
Air mata Ji terus mengalir selama Adel membersihkan luka yang ada di tangan dan kakinya. Meskipun pecahan kaca menancap cukup dalam, tapi Ji seakan tidak dapat merasakan apapun. Dia hanya diam dan terus terpikir mengenai Ed
" Ji, kami tahu kamu sedang sedih. Tapi jika kamu bersikap seperti ini, kita juga tidak akan bisa menemukan Edward "
Drrrtt drrt drrrt
Ponsel Ji berdering dan dia dengan cepat meraihnya. Takut - takut kalau Ed yang menghubunginya. Dia sedikit kecewa ternyata bukan
" Hallo Ji... Kamu dimana? Aku sudah melihat di televisi kalau Ed menjadi salah satu korban yang menghilang dalam kecelakaan pesawat hari ini. Aku yakin dia baik - baik saja "
Suara Bi membuat Ji kembali meneteskan air mata
" Bi,,,, Aku takut. bagaimana kalau dia tidak ditemukan? Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Bagaimana kalau dia tidak baik - baik saja.. hiks.. hiks.. hiks..
Meskipun dia seorang tentara tapi, tapi kecelakaan pesawat itu... Aku tidak tahu bagaimana keadaannya "
Keluh Ji pada Bi. Siapapun yang mendengar suara Ji dan melihat kondisinya saat ini pastilah dia juga akan ikut menitikan air mata, ketika melihat Ji yang biasa terlihat kuat ternyata hari ini dia terlihat seperti seorang gadis yang rapuh
" Kamu dimana? Aku akan kesana sekarang! "
" Aku,,,, masih di kantor.. hiks.. hiks.. hiks.. "
" Baiklah, tunggu aku! "
Bi mematikan telepon setelah tahu keberadaan Ji. Ji kembali menangis setelah Bi memintanya untuk menunggu
" Aku akan menunggumu. pasti aku menunggumu. Kumohon kembalilah padaku.. tuan Jendral ku.. hiks.. hiks... hiks... "
Gumam Ji disela isak tangisnya
Beberapa waktu kemudian Bi dan Alex tiba di JB Companies. Dengan langkah besar Bi bergegas masuk keruang Ji. Dia tidak peduli dengan banyaknya karyawan yang menyapanya ketika mulai memasuki gedung ini
Brak!!
" Ji!! "
Bi membuka pintu kantornya Ji dengan keras
" Bi... "
Bi dengan segera memeluk erat sang adik dalam dekapannya. Wajahnya terlihat kacau. Matanya tampak sembap dengan linangan air mata dan pipinya telah basah oleh air mata yang terus mengalir, entah sudah berapa lama.
" Bi,, tuan Jendral.. Tim sar masih belum menemukannya.. Adel sudah mencari informasi tentang keberadaannya tapi tidak dapat apa - apa Bi.. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? hiks.. hiks.. hiks.. "
Ji terus saja bicara dengan air mata yang mengalir semakin deras begitu melihat saudara kembarnya datang
" Kamu tenang dulu. Kita akan kerahkan semua anak buah kita untuk mencarinya . Kita juga minta bantuan papi untuk mengerahkan semua anak buahnya untuk ikut mencari "
Pandangan Bi kini tertuju pada tangan dan kaki Ji yang telah di perban. Dia melerai pelukannya dan melihat kondisi luka Ji
__ADS_1
" Kenapa dengan tangan dan kaki mu? Bagaimana bisa terluka seperti ini? "
Tanya Bi dengan begitu panik
" Tadi Ji menjatuhkan gelas ketika mendengar berita kecelakaan itu. Dia sama sekali tidak menyadari kalau tangan dan kakinya terluka. Aku sudah mencabut pecahan kaca yang ada pada lukanya dan sudah membersihkannya "
Adel dengan tenang menjawab pertanyaan Biru
" Apakah sakit Ji? "
Bi kembali menatap Ji dan bertanya dengan lembut, Ji menggelengkan kepalanya perlahan
" Aku tidak bisa merasakan luka kecil ini. Yang terasa sangat sakit adalah hatiku Bi. Aku tidak tahu keadannya, dimana dia sekarang ? Seberapa parah lukanya? Aku tidak tahu itu semua Bi. Seandainya saja aku tidak membiarkan dia untuk pulang hari ini Bi, Ini semua pasti tidak akan terjadi. Dia pasti berada disisiku dengan semua gombalan dan omong kosong yang selalu dia katakan ketika merayuku "
Ji tertunduk dengan sebelah tangannya memegang bagian dada seakan menahan rasa sakitnya.
