
Keesokan paginya Rian terus termenung sambil menatap jarum jam tanpa tidur semalaman Dia terus mencoba untuk menghubungi Yuanita namun tak satupun berhasil tersambung
" Sepertinya memang sudah tidak ada harapan. Aku tidak bisa membangkitkan kembali perusahaan yang papa dirikan. Semuanya sudah berakhir. Dan ini karena aku yang tidak pernah serius dalam mengerjakan sesuatu "
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyadarkan Rian dari lamunan
Ceklek
Terlihat ayah Rian yang masuk kedalam kamarnya.
" Kita harus segera berkemas, karena rumah ini beserta semua harta benda kita akan disita untuk menutupi pinjaman kita pada bank "
Kata ayah Rian yang hanya berdiri di depannya
" Pah, setelah ini kita mau kemana? disini kita sudah tidak punya siapa - siapa "
Nada bicara Rian yang biasanya terdengar sombong dan seenaknya, kini terdengar begitu lemah
" Kita akan pergi ke kampung tempat papa tinggal sewaktu kecil. Disana masih ada rumah kecil peninggalan mendiang kakekmu. Memang sudah lama tidak ditempati, tapi papa selalu meminta orang untuk merawat dan membersihkannya"
" Sudahlah, cepat bersiap dan kemasi barang - barangmu! Kita harus pergi ke perusahaan dan melihat perusahaan kita untuk yabg terakhir kalinya "
" Baik pah! "
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di apartemen Ji dia dan Vio sedang sarapan sebelum nanti pergi ke perusahaan Sanggara untuk menyaksikan jatuhnya keluarga itu
Ting nong ting nong
" Siapa yang pagi - pagi bertamu kemari? "
Tanya Ji pada Vio
" Entahlah! "
Jawab Vio dengan mengangkat kedua bahu secara bersamaan
" Ya sudah biar aku yang buka pintunya "
Ji berdiri dan berjalan ke arah pintu
Ceklek
Dibukanya pintu itu dan terlihat seseorang berdiri dengan wajahnya di tutupi oleh sebuah karangan bunga mawah merah yang begitu cantik.
Ji terdiam, matanya memicing seakan mengamati seseorang yang berdiri dihadapannya
" Pagi my queen! "
Hati Ji langsung berbunga mendengar suara orang yang beberapa hari ini tidak pernah muncul dihadapannya. Tapi dia berusaha menahan senyum di bibirnya dan tetap bersikap tenang
" Untuk apa kamu membawa bunga ini? Apakah ini permintaan maaf atau kamu ingin merayu seorang gadis, hah? "
Ed hanya tersenyum manis
" Kamu benar. Aku ingin merayu seorang gadis agar mau memaafkan ku karena tidak memberikan kabar selama beberapa hari terakhir. Gadis itu tentulah ratuku seorang "
Ed tersenyum kemudian meraih tangan kanan Ji dan mencium punggung tangannya
" Aaach hentikan bualanmu. Masuklah! "
Ji yang wajah dan telinganya telah berubah merah membalikkan badan dan mempersilakan Ed masuk. Tentu saja Ed snagat suka melihat Ji yang bersikap salah tingkah seperti ini. Diapun mengikuti Ji memasuki apartemen
" Hai Vi "
Sapa Ed kepada Vio dengan wajah datarnya
__ADS_1
" Halo kak Ed. Kakak kemana saja? Apa kakak tidak tahu kalau seseorang akan merasa gelisah jika kak Ed tidak ada? Apalagi tanpa memberi kabar "
" Benakah? Aku tidak tahu akan hal itu. Ku kira dia akan senang jika tidak ada aku "
Ed berbicara dengan Vio sambil tersenyum tipis, namun mata mereka terus saja melirik pada Ji yang tidak memberikan respon apapun dan tetap berusaha tenang
" Ngomong - ngomong kamu mau kemana Vi? Bukannya sekarang sudah tidak bekerja? "
Tanya Ed lagi kepada Vio
" Aku dan kak Ji akan pergi keperusahaan Sanggara yang hari ini akan disita. Kak Bi juga akan ada disana "
Kata Vio dengan antusias
Drrt drrt drrrt
Ponsel Vio bergetar, dilihatnya dilayar ponsel tertulis nama Kak Leo, senyumnya mengembang seketika dan dia segera berdiri
" Permisi kak Ed aku mau menerima telepon "
Vio pergi tanpa menunggu jawaban Ed
" Ada apa dengannya? "
Ed terlihat bingung dengan sikap Vio
" Mungkin telepon dari pacarnya "
Jawab Ji santai sambil mengesap teh miliknya
" Apa kamu sudah sarapan? "
Tanya Ji lagi
" Aku sudah kenyang dengan melihat wajahmu yang tersenyum dipagi hari! "
