
Kalina masih terdiam menatap Ed dan Ji yang berjalan menjauh dari aula, dia tak dapat bicara apa - apa lagi. Rencananya untuk mempermalukan Ji semua gagal dan sudah dapat dipastikan kalau dia pasti mendapatkan sangsi tegas dari Ed, karena telah menyalah gunakan keahliannya sebagai tentara wanita
" My queen, apa kamu tidak papa? "
Kata Ed yang kini berada diruangannya. Dia memegang tangan Ji yang terluka, menggulung bagian lengan baju Ji dan melihat tangannya yang lebam karena terkena tendangan Kalina, kemudian Ed mengoleskan krim untuk lebam pada tangan Ji.
" Aku tidak papa, ini hanya sedikit lebam saja! "
Ji tidak menunjukkan rasa sakitnya sama sekali.
Pandangan Ed tertuju pada bekas luka yang berada di dekat siku tangan Ji. Seketika wajahnya terlihat murung dan sedih
" Pasti sakit sekali! "
Ed berkata dengan suara gemetar
" Apa? "
" Ini,,, pasti saat itu kamu sangat kesakitan ketika mendapatkan luka ini? Maaf, aku tidak bisa melindungimu saat itu. Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri. Jika saja saat itu aku tidak beranjak dari sisimu, pasti tidak akan ada kesempatan untuk wanita gila itu menyakitimu. Aku sungguh minta maaf, ini semua terjadi karena keteledoranku! "
Ed tertunduk dan tanpa terasa air matanya menetes pada tangan Ji
" Sudahlah, itu sudah berlalu. Itu pelajaran untukku agar lebih berhati - hati "
Kata Ji lembut dambil mengusap kepala Ed.
Ed mengangkat kepalanya dan dengan air mata yang masih berlinang, dia berkata
" Kita secepatnya melakukan operasi untuk menghilangkan bekas lukamu? Mili juga sembuh total setelah operasi. Jika terlalu lama, aku takut bekas luka ini tidak akan bisa disembuhkan "
" Apa kamu merasa risih dan jijik dengan bekas luka yang ada ditubuhku ini? "
Tanya Ji dengan memicingkan matanya menatap Ed. Ed menggelengkan kepala sebelum akhirnya berkata
" Aku sama sekali tidak merasa risih atau jijik.. Hanya saja,, hatiku terasa sakit mengingat betapa kejamnya kamu di aniaya saat itu. Hatiku merasa sakit mengingat kamu menanggung sendiri rasa sakit ini, sedangkan aku, tidak bisa membantumu sama sekali. Aku tidak bisa melakukan apa - apa untukmu "
Air mata Ed kini tumpah dipundak Ji. Ji terdiam, entah harus bagaimana dia menghibur Ed. Akhirnya Ji hanya diam dan mengusap kepala Ed dengan lembut. Setelah beberapa lama Ed mulai tenang kembali.
" Kita masih harus mengurus Kalina. Dia tidak bisa lepas dari sangsi skorsing! "
Kata Ed dengan nada dingin dan tatapan mata penuh kemarahan. Ed berdiri dan mengangkat tangannya setengah agar Ji bisa mengaitkan lengannya di sekitar siku Ed. Mereka kembali ke aula untuk mengurus masalah Kalina.
Wajah Ed terlihat sangat menyeramkan membuat orang yang berada didekatnya merasa merinding. Semua terdiam melihat Ed berjalan memasuki aula dengan tatapan kemarahan. Seketika aula hening dengan kedatangan Ed
" Kalina! Kamu tahu apa kesalahan mu? "
Katanya dingin dengan tatapan tajam menatap pada Kalina dan Ji berdiri disamping Ed dengan tenang
" Siap, Letnan Jendral. Saya menyalah gunakan kemampuan saya sebagai tentara. Sebagai tentara, harus melindungi warga sipil "
Jawab Kalina denga tegas dan wajah lebam dan terdapat plester kecil
" Lantas jika kamu tahu, kenapa kamu malah menantang seorang warga sipil. Jika dia tidak pandai olah raga dan bela diri, apa yang akan kamu lakukan? Kamu sengaja ingin menghabisinya ditempat? "
Kata Ed dengan tegas dan aura kepemimpinan yang mengintimidasi
" Tidak letnan jendral. Saya hanya ingin sedikit memberikan pelajaran pada nona Jingga agat tidak mengganggu kedamaian pasukan militer "
__ADS_1
" Apa maksudmu? "
" Karena nona Jingga adalah penyebab Jendral Bram mundur dari jabatannya "
" Jika Jingga adalah penyebabnya, lantas bagaimana dengan Laura? Apa dia tidak bersalah? Kenapa kamu tidak mengajaknya berduel, sedangkan dia yang menimbulkan masalah ini? "
Kalina terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaan dari Ed
" Sersan Satu Kalina Suwandi. Perhari ini kamu dibebas tugaskan selama 1 bulan dan mendapatkan penurunan jabatan satu tingkatan menjadi Sersan Dua. Apakah kamu merasa keberatan? "
" Siap. Tidak Letnan Jendral! "
" Kamu bisa melapor sekarang! Dan ini sebagai contoh untuk kalian jika kalian menyalah gunakan keahlian kalian untuk kepentingan pribadi! Mengerti? "
" Siap Letnan Jendral "
Semua tentara yang berada disana menjawab Ed dengan serempak.
