
Keesokan harinya Bi harus ke kantor Taeson Elektronik karena ada pekerjaan penting. Dirumah sakit hanya ada Ed. Dia duduk di kursi sebelah Ji dengan menggenggam tengannya dan di letakkan di pipi Ed
" Gadis kecil, apa kamu masih mengingatku? Aku, kakak laki - laki yang pernah kamu dan Bi tolong waktu itu. Aku tahu kamu anak om Yudha, temannya om Mario tapi aku tidak berani mendekatimu, karena aku merasa belum pantas untukmu.
" Aku selalu mencari informasi tentangmu. Tapi aku tidak pernah mendapatkan informasi yang tepat tentangmu atau photo mu. Aku juga tidak berani bertanya pada om Mario "
" Terakhir kali ku dengar, kamu ada di negara ini. Maka dari itu aku memutuskan untuk pindah tugas kemari, tapi aku juga tidak dapat menemuimu. karena aku sama sekali tidak tahu kamu. Beruntungnya, seakan takdir berpihak padaku, akhirnya kita bertemu saat di bukit. Aku tidak tahu kalau kamu adik kecil pemberaniku. Aku baru tahu ketika om Yudha datang kesini waktu itu.
" Jadi,,,, bisakah kamu sadar sekarang juga dan berbicara padaku? "
Ed menjelaskan dengan tenang meskipun Ji sedang tidur. Lebih tepatnya pura - pura tidur. Ji sudah bangun ketika Ed mulai menggenggam tangan Ji.
Ji ingin tertawa mendengar perkataan Ed,
" Ternyata tentara mesum ini adalah kakak laki - laki yang pendiam dan penakut itu ya. Hmnn,, "
Ceklek
Tiba - tina terdengar suara pintu dibuka . Ed dengan cepat menoleh ke arah sumber suara dan dilihatnya yang dipintu adalah Gina yang berjalan dengan cepat, diikuti oleh Yudha dan Vio mengikutinya di belakangnya
" Ji,, sayang!!! "
Wajah Gina panik, suaranya bergetar karena khawatir
" Bagaimana keadaannya? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku kalau kondisi Ji separah ini?! "
Gina berteriak dan menangis melihat kondisi Ji yang sangat memprihatinkan. Yudha memang sengaja tidak memberitahukan bagaimana kondisi Ji saat ini.
Jika Yudha memceritakan bagaimana kondisi Ji melalui telepon entah apa yang akan terjadi Yudha tak bisa membayangkan. Lebih baik dia melihat kondisinya secara langsung. Toh masa kritis Ji sudah lewat. Sekarang hanya menunggu dia sadar saja.
__ADS_1
Gina menangis dihadapan Ji. Wajah yang bengkak, luka lebam dan cambuk di tangan, kaki dan punggungnya. Ibu mana yang tidak menderita melihat kondisi putrinya yang cantik kini terlihat sangat buruk.
Perlahan Ji membuka mata, karena sebelum Gina datang, dia juga sudah sadar
" Mami,,,,papi,,,"
Dia menoleh ke sekeliling, dipanggilnya Yudha dan Gina dengan suaranya yang serak
" Ya sayang "
Gina dan Yudha mendekatinya dan menggenggam tangannya
Ed keluar memanggil dokter. tak lama dia kembai bersama dengan dokter dan suster
" Permisi! biar saya periksa terlebih dahulu! "
Gina dan Yudha bergeser, digantikan dengan dokter dan suster yang berdiri dihadapan Ji untuk memeriksanya. Dilepaskannya masker oksigen dari mulut Ji
Dokter menjelaskan sambil tersenyum kemudian meninggalkan ruangan Ji " saya permisi! "
" Terimakasih dokter! "
" Bagaimana dengan pelakunya sayang? "
Gina menoleh sambil bertanya kepada Yudha setelah dokter keluar
" Dia sudah ditahan di kantor polisi. Dan dia juga mendapatkan bayaran yang setimpal atas apa yang dia lakukan pada Ji "
Yudha berkata dengan tenang
__ADS_1
" Aku ingin pergi mengunjunginya! "
Kata Gina dengan wajah yang kesal
" Tentu saja. Nanti kita kesana! "
Ed mendekati Ji. " Apa kamu mau minum? "
Suaranya begitu lembut dan penuh perhatian. Ji hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian Ed mengambil segelas air putih dengan sedotan untuk memudahkan Ji minum, dia membantunya. Gina dan Yudha tersenyum memperhatikan mereka
" Sayang aku mau lihat orang itu sekarang. Biarkan Ji dan Ed saja! "
Kata Gina kepada Yudha dan dia tersenyum sambil menggandeng Gina keluar
" Aku ikuut, aku tidak mau jadi obat nyamuk diantara mereka berdua! "Kata Vio dengan suara manja khasnya kepada Yudha dan Gina. Mereka pun tersenyum dan berjalan keluar meninggalkan Ji dan Ed
" Ed, apa kamu tidak bertugas? "
Tanya Ji dengan lembut. Ed mengerutkan dahi mendengar nada bicaranya yang lembut. Dia terlihat heran, tapi kemudian dia tersenyum
" Tidak, aku ingin menemanimu disini dulu. besok baru aku bertugas " Jawab Ed dengan lembut
" Aku dengar semua yang kamu katakan tadi sebelum mami datang! "
Ji sedikit tersenyum. Ed terkejut, seketika wajahnya berubah merah karena malu
" Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal, kalau kamu kakak penakut itu? "
Ji memicingkan mata menunggu jawaban Ed. yang sedikit tertunduk
__ADS_1
" Awalnya aku belum yakin, tapi setelahnya aku malu untuk mengatakannya padamu. Hanya saja setelah melihatmu kemarin itu. Aku takut kehilangan mu lagi. Sudah lama aku mencarimu, aku tidak bisa lagi membayangkan kalau harus berpisah lagi denganmu"
Ji mendengarkan dengan baik. Ada kehangatan yang dia rasakan di dalam hatinya. Dia tersenyum kepada Ed lalu berkata " Aku tidak butuh lelaki penakut dan cengeng. Aku butuh laki - laki kuat yang bisa menyayangi dan melindungi ku! "