getar ponsel disaku celana Ji membuatnya terkejut. Dia meluruskan kaki dan merogoh saku celananya.. Dilihatnya nama yang tertulis pada layar adalah mama Ed. Ji dengan cepat menerima panggilan teleponnya


" Halo, tante "


Suara Ji terdengar lemas


" Halo, Ji. Tante punya kabar bagus sayang. Ed masih hidup! "

__ADS_1


Terdengar suara Maria yang begitu bersemangat. Ji terkejut hingga dia berdiri dari duduknya dengan mata membelalak


" Benarkah tante? Tante tidak berbohong padaku kan? "


Ji kembali bertanya untuk memastikan apa yang dia dengar barusan adalah sebuah kebenaran


" Tante serius sayang. Tante sama sekali tidak berbohong padamu. Kemarin Petang dia menghubungi tante, sayangnya tante tengah sibuk menghubungi pihak dari tim sar yang mencarinya, jadi dia meninggalkan mail box. Tapi sayang mail box nya terputus sebelum dia mengatakan lokasinya dengan jelas! "


" Jadi tante belum tahu dimana Ed sekarang? " Wajah Ji kembali suram, nada suara yang tadinya bersemangat kini kembali melemah ketika mendengarnya


" Tenanglah sayang. Dia mengatakan kalau dia ada disebuah pulau. Tapi tante tidak tahu pulau nelayan mana yang dia maksud "


" Pulau? Ya sudah Ji kesana sekarang dan akan meminta bantuan untuk dapat melacak sumber dari telepon itu berasal "


" Ji, tunggu! kenapa tante seperti mendengar suara ombak? Kamu sedang dimana sekarang Ji? "


Maria mengerutkan dahi ketika bertanya pada kekasih putranya ini


" Ji,,,, ada di pantai sekitar laut Biru tante "


Ji jawab Ji dengan kepala tertunduk


" Ji, ini jam 4 pagi! Apa kamu tidak pulang? Bagaimana bisa Yudha membiarkanmu tinggal dipantai selama semalaman penuh? Yudha ini, dia sama sekali tidak peduli dengan putrinya! bla bla bla.... "


Maria terus saja berbicara tanpa henti


Ji menutup panggilan teleponnya dan bergegas pergi meninggalkan pantai menuju ke kamar Vilanya untuk mandi dan bersiap. Setelah itu dia meminta anak buah Yudha yang pandai dalam bidang melacak untuk ikut dengannya. Ji pergi bersama dua orang anak buah Yudha


" Nona kita akan pergi kemana? "


Tanya anak buah Yudha yang mengendarai mobil


" Kita kerumah tante Marina "


"Baik nona! "


Pengawal pun mulai mengendarai mobil menuju kedianan Ed. Jarak dari pantai tempat Ji berada dengan rumah Ed lumayan jauh. Mereka membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba disana


Ji terus termenung mengingat apa yang dikatakan Marina


" Benarkah Ed baik - baik saja? Apakah dia terluka? Ku harap dia tidak terluka sama sekali. Tapi kenapa dia tidak menghubungi ku? "


Ji terus melayang dengan berbagai pemikirannya hingga akhirnya dia sampai di kediaman Ed


" Nona, kita sudah sampai! "

__ADS_1


Kata salah seorang anak biah Ji yang telah membukakan pintu mobil


" Ayo kita masuk ke dalam! "


Ji turun dan berjalan masuk, diikuti oleh kedua pengawal Yudha


Ting nong ting nong ting nong


Bel rumah dibunyikam, tak lama terlihatlah dari balik pintu seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik


" Ji, kamu sudah sampai? Masuklah! "


Maria begitu antusias dan bersemangat ketika melihat Ji.


" Terimakasih tante "


Ji tersenyum dan melangkah masuk bersama anak buahnya dan duduk di ruang tamu


" Ji, apa kamu baik - baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat? "


" Ji baik - baik saja tante. Tante apa kita bisa langsung saja melacak nomor teleponnya? Ji benar - benar sudah tidak sabar untuk tahu keberadaan Ed saat ini? "


" Baiklah sayang, tante ambilkan dulu ponselnya! "


Maria kembali ke dalam untuk mengambil ponselnya dan tak lama ia pun kembali


" Ini ponselnya Ji. Kamu bisa putar kotak mail box nya! "


Ji menyerahkan ponselnya kepada anak buahnya, yang sebelumnya telah mempersiapkan perlengkapan yang dia butuhkan untuk melecak keberadaan Ed. Sementara dia berusaha untuk melacak, Ji berbincang dengan Maria


" Maafkan Ji tante, jika saja Ji melarang dia pulang, pasti kecelakaan ini tidak akan terjadi "


Ji berkata dengan penuh penyesalan dan kepala tertunduk


" Ini bukan salahmu Ji. Ini adalah takdir, jangan salahkan dirimu sendiri! "


" Tapi tante Ed... "


" Tidak apa, yang penting sekarang kita sudah tahu kalau Ed masih hidup "


Maria tersenyum lembut dan Ji menganggukkan kepala


" Nona, kita menemukannya! Sebuah pulau nelayan kecil dibagian timur! "


" Benarkah? Kita bersiap kesana sekarang juga! "

__ADS_1


" Tuan Jendral, aku akan menjemputmu! "


__ADS_2