Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Aku juga suka sikapnya yang sombong seperti itu


__ADS_3

Waiters itu masih menatap Ed dengan penuh harap..


" Hallooo,,


Sampai kapan kamu akan terus memandanginya seperti itu.. ? Tidak kah kamu mau meletakkan kopi yang dia pesan? Sepertinya kopinya sudah semakin dingin? "


Kata Ji dengan nada suara yang tenang disertai senyum sinis dan sebelah tangannya digunakan untuk menyanggah dagunya


" Maaf nona, saya tidak bermaksud seperti itu " Waiters tertunduk malu sambil meletakkan secangkir kopi yang Ed pesan


"Silahkan kopi anda.. Selamat menikmati "


Sambung sang waiters sebelum dia berjalan meninggalkan meja Ed dan Ji


Ich cantik - cantik tapi sombong. Mentang - mentang pacarnya tampan


Gumam waiters ketika mulai berbalik meninggalkan mereka. Namun, Edward mendengar perkataan waiters itu.


" Permisi! "


Edward memanggil waiters dan langkahnya pun berhenti kemudian berbalik


" Ya tuan, ada yang bisa saya bantu lagi? "


Tanya waiters sambil tersenyum manis


" Siapa namamu? "


Tanya Ed dengan datar, dan wajah Ji terlihat kesal. Matanya membelalak dan bibirnya mengerucut


Ach, dia menanyakan namaku. Benarkah ini? Oh Tuhaann pria tampan ini benar - benar menanyakan namaku!


Tik tik


Jentikan jari Ed didepan gadis itu membuat dia tersadar dari lamunannya


" Ach maaf, saya Alana, tuan! "


Kata Waiters itu dengan wajah tersipu


" Alana, Alana,,. Jadi aku tampan? "


Kata Ed lembut dengan senyum yang menggoda, Alana terdiam sejenak, tak berselang lama dia menganggukkan kepala dan Ed tersenyum


" Aku gagah? " Ji mengernyitkan dahi tak mengatakan apapun, Alana mengangguk lagi


" Kamu,, terpesona padaku? " Dia mengangguk lagi sambil tersipu malu


" Kamu,,, mau jadi pacarku? "


Mata Alana terbelalak seakan tak percaya dan dia semakin merona. Ji semakin mengernyitkan dahi dan kedua alisnya hampir menyatu

__ADS_1


Apa yang sedang dia lakukan? Dasar Jendral narsis


" Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku? Apa kamu mau jadi pacarku? " Alana menoleh pada Ji dia melihat Ji masih tetap bersikap tenang dengan sebelah tangan menyanggah dagunya


" Tuan, apa anda,,, serius? "


Katanya lembut dan penuh tanya


" Tentu saja..... Tidak! "


Alana tertunduk malu dengan mendengar perkataan Ed


" Kamu lihat, cincin di jari manisnya dia? "


Ed menunjuk pada Ji, Alana pun ikut menoleh dan memperhatikan tangan Ji yang memang berhiaskan sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat indah


" Dia tunanganku, kami akan segera menikah, Dia memang sombong, tapi tidak apa. Aku menerimanya, karena aku juga suka sikapnya yang sombong seperti itu. Sikap sombong yang dia tunjukkan karena dia memiliki aku. Aku yang katamu tampan ini jika dia sombong karena itu, berarti dia mengakui aku sebagai tunangannya. dan kamu,,, "


Tunjuk Ed pada Alana " Tidak akan punya kesempatan masuk dalam hidupku! " Ji berusaha menahan tawa dan bersikap tetap tenang


" Pak Jendral,,, hentikan permainan mu! Tidakkah kamu lihat kalau kamu itu sedang membuat anak orang takut dan gemetaran "


Kata Ji yang kini telah melipat kedua tangannya di dada dan berkata dengan nada yang entah menggoda atau sebenarnya malah mengejek


" Bukan begitu, my queen. Aku hanya ingin memberitahukan padanya. Meskipun kamu bersikap sombong atau bagaimana pun juga, kamu tetaplah tunanganku, gadis kecilku, ratuku, pemilik hatiku. Tidak akan ada gadis manapun yang dapat menggantikan posisimu dihatiku, sunshine " Ji selalu dibuat tersipu dengan semua kata - kata yang Ed ucapkan. Sedangkan Alana semakin pucat dan tertunduk malu. Memang didalam coffe shop tidak dipenuhi tamu, tapi setidaknya ada beberapa tamu lain dan juga para karyawan lain yang memperhatikan pertunjukan mereka


