Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Memberinya pelajaran kalau terlalu serakah dan mata duitan itu tidak baik


__ADS_3

Biru ma Mili hari ini memutuskan untuk berangkat ke kantor. Biru sudah rapih dengan setelan jas miliknya. Dia sedang menunggu Mili bersiap sambil menikmati secangkir kopi ditangannya. Tak lama Mili datang dengan tas kerja milim Biru


" Bi, apa kamu udah siap? " Tanya Mili lembut yang sudah berdiri di dekat kursi roda


" Iya sayang. Ayo kita berangkat sekarang! " Mili tersenyum dan menoleh pada nek Marni


" Nek, kami pergi ke kantor dulu "


" Baiklah, Kalian berdua harus hati - hati! "


" Iya nenek tenang saja! "


Mili bergegas mendorong Biru menuju mobil untuk segera berangkat ke kantor.


Jalanan pagi yang masih sedikit berembun, sudah cukup ramai dilalui kendaraan yang berlalu lalang. Mili yang mengendarai mobil dan Biru sedang membaca dokumen kantor


" Sunshine, sepertinya kita harus menggunakan supir kali ini " Biru menyarankan pada Mili


" Untuk apa Bi? kan ada aku. Aku kan bisa menyetir mobil sendiri ". Kata Mili yang sedang fokus mengendarai mobil melihat ke jalan di depannya, tapi sesekali ia menoleh kepada Biru


" Aku tahu kamu bisa menyetir, tapi jika kita pakai supir. Kamu bisa istirahat ketika kamu merasa lelah saat pulang "


" Aku tidak papa Bi, kamu tidak perlu khawatir! "


Tak terasa, mereka akhirnya tiba dikantor Biru. Mili memarkirkan mobil setelah itu membantu Biru turun dari dalam mobil dan mendorongnya masuk ke dalam gedung Taeson Elektronik. Semua mata tertuju pada mereka. Biru yang duduk di kursi roda dan wajah Mili yang telah berubah, menjadi bahan gunjingan karyawan kantor.


*Lihatlah itu! Pak Biru sekarang jadi pria cacat ya? Sepertinya dia juga ditinggalkan oleh wanita yang sebelumnya. Lihat saja, wanita yang mendorongnya kali ini berbeda


Kamu benar. Mungkin pak Biru ditinggalkan perempuan itu karena sekarang dia cacat


Sudah - sudah. Ayo kita masuk, bisa terlambat kita jika berdiri disini terus


Baiklah*!


Biru dan Mili sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan para karyawan setelah melihat kondisi Biru saat ini. Mereka terus berjalan menuju lift dan naik ke lantai atas dimana terdapat ruang kerja milik Biru


" Eh Bi, kamu sudah masuk kerja? Bagaimana dengan kondisimu? " Sapa Alex ketika melihat Biru keluar dari dalam lift dan hendak masuk ke dalam kantornya


" Aku sudah lebih baik. Hanya saja,,,, kamu lihat sendiri kan bagaimana? "


" Ahhh kalau itu kamu tidak perlu khawatir Bi, aku yakin kamu akan sembuh dan bisa berjalan lagi seperti sedia kala. Apa ini... Mili? " Alex beralih kepada Mili setelah dia menyelesaikan perkataannya pada Biru


" Kamu benar Lex ini saya Mili. Bagaimana kabarmu? " Tanya Mili dengan senyum tipis diwajahnya

__ADS_1


" Aku baik dan semuanya berjalan dengan lancar " Kata Alex dengan gaya bicaranya yang selalu ceria dan bersemangat


" Kita bicarakan diruanganku! "


Kata Biru dan langsung menggerakkan kontrol kursi roda yang terletak di pegangan tangannya. Alex dan Mili mengikutinya dibelakang


"Katakan bagaimana perkembangannya! "


Kata Biru dengan nada berwibawanya


" Perusahaan Anggara kehilangan tender besar mereka. Saat ini mereka juga sedang mengalami penurunan saham karena kabar keluarnya Mili dari perusahaan. Seperti yang kita tahu, bahwa perusaan itu selama ini di kendalikan oleh Mili, maka dari itu banyak yang meragukan manajemen yang sekarang mengelola perusahaan. Kita sudah memiliki 42% saham perusahaannya. Mili bisa ikut bergabung dalam jajaran direksi perusahaan Anggara " Kata Alex menjelaskan dengan santainya.


Mili terlihat bingung dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Alex. Dia mengernyitkan dahi mendengarnya


" Apa maksudmu? Bagaimana kamu bisa memiliki saham sebesar itu? " Tanya Mili seakan tak percaya


" Cukup mudah bagi kami untuk melakukannya. Kami ahli dibidang komputer dan aku membeli saham sedikit demi sedikit dengan akun yang berbeda atas perintah Biru. Selama kalian tidak ke kantor, aku yang mengerjakan semuanya " Katanya dengan nada sombong.


