
Mata Ji mulai berkaca - kaca menerima perlakuan Ed yang begitu manis kepadanya.
" Sunshine, sampai kapan kamu akan membiarkanku berlutut seperti ini? Ayolah jawab pinanganku! Apa kamu bersedia menjadi istriku? "
Ji masih tidak bicara, namun kini air mata haru mulai menetes dari matanya.
Ji menganggukkan kepala perlahan dan berkata " Iya, aku mau Ed "
Senyum disertai air mata mengiringi rasa bahagia Ji. Ed pun akhirnya menyematkan cincin itu di jari manis Ji.
Sambil mencium lembut cincin yang ada di jemari Ji dia berkata " Terimakasih sunshine. Aku sangat bahagia hari ini. Nanti kita akan pulang ke negara A untuk menemui orang tuaku dan juga orang tuamu "
" Kita akan segera membahas tentang pernikahan kita. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi "
Ed berdiri dan memeluk Ji dengan Erat
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara di tempat Emili, dia sedang berselisih dengan ibu tirinya, Sandra
" Emili, nanti keluarga Bayu Indrayasa akan datang untuk makan malam. Kamu harus pulang tepat waktu! "
Sandra berkata dengan nada yang sedikit ketus
" Untuk apa mereka kerumah mah? Apa ada acara penting? "
Tanya Emili dengan dahi mengkerut
" Mama berencana untuk menjodohkan kamu dengan Bayu. Jadi keluarganya kesini untuk bertemu kamu "
Emili terkejut sampai di berdiri dari duduknya
" Apa mah? Dijodohkan?
Emili nggak mau dijodohkan. Mili sudah punya pilihan sendiri! "
__ADS_1
Katanya dengan nada yang kesal
" Kamu tidak dapat membantah mama. Ini sudah diputuskan. Dan mau tidak mau, kamu harus menuruti kata - kata mama dan jangan mempermalukan keluarga kita! "
Sandra dengan nada kesalnya yang tidak ingin dibantah
" Tapi kan mah, ini pernikahan Mili. Mili tidak kenal dengan Bayu dan Mili ingin menikah karena cinta mah "
" Bayu berasal dari keluarga terpandang, kamu tidak akan kekurangan jika bersama dengannya. Terlebih lagi dengan menikahi Bayu, kamu bisa menolong perusahaan kita yang sedang kekurangan investor "
" Aku tidak ingin pernikahan bisnis. Aku ingin menikah karena cinta! Mama juga tahu kalau pernikahan bisnis tidak bisa membuat kita bahagia. Aku ingin hidup bahagia setelah menikah mah. Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan mama. Kali ini aku mohon dengarkan aku mah. Biarkan aku menikah dengan pria yang aku cintai "
Air mata mulai mengalir dari mata Mili dan membasahi kedua pipinya
" Mama tidak mau dengar alasan kamu. Mama bilang kamu harus menikah, berarti kamu harus menikah. Malam ini kamu harus hadir! Jika kamu berusaha menghindar dari acara malam ini, mama akan kurung kamu di gudang belakang . Agar kamu tidak dapat pergi kemanapun!"
Kata Sandra dengan nada kesal kemudian berbalik meninggalkan Emili sendiri.
Mili terdiam dengan ancaman sang mama. Wajahnya tiba - tiba pucat dan dia gemetar ketakutan.
Disana sangat gelap dan sempit, hanya ada 1 jendela kecil saja di bagian atas. Belum lagi banyak tikus dan kecoa yang juga ada disana. Karena itulah Emili mempunyai paranoid terhadap kegelapan.
Emili membutuhkan beberapa saat untuk bisa kembali menenangkan dirinya. Setelah dirasa dia mulai tenang. Emili meraih ponsel dihadapannya dan menghubungi Biru.
Tuuuut tuuut tuuuttt
2 kali panggilan Mili tidak di angkat oleh Bi. Dia menekan nomornya lagi
Tuuut tuuut tuuut
" Halo Bi "
Mili langsung menyapa ketika panggilannya tersambung
" Halo "
__ADS_1
Emili mengernyitkan dahi mendengar suara wanita dari ujung telepon
" Halo, ini siapa? Bagaimana bisa ponsel Biru ada padamu? "
" Saya Diandra. Pak Biru sedang ke toilet dan dia tidak membawa ponselnya. Kamu siapa ya? Kenapa menghubungi nomor pribadi pak Biru? "
" Saya Mili pacarnya Biru "
Suara Mili terdengar sangat dingin dan kesal. Suasana hatinya yang buruk karena Sandra, kini bertambah semakin buruk
" Pacarnya yang mana? Sepertinya pak Biru banyak dikelilingi oleh wanita. Apa kamu yang waktu itu datang ke kantor dan memiliki bekas luka ditubuhmu? "
Emili mulai berpikir mendengar perkataan wanita itu
" Siapa yang datang ke kantor Biru?
Memiliki banyak bekas luka? "
Tak lama terdengar suara pria di ujung telepon, dari nada suaranya terdengar sangat dingin dan marah
" Kenapa kamu berani menyentuh ponselku? Siapa yang mengizinkan mu mengangkat panggilan teleponku, hah? "
" Ma ma maaf pak Biru tadi ponsel anda terus berdering jadi saya berinisiatif mengangkanya "
Kata Diandra dengan nada yang terbata - bata ketakutan
" Kamu hanya sekertaris sementara saja, kenapa berani lancang menyentuh barang pribadiku?
Kembalikan ponselku! "
Bi mengulurkan tangan, meminta ponselnya lagi
" Ini pak, maaf "
Diandra tertunduk dan tak berani memandang Biru
__ADS_1
" Keluar dari ruanganku, dan kamu saya pecat! "