Ed dan Ji meninggalkan aula menuju parkiran mobil.
" Apa kamu akan ke perusahaan mu? "
Tanya Ed begitu tiba di mobil Ji
" Tidak, kurasa,,, aku akan langsung pulang. Hari ini Vio akan pulang ke negara A. Aku akan membantunya merapikan barangnya "
" Kenapa Vio pulang? Bukankah dia ingin mencari tambatan hatinya disini? "
" Papi meminta Vio pulang untuk menghadiri pesta penyambutan salah satu pebisnis di negara A Selatan. Sebelumnya papi meminta aku yang menemaninya, tapi aku tidak mau. Jadi si cerewet yang pergi "
" Biar aku yang mengemudi, sepertinya kamu akan sedikit kesusahan karena memar ditanganmu "
" Ayolah, ini hanya luka kecil "
" Aku tidak peduli, tetap saja aki hatus mengantarmu! "
" Terserah kamu saja! "
Ji berbalik dan menuju pintu penumpang di arah yang satunya
" Perlu bantuanku? "
Kata Ed menggoda
" Tidak perlu! "
Ceklek ceklek ceklek
Ji berusaha membuka pintu mobil berkali - kali.
" Ed, apa kamu belum membuka kunci pintunya? "
Kata Ji dengan nada curiga
" Tentu saja,,,, belum "
" Cepat buka pintunya! "
__ADS_1
Kata Ji kesal. Namun Ed melah berjalan memutari mobil
" Hei, kamu mau kemana? "
Tanya Ji heran
" Tentu saja membukakan pintu mobil untukmu! "
Ed menjawab dengan senyum tak bedosa, namun Ji malah memukul sendiri dahinya
Plak
"Bagaimana bisa aku bertahan dengan pria gila ini? benar - benar menyebalkan! "
" Silahkan my queen! "
Ed membuka kunci mobil setelah dia berdiri di dekat Ji dan membukakan pintu untuknya.
Pyuuhhh
Jingga hanya bisa menghela napas kasar dan masuk ke dalam mobil. Mereka berkendara menuju apartemen Ji..
" Ed apa tidak masalah kamu menghukum Kalina dengan memberikannya skorsing dan penurunan jabatan? "
" Tidak masalah, itu memang salahnya. Siapa suruh dia membuat ulah tanpa mempertimbangkan konsekuensinya! "
Jawab Ed acuh tak acuh sambil fokus mengemudi.
" Apa tanganmu benar - benar tidak papa,my queen? "
" Aku benar - benar tidak papa. Ini bisa ku kompres dengan air hangat nanti "
" Baiklah! "
Mereka berbincang selama perjalanan dari pangkalan militer hingga ke apartemen
" Apa kamu mau naik dulu sebentar? "
Tanya Ji begitu tiba di apartemen
" Tidak usah, aku masih harus kembali ke pangkalan dan membuat laporan mengenai Kalina "
" Jika begitu untuk apa kamu mengantarku? Merepotkan saja! "
Kata Ji sinis
" Aku sama sekali tidak merasa repot, karena untukmu,, aku rela jika harus menjadi seorang supir "
Ed tersenyum menggoda Ji
" Sudahlah, kamu bawa saja mobilku. Akan lebih merepotkan jika harus naik taksi "
" Siap yang mulia ratu "
Kata Ed sambil memberi hormat
" Sudah, aku naik. Hati - hati diperjalanan mu! "
__ADS_1
Ji mulai berjalan masuk ke apartemen meninggalkan Ed yabg masih menatapnya. Setelah Ji tak terlihat lagi, barulah Ed pergi dari apartemen Ji