
Yudha datang bersama Hendri dan Ed ketika Ji baru saja di pindahkan ke ruang rawat pasien. Wajahnya bengkak, dokter membalut luka Ji di bagian tangan, kaki dan punggungnya yang dipenuhi lebam dan luka cambukan
" Bi. bagaimana kondisi Ji? "
Tanya Yudha kepada putranya yang masih termenung menatap Ji yang terbaring di ranjang pasien
" Kata dokter Ji baik - baik saja, Ji masih beruntung karena tidak sampai tulangnya retak. Tapi pih, katanya,,, luka di tubuh Ji akan meninggalkan bekas. Bagaimana ini? "
Mereka berbicara sambil terus menatap ji yang masih tidur dengan posisi menghadap ke samping
" Saya minta maaf om. Saya lalai menjaga Ji, harusnya saya tidak membiarkan dia pergi ke toilet sendiri waktu itu! "
Ed tertunduk karena merasa bersalah pada Yudha
" Sudahlah Ed, ini bukan salahmu. Om berterimakasih karena kamu sudah mau mencari dan mengerahkan bawahanmu untuk mencari Ji. Harusnya om menyedihkan pengawal juga untuk menjaga Ji. Ini pelajaran untuk kita, dan mengenai luka Ji,,, Kita akan kerakhan dokter terbaik untuk merawatnya dan kita bisa melakukan operasi plastic untuk menghilangkan bekas luka ditubuhnya. Kamu tidak usah khawatir Bi! "
Bi mengangguk perlahan mendengar perkataan Yudha.
" Pih apa mami akan datang kesini juga? "
" Papi akan urus kedatangan mami kesini. Dia pasti sudah sangat khawatir pada Ji "
" Ed, kamu sudah bisa kembali bertugas. Disini ada kami yang menjaga Ji. Kamu tidak perlu cemas "
" Om mengenai wanita itu.... "
" Dia sudah masuk penjara, om rasa ini jadi pelajaran yang cukup untuknya dan juga contoh nyata untuk yang lain agar tidak berani macam - macam lagi.
Pertempuaran bagi tentara, adalah di medan perang, tapi bagi pebisnis, setiap tempat adalah medan perang. Kita akan selalu di kelilingi oleh para pesaing bisnis. Ada yang berani bertindak langsung, ada juga yang bertindak dengan sembunyi - sembunyi. Maka dari itu kita harus tetap waspada "
" Ya papi, aku mengerti. Kami terlalu lemah karena tidak bertindak cepat dan mencabut akar permasalahannya langsung. Kami harus lebih tegas dan berani seperti papi agar mereka tersadar kalau sedang berhadapan dengan kami "
Tring
Ponsel Bi berbunyi, dan itu sebuah pesan masuk dari Emili
Bi,, apakah Ji sudah ada kabar tentang Ji?
Biru
Kami sudah menemukannya, sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit X
Emili
__ADS_1
Bagaimana dengan keadaannya?
Apakah dia baik - baik saja?
Biru
Kondisinya memprihatinkan! Tapi menurut dokter dia baik - baik saja
Emili
Bolehkah aku kesana untuk menjenguknya?
Aku ingin melihat keadaannya dan juga ingin menemanimu disana!
Biru
Tentu saja kamu boleh datang. Aku akan sangat senang, jika kamu ada disini bersamaku
Emili
Baiklah, nanti aku akan datang kesana.
Sampai nanti 💕
Biru
Yudha memperhatikan putranya yang sedang serius dengan ponselnya
" Ehem,, ehem,,
apa itu pesan dari pacar mu, Bi? "
Yudha bertanya dengan lembut dan sedikit tersenyum
" Ehm,,,
Iya pih, namanya Emili. Dia putri dari keluarga Anggara "
Biru berpikir sejenak sebelum menjawabnya
" Apakah tidak ingin kamu kenalkan pada papi? "
" Nanti dia akan kemari untuk menjenguk Ji, pih! "
__ADS_1
Yudha hanya menganggukkan kepala perlahan sambil tersenyum, kemudian dia menoleh ke arah Ed yang terus memperhatikan Ji dengan wajah muram penuh dengan penyesalan
" Ed, apa kamu masih berlibur? "
Ed yang sedang fokus memperhatikan Ji dibuat terkejut oleh suara Yudha
" Eh,,, iya om. Seharusnya besok aku kembali bertugas, tapi aku sudah mengajukan cuti agar bisa menemani Ji disini "
" Jangan begitu,,, Ji baik - baik saja. Disini juga ada om dan Bi yang menjaga Ji. Pengawal juga selalu berjaga diluar. Kamu tidak perlu cemas lagi "
Yudha bicara dengan begitu tenang
" Tidak apa Ed, kamu bisa pergi bertugas.Ji akan baik - baik saja. Jika ada sesuatu pasti aku kan memberitahumu! "
Bi sedikit tersenyum saat berbicara
" Baiklah. Aku akan selesai bertugas kira - kira dalam waktu 4 atau 5 hari. Dan nanti aku akan langsung kemari! "
Yudha dan Bi saling mengangguk mendengar apa yang Ed katakan..
Sshhht.. Ehhhmmmm
Terdengar suara Ji yang meringis dan bergumam seakan kesakitan. Yudha, Bi dan Ed yang sedang duduk di sofa, langsung berdiri dan mendekat ke arah Ji. Dilihatnya Ji penuh dengan keringat yang bercucuran.
Yudha memegang dahinya Ji. Ternyata dia demam.
" Bi, cepat panggil dokter agar kemari memeriksa Ji! "
" Baik pih! "
Biru langsung berlari keluar ruangan Ji setelah Yudha memintanya memanggil dokter
Tak berapa lama, dokter dan suster langsing masuk dengan tergesa - gesa ke dalam ruang rawat Ji..
" Cepat dok, periksa Ji! "
Perintah Yudha dan langsung dibalas anggukan oleh dokter.
Dokter dan suster segera memeriksa Ji. Entah apa yang mereka katakan. Suster dengan sigap menyuntik Ji dan memasangkan selang infus di tangannya dan juga alat bantu pernafasan pada mulut Ji.
Pemandangan itu membuat Yudha, Bi dan Ed merasakan sakit di hatinya melihat kondisi Ji yang sedang drop
" Ji bertahanlah! "
__ADS_1