
Ji sedang keluar untuk rapat ketika Vio menghubunginya
" Maaf pak pembicaraan kita terganggu "
" Tidak apa bu Jingga. Saya mengerti betul kalau ibu sangat sibuk "
Dia wanita muda yang sangat cantik dan menawan. Dia begitu anggun. Ingin sekali aku mencicipi tubuhnya!
"Bu Jingga, untuk tender kali ini,,,, Saya bisa bantu bu Jingga untuk langsung dapat proyek ini tanpa harus bersaing dengan perusahaan lain. Bu Jingga tahu kan, kalau sangat sulit mendapatkan proyek besar dari perusahaan saya. Jadi saya bisa dengan mudah membantu bu Jingga "
Kata Hardi yang merupakan suami dari Clarisa
" Maksud pak Hardi apa ya?
saya kurang paham? "
Jingga berkata dengan nada dinginnya. Tapi sepertinya Hardi tidak ingin mengatakan apapun karena ada Adel disamping Jingga. Jadi Jingga melirik Adel, dia menginstruksikan Adel agar berpindah kursi. Adel pun menganggukkan kepala dan berpindah tempat duduk
" Perusahaan bu Jingga pasti akan lebih dikenal lagi jika mendapatkan proyek pembangunan kali ini. Saya bisa membantu mewujudkannya dengan mudah! "
Hardi tersenyum menggoda Ji. Tangannya juga mulai memegang tangan Ji. Ji menyeringai mengikuti permainan pria hidung belang ini
" Maksud pak Hardi adalah.... "
Jingga hanya memicingkan matanya tanpa melanjutkan kalimatnya
" Aku rasa bu Jingga mengerti maksud saya! "
Dia hanya tersenyum licik dan menyodorkan sebuah kartu hotel yang diambil dari sakunya kepada Jingga. Jingga tersenyum dingin
" Tentu saja saya sangat mengerti maksud anda. Tapi anda tidak mengenal saya dengan baik, pak Hardi. Bagaimana bisa anda menawarkan ini pada saya? "
Ji meraih kartu itu dan melambaikannya di depan Hardi, dalam hati dia mencaci pria hidung belang ini
Pria tidak tahu malu. Awas saja kau. Akan ku buat kamu menyesal dan tidak memiliki kesempatan untuk berbuat hal seperti ini lagi
" Bu Jingga, saya tahu betul bagaimana rasanya sendirian. Anda belum menikah, tentu anda menginginkan bentuk kasih sayang dari seorang pria. Iya kan? Saya yakin anda tidak akan rugi " Ji mengernyitkan dahi, tak suka mendengar perkataannya
" Baiklah, akan saya pertimbangkan. Karena urusan bisnis diantara kita telah selesai, sepertinya saya harus undur diri. Saya masih harus kembali ke kantor " Ji berdiri dan menoleh kepada Adel. Adel pun berdiri dan mendekatinya untuk pergi meninggalkan restoran
" Terimakasih atas waktunya bu Jingga "
__ADS_1
Hardi mengulurkan tangannya untuk berjabat
" Terimakasih kembali pak atas tawarannya, saya akan memikirkannya. Permisi "
Ji menyambut uluran tangannya kemudian berjalan pergi meninggalkan Hardi sendiri.
Hardi terus memandangi punggung Jingga yang semakin menjauh
Jingga,, pasti aku bisa mendapatkan mu!
" Adel, bisakah aku minta tolong padamu? "
Kata Ji pada Adel, tanpa menoleh padanya. Ada kilatan kebencian dimatanya saat ini. Hanya saja Adel tidak melihatnya, karena dia berjalan dibelakang Ji
" Ada apa Ji? Katakan saja! "
" Tolong cari tahu tentang pria ini! Aku ingin memberikan hadiah padanya! "
Sebuah senyum kelicikan muncul diwajah cantik Ji
" Apa yang kamu rencanakan Ji?
Sepertinya dia bukan orang baik - baik. "
Adel mengernyitkan dahi dan mulai berfikir
Apakah yang dulu Ji katakan adalah ini? Dia bilang kalau dia bukan gadis baik, dan aku tidak mengenalnya. Mungkinkah dia gadis yang kejam?
Adel terus memperhatikan Ji, Mencoba menebak karakter Ji. Sayang, dia sama sekali tidak bisa menebak Ji.
Mereka terus berjalan meninggalkan restoran untuk kembali menuju perusahaan
Ji teringat Vio yang akan datang ke perusahaan jadi dia mengirimkan pesan singkat
Ji
Vi kamu dimana, jadi datang ke perusahaan tidak?
Vio
Iya kak, aku masih di mall. Nanti aku kesana
__ADS_1
Ji
Ya sudah aku tunggu dikantor. Jangan terlalu sore, nanti Ed akan menjemput ku kesini
Vio
Oke
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vio masih berkeliling di mall, dia memasuki sebuah butik terkenal. Dia melihat satu persatu dres yang di pajang disana. Vio hendak mencoba salah satu baju di ruang ganti. dan sialnya, di sanaP ada orang yang sebelumnya membuat masalah dengannya.
Gadis itu begitu sombong karena dia ditemani pria tampan bersamanya.
" Hah, kamu lagi? kamu sengaja mengikuti kami? " Kata gadis itu dengan sombongnya. Namanya Stefi, dia putri satu - satunya dari salah satu pengusaha ternama.
" Nona, apa kamu pikir hanya kamu yang bisa mengunjungi butik disini? pyuuuh, negara ini punya penduduk yang aneh! "
Vio berkata dengan tenang sambil memegang baju ditangannya.
" Apa kamu bilang? Aku aneh? Kamu tidak tahu siapa aku? Aku Stefi, putri dari pengusaha bernama Agung Ranajaya "
Katanya dengan nada tinggi dan sombongnya
" Apa pentingnya bagiku untuk mengenalmu?
Kamu bukan orang yang penting Bagiku! "
Vio berkata dengan acuh tak acuh dan hendak pergi meninggalkan mereka, tapi tangannya ditarik Stefi
" Hei, aku belum selesai bicara! Siapa yang sudah mengizinkan kamu pergi begitu saja, hah? "
Stefi menjadi lebih kesal karena Vio mengabaikannya. Vio mengernyitkan dahi, menatapnya dengan tatapan yang dingin.
" Sudah ku katakan, kamu bukan orang penting bagiku. Jadi, tidak penting juga jika aku harus meladeni gadis gila seperti mu!
Hei, sebaiknya kamu ikat gadis mu ini agar dia tidak menjadi liar! "
Vio berkata acuh tak acuh pada Stefi kemudian beralih kepada pria disebelahnya.
Rian Sanggara, dia hanya diam memperhatikan perdebatan kedua gadis ini dan sesekali tersenyum dengan jawaban dan sikap acuh tak acuh Vio
__ADS_1
Gadis ini berani sekali melawan Stefi yang manja. Dia tegas dan tidak punya rasa takut sedikitpun!