
" Heh, memangnya siapa kamu? Berani sekali mengancam ku?
Aku ini Nasya Aditya, putri dari Rama Aditya. Seorang pengusaha minimarket ternama di kota ini! "
Nasya berkata dengan sombongnya
" Cih, Jangan sombong kamu. Keluargamu yang terpandang disini itu bukan apa - apa jika dibandingkan denganku! Jika aku mau, perusahaan keluarga mu itu bisa hancur hanya dalam waktu 1 hari saja. Tentu saja setelah itu tidak akan ada lagi keluarga Aditya di kota ini, bahkan dimanapun! "
Ji menunjukkan senyum licik menanggapi kesombongan Nasya, tapi nada bicaranya masih tetap tenang
" Sudahlah Ji, percuma saja kita menanggapi gadis sombong ini. Cuma buang - buang tenaga kita saja. Lebih baik kita kembali ke meja kita. Biru dan pacarmu pasti sudah menunggu "
Emili menggandeng Ji agar meninggalkan toilet. Ji menyipitkan mata dan memandang Emili dengan tajam
" Hei, siapa yang bilang kalau dia adalah pacarku? Itu tidak benar! "
Emili tersenyum menanggapinya
" Baiklah baiklah, bukan pacarmu. Ayo jalan! "
Emili dan Ji melangkahkan kaki untuk meninggalkan toilet
" Hei, aku belum selesai bicara dengan kalian. Siapa yang mengizinkan kalian pergi?! " Nasya yang kesal berteriak dari belakang kemudian mendorong Ji dan Emili hingga jatuh tersungkur ke lantai
" Ah,,! "
Ji dan Emili sama - sama berteriak karena terkejut. Beruntunglah mereka tidak terluka. Ji menoleh dan menatap Nasya dengan tatapan yang begitu tajam sambil membantu Emili bangun
Nasya tiba - tiba gemetar karena tatapan dari Ji
__ADS_1
" Kamu cari mati ya?! Jangan salahkan aku, karena sekarang aku ikut terlibat dalam masalah mu dengan Emili! Kamu harus menerima akibatnya karena telah berani memprovokasi ku! Kamu yang memilih kehancuran mu! "
Kata Ji dengan tatapan dan suara yang menyeramkan. Dia mengambil ponsel dari tas nya dan menghubungi seseorang.
" Halo Bi "
Ji menyapa Biru ketika telepon telah tersambung
" Ada apa? Kalian lama sekali ke toiletnya? Apa ada maslah? "
Biru yang sedang menunggu mereka sambil berbincang dengan Edward bertanya dengan tenang
" Aku mau kamu cari tahu tentang keluarga Aditya. Mereka dari kalangan pebisnis kota ini. Keluarga itu harus hancur. Mereka tidak pantas berada dalam lingkungan bisnis karena terlalu sombong. Mereka berani memandang rendah orang lain. Biar nona muda mereka merasakan bagaimana rasanya jadi gelandangan! "
Bi mengernyitkan dahi mendengar suara saudara kembarnya yang begitu marah
" Kalian masih di toilet? Aku kesana sekarang! " Biru segera bangun dan berjalan dengan cepat menuju toilet di ikuti Edward dari belakang.
" Hahaha, kalian sedang main drama? Siapa yang akan percaya kalau kamu bisa menghancurkan keluarga ku hanya dalam waktu satu hari? "
" Kita lihat saja nanti! Jangan panggil aku Jingga Riani Putri Kusuma. Jika tidak bisa menghancurkan keluarga mu yang bukan apa - apa itu! "
Ji tersenyum licik sambil menatap wajah Nasya yang seketika berubah pucat karena terkejut
" Apa? Kusuma? Kamu,,,,, kamu,,,,, putri dari Tuan Yudha? Pebisnis terkenal itu? Bagaimana mungkin? "
Nasya terdiam wajahnya berubah semakin pucat seperti mayat
Ji menyeringai, merasa puas dengan melihat reaksi Nasya. Nada bicaranya begitu tenang tapi senyumnya berubah menjadi senyum yang begitu licik
__ADS_1
" Sudah aku katakan, kalau kamu akan menyesal jika aku ikut terlibat dengan masalah mu dan Emili. Tapi kamu tidak mendengarkan peringatan ku,, dan sekarang kamu tunggu saja kehancuran keluarga mu yang super kaya itu! "
Ji berbalik dan hendak pergi meninggalkan Nasya, tapi tiba - tiba dia tersungkur di kaki Ji dan memohon sambil memegang kaki Ji. Air matanya mengalir begitu deras
"Nona aku mohon, jangan hancurkan keluarga ku. Aku benar - benar minta maaf padamu. Aku sudah memohon dan bersujud dikaki mu agar kamu memaafkan ku kali ini saja "
" Aku sudah membuat keputusan, dan itu tidak bisa ditarik lagi "
Ji dan Emili berjalan meninggalkan Nasya yang sedang menangis sendirian
Biru dan Edward datang dengan tergesa - gesa
" Apa yang terjadi Ji? "
Biru mendekati Ji dan Emili, dia akhirnya melihat Nasya yang sedang duduk di lantai dengan deraian air mata dan mengerti semuanya
Biru memicingkan mata dan tersenyum pada Emili " Kamu tidak papa? "
Sebelum menjawabnya Emili menoleh kebelakang dan melihat Nasya
" Aku tidak papa, hanya saja,,, dia,,,, "
" Biarkan saja, pasti dia sendiri yang minta Ji untuk bermain - main dengannya. Benarkan?
Karena Ji tidak akan mengambil keputusan begitu saja! Ayo kita pergi! "
Bi menggandeng Emili dan Edward mendekati Ji...
" Gadis kecil, apa kamu sudah selesai? Ayo kita pergi? "
__ADS_1
Ji hanya mengangguk dan berjalan pergi bersama Edward