Jawab Ed dengan sebelah tangan menopang dagu dan terus menatap Ji
" Cih, jahatnya kamu padaku! Tadi Vio mengatakan akan pergi ke perusahaan Sanggara, ada apa? "
" Itu perusahaan milik keluarga Rian. Pria yang waktu itu bertemu dimall ketika seorang gadis menampar wajah Vio "
" Lantas kenapa perusahaannya bisa bangkrut? Apa dia bersalah pada kalian? "
" Kami tidak ada campur tangannya dengan kebangkrutan perusahaan itu. Itu murni karena sebagai direktur utama, Rian tidak becus mengelola perusahaan milik keluarganya dan hanya mementingkan cara yang cepat untuk bisa memajukan perusahaan mereka "
" Jadi? "
" Dia berusaha mendekati Vio "
" Secara tidak langsung pasti kalian ikut terlibat dengan ini. Apalagi masalah si bungsu yang manja dan belum bisa mengambil tindakan apapun "
" Entahlah. Mungkin saja "
Ji mengangkat bahu dan tangannya memainkan gelas Teh
Sementara dilantai atas Vio sedang menerima panggilan telepon dari Leo
" Halo, kak Leo. Apa kakak sudah sampai? "
Sapa Vio begitu dia menerima panggilannya
" Aku baru saja tiba di bandara dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Sanggara "
" Baiklah kalau begitu. Aku dan kak Ji akan segera tiba disana. Sampai jumpa disana kak. Hati - hati! "
" Sampai jumpa sayang! "
Vio terkejut dengan kata terakhir dari Leo yang membuatnya seketika mematung
__ADS_1
" Sayang? eummm! "
Vi memegang pipinya sendiri setelah telepon terputus
" Kak Ji, kita berangkat sekarang! "
Ajak Vio yang kini telah turun dan membawa tas miliknya
"Baiklah! "
Ji bangkit dari duduknya dan merais tasyabg dia letakkan di kursi sebelahnya
" Apa kau boleh ikut dengan kalian? "
Kata Ed yang masih duduk dikursinya
" Bukankah kamu memang harus ikut tuan jendral? Jika tidak, siapa yang akan mengantarkan kami sampai disana? "
Nada Ji terdengar begitu acuh tak acuh. namun Ed hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Mereka bertigapun berjalan keluar meninggalkan apartemen menuju perusahaan Sanggara
\=\=\=\=\=\=\=\=
Diperusahaan Sanggara, Rian dan ayahnya sedang berada diruangan yang dulu mereka tempati untuk melihat kantir tempat mereka bekerja sehari - harinya..
" Sayang, maafkan aku. Ternyata perusahaan ini hanya berdiri sampai hari ini. Setelah ini, tidak ada lagi perusahaan Sanggara "
Gumam ayah Rian yang terkenang mendiang istrinya yang dulu bersusah payah dengannya saat baru memulai bisnis
" Pah, ayo kita keluar! Perusahaan ininakan segera di ditutup "
Ajak Rian pada sang ayah
Biru dan Mili sudah tiba di depan perusahaan Sanggara. Dia masih berada di dalam mobil sebelum adiknya datang
" Bi, apa kamu tidak membantu Rian. Bukankah dia temanmu? "
Tanya Mili dengan lembut pada sang suami
" Aku sudah membantunya dengan meminjamkan uang untuk mengurangi krisis perusahaan miliknya. Tapi dia malah menggunakan uang itu untuk bersenang - senang dengan seorang wanita "
Tak lama Ed, Jingga dan Vio juga tiba disana
" Sepertinya kak Bi sudah tiba lebih dulu? "
Kata Vio begitu melihat mobil Bi, Ed turun lebih dulu untuk membuka pintu mobil Ji. Itu suatu keharusan untuknya
" Silahkan my queen! "
Ed mengulurkan tangannya untuk Ji
" Kak Ed tidak membantuku? "
" Kamu bukan ratuku, cari pengeranmu sendiri agar dia membukakan pintu mobil untukmu
" Cih menyebalkan! "
Ji tersenyum dengan sikap Ed pada gadis lain. lalu mereka berjalan mendekati Bi yang kini telah berdiri di depan mobilnya
" Sepertinya kamu begitu bersemangat untuk membelikanku mobil baru, kakak kembarku tersayang? "
Ji tersenyum dengan menaikkan kedua alisnya bersamaan
" Itu karena aku ingin menyaksikan sendiri kekalahanku, agar aku tidak tertipu olehmu "
Jawab Bi acuh tak acuh
Rian menyaksikan ketiga bersaudara itu sedang berdiri tidak jauh dari gedung. Dia memutuskan menghampiri mereka
" Kenapa kalian semua bisa berada disini? "
__ADS_1
" Untuk menyaksikan kemenangan ku secara langsung! " Jawab Ji dengan entengnya