Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Keluarga Kusuma pantang untuk menarik kata -katanya kembali


__ADS_3

" Apa maksudmu mengatakan itu? Memangnya siapa kamu? Bersikap begitu sombongnya di depanku? "


Kata Stefi acuh tak acuh dengan apa yang dikatakan Vio. Dia masih saja bersikap sombong


" Apa kamu tidak pernah menonton berita? Atau membaca majalah bisnis? Seharusnya kamu tahu siapa kami. Eh,,, tapi kak Ji dan kak Bi memang tidak suka tampil di depan publik, wajar kalau kalian tidak mengenal kakak ku. Tapi kalau wajahku,, harusnya setiap orang akan dengan mudah mengenaliku, karena sering muncul dalam majalah bisnis sebagai putri dari pengusaha terkenal. Kamu tidak pernah mendengar nama Kusuma sebelumnya? " Vio berkata setenang mungkin kepada Stefi namun nada suaranya terdengar begitu dingin. Stefi terlihat berfikir mendengar apa yang dikatakan Vio


" Kak, bisakah kamu menghubungi asisten pribadi mu untuk mencari tahu mengenai keluarga Agung Ranajaya? " Kata Vio dengan nada yang tenang tapi terdengar sinis dan sombong


" Kurasa akan lebih cepat jika kamu menghubungi papi atau om Hendri. Informasi mengenai keluarga itu dan cara mengahancurkannya akan lebih cepat kamu dapatkan! " Kata Ji dengan senyum sinis sambil melipat tangan didada. Ed hanya diam melihat pertunjukan kakak dan adik tersebut. Dia sudah hafal betul sifat dari setiap anggota keluarga ini. Tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka jika sudah bertindak.


" Kak Ed, bagaimana menurutmu? " Vio meminta pendapat pada Edward yang hanya dia memperhatikan dengan wajah cool yang jadi khasnya


" Jangan tanya padaku. Itu urusanmu, kamu yang punya masalah dengannya. Kamu yang harus menyelesaikan semuanya. Lain ceritanya jika itu berhubungan dengan kakak mu. Aku akan jadi orang pertama yang turun tangan " Kata Ed acuh tak acuh


" Baiklah, karena dia menggunakan nama ayahnya tentu tidak salah bagi ku menggunakan nama papi kan? "


Kata Vio dengan senyum penuh kelicikan.


Vio merogoh ponselnya di dalam tas dan menekan nomor Yudha


" Halo, papi "


" Halo vio. Ada apa sayang? "


Terdengar suara dingin Yudha dari ujung telepon


" Papi, bisakah papi menyelidiki tentang Agung Ranajaya? Kurasa itu bukan hal sulit bagi papi. Karena papi Yudha Arya Kusuma pasti akan dengan mudah melakukan apapun yang di inginkan "


Vio berkata dengan senyum penuh kelicikan sambil menoleh pada Stefi yang saat ini wajahnya sudah mulai pucat pasi mendengar nama Yudha. Apalagi Vio menggunakan pengeras suara sehingga semua orang yang ada disana bisa mendengarnya


" Tentu saja sayang. Papi akan meminta Hendri untuk mengirimkan informasinya padamu "


" Terimakasih papi. Aku mencintaimu. Muach .." Vio menutup panggilan teleponnya dengan Yudha


" Bagaimana? Apa kamu ingin menghubungi papamu agar dia bisa membelamu? Silahkan saja, aku tidak akan melarangnya "

__ADS_1


Kata Vio lagi dengan senyum penuh kesombongan. Stefi tak dapat berkata apa - apa. Tak lama ponsel Vio bergetar tanda sebuah pesan masuk telah diterimanya. Dia membuka dan membacakannya


" Agung Ranajaya, pengusaha properti terkenal di negara F. Memiliki seorang istri dan seorang putri yang senang berfoya - foya.dan bla.. bla... bla... Cih,, Hanya seorang pengusaha properti saja sudah sombong. Apalagi kalau kamu punya perusahaan tambang batu bara atau emas ya? "


Cibir Vio kepada Stefi.. Lalu Vio menghubungi Hendri


" Halo, on Hendri "


Sapa Vio ketika panggilannya tersambung


" Iya non Vio, ada apa? "


" Saya mau besok keluarga Ranajaya dihapus dari daftar pengusaha properti. Saya tidak ingin mendengar ada nama keluarga Agung Ranajaya lagi di negara F atau dimanapun. Mereka tidak pantas menjadi keluarga bangsawan. Jadi, om Hendri tolong bereskan mereka ya, bagaimanapun caranya! "


Kata Vio dengan yang tenang namun dengan senyun penuh kelicikan


" Baik non, akan saya laksanakan! "


