Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
My queen kamu sudah berhasil menyihirku


__ADS_3

Jingga langsung menuju ke rumah Ed setelah kembali dari kota selatan..


Ting nong ting nong....


Ji membunyikan bel rumah Ed dan ternyata Maria yang membukakan pintu.


" Selamat malam tante "


Sapa Ji dengan sopan begitu melihat Maria


" Selamat malam sayangku. Masuklah! Bukankah kamu sedang berada di kota bagian selatan? Bagaimana bisa kamu berada disini? "


Tanya Maria ketika mereka bertemu dan berjalan menuju ruang tamu


" Aku baru saja tiba dan langsung datang kemari. Tante bagaimana keadaan Ed sekarang? "


Maria tersenyum menggoda ketika Ji mengatakan Ed


" Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan putra ku itu? Dia sudah lebih baik, tapi dia tetap saja mengurung diri di kamar. dia sama sekali tidak suka berinterkasi dengan kami. Apalagi orang luar "


" Ach! Kalau begitu kamu langsung ke kamarnya saja! "


" Tapi tante.... "


" Biar tante hubungi mami kamu dan mengatakan padanya kalau kamu akan tidur disini malam ini "


" Tapi tante.... "


Ji berusaha menolak tapi tidak berhasil


" Tidak papa. Kalian berdua ini juga kan akan menikah. Lagipula kamu tidak akan tidur dikamar yang sama dengannya kan? Disini masih terdapat banyak kamar dan kamar yang sebelumnya kamu tempati juga selalu dibersihkan. Sekarang, naiklah ke kamar Ed! "


Maria berbicara dengan penuh semangat


" Baik tante. Aku ke atas dulu! "


Kata Ji sambil berjalan menaiki tangga


" Seharusnya kamu sudah merubah panggilan mu kepadaku menjadi ibu, bukan lagi tante! "


" Baik tan,, eh ibu,,, "


Ji tersenyum kemudian meninggalkan Maria dan berjalan menuju kamar Ed


Tok tok tok


" Masuk! "


Ed mempersilakan orang yang mengetuk pintu masuk tanpa bertanya siapa terlebih dahulu. Begitu Ji masuk terlihat Ed sedang membaca buku diatas kursi yang mengarah ke jendela

__ADS_1


" Bukannya kamu baru sembuh? Kenapa begitu serius membaca buku? Bukannya istirahat! "


Ed terkejut setelah mendengar suara Ji. Dia menoleh ke arah pintu. Wajahnya yang sebelumnya terlihat serius karena membaca buku, kini berubah menjadi lembut


" My queen. Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu seharusnya berada dikota bagian selatan? "


Tanya Ed yang langsung mendekat ke arah Ji


Ji tersenyum lembut menjawab pertanyaan Ed


" Aku baru saja kembali dari sana? Bagaimana keadaan mu sekarang tuan Jendralku ? "


" Badanku sudah lebih baik dan luka ku sudah sembuh. Tapi jika kamu tidak datang hari ini, pasti akan muncul luka baru padaku "


" Kenapa? Apa ada luka dibagian lain? "


Tanya Ji dengan wajah khawatir


" Iya, luka dihatiku. Karena aku terlalu merindukan mu setelah beberapa hari kita tidak bertemu. Sebelumnya aku terbiasa sendiri, tapi sekarang aku bingung bagaimana aku kalau jauh darimu. Sepertinya sekarang aku tidak akan bisa bertugas jauh " Kata Ed yang kini menyandarkan kepalanya dibahu Ji.


" Tuan Jendral, bisakah sehari saja kamu tidak membuat wajahku berubah merah? "


Kata Ji dengan nada acuh tak acuhnya


" Entahlah. Sepertinya tidak bisa. Karena aku selalu ingin memuji dan mengekspresikan saat ketika aku bersama denganmu. Oh iya my queen, apa kamu menginap disini malam ini? "


" Ya, aku akan tidur disini. Ada apa? "


" Apa? Secepat itu? Apakah semua sudah direncanakan? "


Ji terlihat sangat terkejut


" Tentu saja semua sudah diatur orang tua kita selama ini. Jadi kita tinggal mempersiapkan diri saja. Gaun pernikahan juga sudah selesai ibu buatkan! "


" Benarkah semua persiapan sudah selesai? Kita sama sekali tidak terlibat persiapan apapun? "


" Tentu saja kita terlibat. Kita akan melakukan foto prewedding dan menjadi mempelainya bukan? "


Ed tersenyum menggoda Ji


" Sudahlah. Percuma saja aku bicara padamu. Lebih baik aku bicara pada ibumu saja "


Kata Ji yang kemudian berdiri dari duduknya


" Ach! "