Bi ikut menitikan air mata melihat kondisi adiknya saat ini. Adik yang cuek, kuat dan tak pernah takut akan hal apapun. Kini terlihat sangat rapuh. Dia kembali memeluk erat Ji, berusaha untuk menenangkannya. Dia kembali teringat akan masa kelam Ji ketika diculik dan menerima siksaan, hati Biru ikut tersayat melihat air mata Ji
" Kamu tenang saja. Kita akan mengerahkan semua orang untuk mencari Ed. Kita pasti bisa menemukannya! "
Ji hanya diam dan terisak dalam pelukan Biru
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maria tengah berada di butik ketika melihat berita mengenai jatuhnya pesawat yang ditumpangi Ed. Sebelumnya Ed telah memberitahukan pada sang ibu, kalau dia akan pulang untuk memeriksa sejauh mana persiapan pernikahannya dengan Ji telah dibuat
" Tidak, itu pasti tidak benar. Ed tidak mungkin hilang. Dia tidak mungkin jadi korban pesawat jatuh itu kan? "
" Bu! bu Maria! bu Maria! "
Karyawan toko semua panik melihat Maria yang tidak sadarkan diri. Salah satu dari mereka dengan cepat menghubungi Erik menggunakan ponsel Maria
Tuuut tuuut tuuuut
" Halo sa,,, "
" Halo pak Erik. Saya karyawan butik. Bu Maria pingsan, tolong bapak segera kesini! "
Karyawan toko menghubungi Erik dengan panik bahkan dia memotong perkataannya sebelum selesai
" Apa? pingsan? Baik, saya kesana sekarang! Tolong jaga dulu istriku! "
Erik mematikan telepon dan dengan cepat dia berjalan keluar gedung kantor untuk bisa melihat kondisi sang istri
Erik berkendara dengan cepat. sehingga tidak butuh waktu lama untuknya bisa tiba di butik
Brak!!
" Maria! "
__ADS_1
Erik berjalan mendekati sang istri yang telah sadar namun masih terlihat lemas dan air mata mengalir di pipinya
" Ada apa sayang? Apa kamu baik - baik saja? " Erik panik setelah melihat Maria
" Erik,, putra kita Ed... hiks... hiks... hiks... "
Maria tertunduk tidak dapat melanjutkan perkataannya
" Ada apa dengan putra kita, hemn? "
" Aku melihat berita,, katanya,,,, pesawat yang Ed tumpangi,,, mengalami kecelakaan ,,,hiks... hiks... hiks.. "
Tangan Erik yang sebelumnya memegangi Maria, seketika lemas dan tubuhnya pun seketika tak memiliki kekuatan. Bahkan hanya untuk berdiri sekalipun. Pandangan Erik kemudian menerang jauh entah kemana
" Ed putraku,, kecelakaan? "
Gumamnya dengan air mata yang juga mulai menetes
" Kita harus mencari informasi yang benar untuk mengetahui kebenaran beritanya. Yudha bisa membantu kita untuk mencari keberadaan Ed jika memang dia masih belum ditemukan. Kamu tenang dulu kita akan mengupayakan segala cara untuk bisa menemukan Ed. Sekarang doakan saja agar Ed selamat dan tidak terluka parah! "
Erik berusaha menguatkan dirinya sendiri juga istrinya. Maria menganggukkan kepala dengan mata yang masih berlinang
" Oh Ji,,, dia juga pasti sudah melihat beritanya. Aku harus menghubunginya dulu "
Kata Maria begitu mengingat Ji. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi kekasih putranya itu
Tuut tuut tuut
Ji yang masih dikantor bersama Bi dengan cepat menerima telepon dari Maria
" Halo,, tante,,, "
Suaranya terdengar sendu
" Ji,, sayang,, apa kamu baik - baik saja? "
Tanya Maria dengan air mata yang kembali mengalir
" Aku,,, aku,, tidak papa tente,, hanya saja,,, aku tidak tahu bagaimana keadaan Ed sekarang,,, tim sar,,, masih belum memberikan kabar padaku.. hiks.. hiks... hiks... "
Suara Ji terdengar begitu pilu.. Maria semakin tak kuasa menahan air matanya
" Ed pasti baik - baik saja.. Tante yakin dan kamu juga harus yakin.. Ya sayang? "
" Iya,, tante.. "
" Tante akan minta bantuan papimu juga Om Mario untuk mencari Ed. Kita akan melakukan apa saja untuk bisa menemukannya.. "
" Baik tante "
__ADS_1
Ji dan Maria mengakhiri panggilan telepon diantara mereka