Mili menoleh pada Biru dan berkata


" Bi,, kamu sudah merencanakan semuanya? "


Mili mencoba meyakinkan diri sendiri dan Biru menjawab dengan senyuman


" Sayang, sudah pernah ku katakan sebelumnya, kalau perusahaan itu akan jadi milikmu. Cepat atau lambat " Bi menunjukkan senyum liciknya


" Mudah saja. Buat saja perusahaan mu itu bangkrut jadi kamu tidak perlu lagi mengurusinya "


"Bagaimana caranya Bi? Perusahaan ku stabil saat ini, meskipun ada penurunan saham tapi masih bisa di atasi. Tidak mungkin kita bisa membuatnya bangkrut "


" Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan kita menjual saham perusahaan dibawah harga pasaran, maka perusahaan itu bisa langsung bangkrut. Tapi itu tidak akan menyenangkan jika Sandra harus melihat bangkrutnya perusahaan dia hanya dalam waktu sekejap. Paling tidak, Sandra bisa merasakan sedikit penyesalan dulu " Biru tersenyum penuh arti. matanya menunjukkan kelicikan


" Lex cari tahu mengenai para pemegang sahamnya berserta seluruh informasi mengenai mereka. Aku yakin mereka juga menyembunyikan bangkai yang akan tercium bau busuknya "


" Tentu, aku mengerti Bi! "


Alex tersenyum lebar dan berjalan keluar meninggalkan ruangan Biru.


" Bi, apa kita tidak terlalu kejam pada mama? Meskipun mama selalu menganiaya ku, tapi mama juga membesarkan aku "


Wajah Mili sedikit murung


" Sunshine.. bukannya kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengannya? Aku hanya ingin dia membayar atas apa yang dia lakukan padamu selama ini. Dan memberinya pelajaran kalau terlalu serakah dan mata duitan itu tidak baik. Dia bisa menyesali semuanya saat dia kehilangan semua yang dia miliki "

__ADS_1


Bi berkata sambil memegangi tangan Mili dan mengelusnya dengan lembut


" Baiklah Bi, aku percaya padamu! "


******


Di negara A. Jingga dan Ed sedang menikmati waktu berdua mereka di taman belakang. Sampai ayah dan ibu Ed datang menghampiri mereka


" Ternyata kalian berdua ada disini? "


Kata Ayah Ed yang berjalan beriringan dengan sang istri, Maria . Dia berkata sambil tersenyum


" Kemarin kita tidak sempat berbincang karena banyak tamu yang berkumpul " Ayah Ed yang bernama Erik kini telah duduk di dekat putranya


" Jingga, apa benar kamu putrinya Yudha? "


Tanya Maria yang masih tidak percaya


" Benar tante "


" Huh, awas saja dia! " Maria yang kesal mengeluarkan ponsel dan mendial nomor Yudha


Tuuuuttt tuuut tuuut


" Hallo, kak Maria "


Terdengar suara tenang Yudha dari ujung telepon setelah beberapa kali bunyi dering


" Hei, Yudha. Kamu ini ya. Adik macam apa kamu? Bagaimana kamu tidak memberitahukan padaku bahwa selama ini anak kita telah menjalin hubungan? "


Maria mulai mengoceh, sikapnya hampir sama dengan sang adik Mario yang selalu bicara terang - terangan


" Hahaha, kak Maria, aku hanya ingin kaka tahu sendiri mengenai hubungan mereka. Aku tidak ingin kakak mengira kalau aku yang sudah mempertemukan mereka "


Yudha berkata dengan sangat tenang.


" Baiklah aku mengerti. Jika kamu ada disini, aku sudah pasti menjewer kupingmu itu. Kapan kamu akan datang kemari? Sudah lama sekali kamu dan Steve tidak kemari "


" Nanti aku akan ajak Gina kesana jika kami ada waktu "


" Huh, sok sibuk sekali kamu. Ya sudah nanti ku hubungi lagi! " Maria menutup panggilan mereka. Ji hanya tersenyum mendengar percakapan antara Maria dan papinya


" Hai semuanya! Rupanya kalian semua ada disini"

__ADS_1


Laura datang dan tiba - tiba duduk di sebelah Ed. Orang tua Ed tercengang dan Ji mengernyitkan dahi melihatnya sambil menggerutu dalam hati


" Ih dasar perempuan tidak tahu malu. Padahal dia sudah tahu kalau aku kekasihnya Ed, tapi dia masih berani mendekati Ed dengan sikap manjanya di depan ku! "


__ADS_2