" Sudahlah hentikan bualanmu itu. Sebaiknya kita pergi dari sini. Kamu bilang akan menemaniku seharian? Jadi lebih cepat, itu akan lebih baik untuk kita habiskan waktu bersama " Ji meminum sedikit minumannya dan segera bangkit dari duduknya. Ed mengeluarkan dompet dari saku celananya dan meletakkan sejumlah uang diatas meja untuk membayar munuman yang mereka pesan tanpa mengambil uang kembalian. kemudian dia pun melakukan hal yang sama dengan Ji, meminum sedikit kopinya lalu berdiri hendak pergi.


Aku,, dipermainkan olehnya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Ehmm,,,,,,ehmm,,,,, "


Mili mulai sadar dan dia mengeluarkan suara perlahan , kemudian membuka perlahan kedua matanya. dia mengerjap - ngerjapkan matanya setelah itu menelusuri setiap sudut ruangan untuk mengetahui dimana dia sekarang.. Pandangannya terkunci pada seorang pria yang berada di tempat tidur sebelahnya sambil menatap ke arahnya dengan mata yang tampak berbinar bahagia..


" Biiiii "


Suaranya masih terdengar sangat lemah dan sedikit serak. Bi tertawa bahagia


" Sayaang,, akhirnya kamu sadar juga. Aku sungguh takut kehilanganmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana harus hidup tanpamu "


Bi kemudian menekan sebuah tombol dekat tempat tidurnya untuk memanggil dokter dan suster. Karena saat ini keluarganya sedang pergi dan tidak ada yang menunggui mereka


Tak berselang lama, dokter dan suster berlarian memasuki ruang rawat Bi dan langsung memeriksa Mili


" Bagaimana keadaannya Dokter? "


Tanya Bi dengan wajah murung


" Perkembangannya sangat bagus. Dalam beberapa hari kita bisa melakukan operasi plastik. Tuan Yudha sudah mengaturkan ahli bedah plastik untuk datang kemari "

__ADS_1


Kata dokter menjelaskan


" Baiklah dokter. Terimakasih! "


" Sama - sama. Permisi! "


" Bi,,, wajahku,, Apa yang terjadi? "


Mili meraba wajahnya karena sungguh ia merasa tidak nyaman dengan wajah yang diperban seluruhnya


" Tenanglah sayang. waktu kecelakaan, wajahmu mengalami luka bakar karena ledakan mobil. Jadi harus dilakukan operasi plastik untuk kembali memulihkan wajahmu "


" Biii,,, Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang terasa sakit? "


Tanya Mili dengan nada khawatir


" Aku tidak papa. Hanya dibagian ini saja yang terasa amat sangat sakit ketika aku harus melihatmu terbaring tak sadarkan diri dalam beberapa waktu sebelumnya "


Bi menunjuk bagian dada kirinya, mencoba memberi tahu bahwa hatinya yang sakit


"Tapi rasa sakit itu langsung hilang ketika aku melihatmu tersadar kembali " Sambungnya penuh haru


" Aku benar - benar sudah tidak apa - apa Bi "


Bi ingin memberitahukan Mili kondisi dirinya, tapi dia tidak bisa membayangkan reaksi Mili ketika dia mengetahuinya


Nanti saja aku beritahukan mengenai kondisiku padanya


" Bi,,, berapa lama aku todak sadarkan diri? "


" Cukup lama sayang hampir 4 minggu kamu terbaring koma. Dan baru sadar setelah hampir 10 hari terbaring tak sadarkan diri diruang ini "


" Bi, bagaimana dengan Bayu?


Apakah dia sudah tertangkap? "


Tanya Mili ketika dia teringat kecelakaan itu


" Kamu tenang saja, Ji sudah mengurus mereka untuk kita. Kini dia mendekam dalam penjara. Akan butuh waktu yang cukup lama untuk dia bisa bebas dari sana "


Kata Bi disertai sebuah senyum licik


" Syukurlah kalau begitu. Biii,, apakah wajahku akan baik - baik saja? "


" Tentu saja sayang. Bagaimana pun wajahmu nanti, aku akan tetap mencintai kamu. Karena kamu adalah belahan Jiwaku "


Entah kenapa, tapi Mili merasa tenang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bi


" Terima kasih Bi "


Katanya lirih disertai air mata yang menetes

__ADS_1


__ADS_2