" Terimakasih om! "


" Bagaimana? Masih ingin bermain dengan ku atau memberiku pelajaran? "Tanya Vio dengan senyum mengejek kepada Stefi yang terduduk lemas dilantai


" Ini pelajaran untuk mu juga yang lain agar tidak mengusik sembarangan orang. Berani - beraninya mencari masalah hanya dengan modal nama keluarga. Kamu pikir keluargamu itu orang paling kaya seantero jagad, hah? Sekarang kamu rasakan akibat dari kesombongan mu dan karena telah berani mengusik ku "


Stefi yang telah berderai air mata merangkak pada Vio dan menyentuh kakinya seraya memohon


"Tolong ampuni aku, aku mengaku salah. Aku telah bersikap kurang ajar padamu. Kumohon jangan hancurkan keluarga ku! hiks..hiks.. hiks.. Aku telah menamparmu aku akan menampar diriku sendiri


Plak,,, plak,, plak,, "


Stefi memohon dan menampar dirinya sendiri agar Vio tidak menghancurkan keluarganya


"Hentikan! Itu tidak akan berhasil. Keluarga Kusuma sangat pantang menarik kata - katanya kembali. Tunggulah kabar kebangkrutan keluargamu! " Kata Vio sambil berbalik hendak meninggalkan tempat itu


" Dan kamu, kak Rian. Pria macam apa kamu? Kamu tahu siapa aku karena kamu adalah teman dari kakakku, tapi kamu membiarkan gadismu ini bersikap kurang ajar dan sombong padaku. Pacar dan teman seperti apa kamu? Tega membuat adik dari teman sendiri direndahkan dan juga tega membiarkan pacarmu masuk ke kandang buaya. Pria bren*sek, itu sebutan yang tepat untukmu! "Kata Vio kepada Rian tanpa melihat wajahnya

__ADS_1


" Hei aku tidak bermaksud seperti itu, dan dia juga bukan gadisku! "


Teriak Rian mencoba menjelaskan kepada Vio yang berjalan semankin menjauh darinya bersama Ji dan Ed. Dia kemudian menoleh menatap Stefi yang terlihat begitu menyedihkan dengan duduk dilantai sambil tertunduk wajahnya sudah terlihat kusut dan berantakan


" Sudah ku katakan padamu untuk tidak mengusiknya. Sekarang lihatlah akibat dari keberanian mu itu! Kau membawa kehancuran bagi keluargamu sendiri. Tidak ada yang bisa kau lakukan atau ayahmu lakukan untuk bisa memperbaikinya. Kau hanya bisa menyesal dengan kesombongan mu itu! "


Perkataan Rian membuat Stefi semakin berderai air mata. Benar, sekarang, dia hanya bisa menyesali apa yang sudah dia lakukan tanpa bisa melakukan apapun yang berarti.


" Bangunlah! Biar aku mengantarmu pulang! "


Kata Rian sambil memandangi Punggung Vio yang semakin menjauh


" Kak Ji dan kak Ed, bagaimana bisa berada disini? " Kata Vio dengan tenangnya


" Kami hendak menonton film dan melihat keributan yang kau buat! " Kata Ji dengan nada datar


" Bukan aku yang mulai, aku sudah membiarkannya dan tidak menggubrisnya, tapi sepertinya dia masih penasaran padaku hingga masih mengejarku, bahkan menamparku. Ach, aku benar - benar sial jika bertemu gadis itu. Menyebalkan! "


Vio menggerutu dengan nada yang manja


" Kak Ed, apa kak Eda tahu kalau ka Biru mengalami kecelakaan? "


Katanya sambil memicingkan menatap Ed yang sedang bergandengan tangan dengan Ji


" Iya, aku mendengarnya ketika aku pergi ke perusahaan Ji dan Adel yang memberi tahuku. Maka dari itu aku langsung pergi kerumah sakit "


Ed menjelaskan dengan tenang


" Kamu pergi ke perusahaan ku? "


Tanya Ji dengan dahi mengkerut


" He'eh... Aku bermaksud memberimu kejutan, kemudian aku melihat Adel dan bertanya padanya. Katanya kamu tidak masuk kantor untuk beberapa waktu. Karena itu aku langsung pergi kerumah sakit "


Ed menganggukkan kepala ketika menjelaskan, Ed dan Ji saling menatap dengan penuh kasih sayang ketika berjalan hingga Vio mulai mengoceh

__ADS_1


" Hentikan untuk memamerkan kemesraan kalian dihadapanku! Aku sedang kesal tapi kalian malah bermesraan. Huh menyebalkan! "


__ADS_2