Ed menarik tangan Ji hingga dia terjatuh dan duduk dipangkuan Ed


" Bagaimana kamu akan meninggalkan aku lagi padahal kamu baru saja tiba disini? "

__ADS_1


" Tuan Jendral, aku hanya akan menemui ibumu "


" Tidak! Kamu tidak boleh pergi kemanapun. Kamu hanya boleh bersama dengan ku! "


Ji memicingkan mata dan memandang Ed dengan tatapan lembut


" Tuan Jendral, sejak kapan kamu jadi manja dan kekanak - kanakan seperti ini? Sepertinya sebelumnya kamu orang yang dingin dan berwibawa? "


" Sejak aku bertemu dengan mu. Karena kamu adalah peri yang dapat merubah ku menjadi pria yang takluk akan kecantikan dan karaktermu. Aku bisa bersikap dingin dan berwibawa didepan orang lain. Tapi tidak bisa dihadapanmu. My queen kamu sudah berhasil menyihirku! "


" Sudah hentikan. Aku akan ke kamarku saja. Kita bertemu besok. Bisa - bisa aku mencair saat ini juga dan tidak bisa jadi pengantin wanita karena mendengar kata - katamu "


Ji berdiri dari pangkuan Ed dan berjalan meninggalkan kamarnya. Ed hanya tersenyum melihat kepergian sang kekasih


" My queen aku tidak sabar untuk menghabiskan hari - hariku berdua denganmu! "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di kediaman Sandy. Jenazahnya baru saja tiba. Melia begitu terkejut setelah mendapat kabar bahwa sang ayah meninggal


" Papa,,,, bagaimana ini bisa terjadi padamu? Bukankah kamu baik - baik saja. Kamu tidak pernah mengatakan apapun rencana mu padaku. Apa bunuh diri juga bagian dari rencanamu? hiks... hiks... hiks... "


Melia menangis di depan jasad Sandy


" Jika ini rencanamu, bagaimana dengan ku pah? Apa papa tidak memikirkan aku? Apa papa sama sekali tidak menganggap ku ada? Kenapa papa selalu mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan aku? hiks... hiks.. hiks.. "


" Tuan muda! "


Seseorang menyapa Leo ketika melihat kedatangannya dirumah Sandy.


Melia seketika menoleh setelah mendengar kata tersebut. Dengan mata yang masih berkaca - kaca dan pipi yang masih basah oleh air mata dia menatap Leo


" Apa kakak kesini untuk menertawakan aku karena sekarang aku sama seperti kaka yang tidak punya orang tua? hiks... hiks.. hiks.. "


Tanya Melia pada Leo disela isak tangisnya


" Melia, kamu itu adikku. Meskipun hubungan kita saat ini tidak baik, tapi aku selalu ingat kedekatan kita saat kecil, saat sebelum ayahmu menghancurkan keluargaku.


"Kamu selalu datang kerumah ku bersama paman dan kita juga menghabiskan waktu bersama. Aku tahu kamu tidak serakah seperti ayahmu. Kamu itu adalah gadis baik, hanya saja kamu salah dalam mendapatkan contoh. Jika kamu mengikuti ayahmu untuk bersikap serakah dan sombong, maka bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti kamu akan jatuh dan tersudutkan seperti ayahmu"


" Aku kesini untuk berbela sungkawa dan mengajakmu untuk mulai belajar di perusahaan. Karena ayahmu sudah tidak ada, kamu tidak dapat bergantung pada siapapun lagi. Kamu harus belajar hidup mandiri, dan aku akan membantumu! "


Kata Leo dengan tatapan mata yang begitu tulus dan senyum yang manis


" Apa kak Leo tidak membenci ku setelah apa yang telah papa lakukan pada keluarga kak Leo? "


" Aku sangat marah pada paman Sandy, karena dia tega mencelakai orang tuaku. Yang merupakan kakak dan kakak iparnya sendiri. Tapi itu ayahmu, bukan kamu yang melakukan kesalahan. Aku tidak bisa melampiaskan kekesalanku pada orang yang tidak bersalah. Kuharap kamu juga tidak membenciku karena penyebab ayahmu bunuh diri tidak lain adalah aku "


" Papa sudah memilih jalannya sendiri. Jika aku membalas kematian papa dengan membenci kak leo, maka aku tidak jauh berbeda dengan papa. Meskipun aku manja dan sombong selama ini, tapi aku tidak memiliki niatan untuk mencelakai orang lain. Dan lagi, jika aku kembali membalas kakak, maka sudah pasti dendam itu tidak akan habis sampai kita mati. Aku ingin kita tetap menjadi kakak adik. Karena sekarang hanya kakak yang aku miliki "

__ADS_1


Melia tersenyum dengan mata yang masih berkaca - kaca


__ADS_2