
Jingga kembali ke ruang Biru dengan wajah yang terlihat sangat letih. Ed yang
sedang duduk di sofa menunggu Ji selesai akhirnya bangun dan dengan segera berjalan menghampiri Ji
" My queen, apa kamu baik - baik saja? apa yang terjadi? " Tanyanya khawatir kemudian memapah Ji untuk duduk di sofa
" Aku tidak papa, mungkin hanya kelelahan saja " Jawab Ji dengan wajah pucat dan senyum yang dipaksakan " Ayo kita pergi dari sini! "Ajak Ed kemudian Ed membantu membawakan tas Ji sambil menggandeng Ji berjalan hingga ke mobil
" My queen, kita langsung pulang saja? Supaya kamu bisa istirahat.. " Kata Ed khawatir tapi Ji menggelengkan kepala.
" Tidak, kita harus kerumah sakit melihat Biru dan Mili " Katanya dengan suara lemah
" Baiklah kita akan ke rumah sakit "
Ed mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Karena kelelahan Ji tertidur sepanjang perjalanan. Ed sesekali memandang Ji dan mengusap kepalanya sambil tersenyum dan berkata " Sweet heart, aku akan selalu berusaha membahagiakan mu dan melindungi mu sampai akhir hayatku. Aku sungguh mencitaimu, apapun akan ku lakukan untukmu "
Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Ji masih tetidur pulas, Ed tidak tega membangunkannya, tapi tidak mungkin juga dia menggendong Ji ke dalam. Semua orang akan berfikir kalau terjadi sesuatu padanya, jadi Ed memutuskan untuk menunggu Ji hingga terbangun.
Setelah cukup lama, Ji terbangun. Dia mengerjapkan mata dan menoleh ke sekitarnya untuk mengetahui lokasi mereka sekarang dan pandangannya berakhir pada Ed yang sedang tersenyum dengan ponsel ditangannya
" Apa kita sudah sampai?
Kenapa tidak membangunkan aku? "
Kata Ji yang memasang wajah cemberut, kini wajahnya tidak terlalu pucat seperti sebelumnya
" Kamu tidur sangat lelap, sepertinya kamu begitu kelelahan selama Bi sakit. Jadi aku membiarkanmu beristirahat sejenak. Apa salahnya? Toh semua urusanmu hari ini telah selesai. jadi sekarang adalah waktunya kamu untuk beristirahat! " Kata Ed memperingati dengan lembut
" Tapi Ed, papi dan yang lain pasti menunggu kita di dalam "
" Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah memberi tahu mereka kalau kita sedikit terlambat " Kata Ed dengan tersenyum manis sambil membelai lembut wajah Ji
" Kita masuk sekarang? " Katanya lagi dan Ji menganggukkan kepala pelan sambil tersenyum. Ed turun lebih dulu dari mobil setelah itu berjalan ke pintu penumpang depan untuk membantu Ji membuka pintu mobil. Sambil mengulurkan tangan dia berkata " Silahkan, my queen "
Ji menyambut uluran tangan Ed dengan senyum " Terima kasih, my lord "
" Apa katamu? My lord? Apakah itu panggilan sayang untukku? " Tanya Ed terkejut kemudian menggoda Ji sambil berjalan
" Tidak, hanya iseng saja! " Ji yang meraamsa malu kembali bersikap jutek
" Coba katakan lagi! "
" Tidak mau "
__ADS_1
" Ayolah my queen, sekali lagi "
" Kubilang tidak "
" My queen, please "
" Ku bilang tidak, ya tidak! "
Mereka terus saja berdebat hingga tiba di kamar Bi mereka juga masih saja berdebat
Ceklek,,
Ji membuka pintu dan semua mata menoleh ke arahnya
" My queen, ayolah "
" Apa yang kalian perdebatkan? "
Tanya Bi yang merasa penasaran
" Tidak ada, hanya sesuatu yang tidak penting " Kata Ji sambil menatap sinis pada Ed
" Eit, bagimu itu tidak penting. Tapi bagiku, itu sangatlah penting. Jadi kamu harus mengatakannya lagi padaku "
" Sudahlah hentikan!
Ji, tadi Alex menghubungiku dan mengatakan kalau kamu pergi ke Taeson Elektronik? " Tanya Bi degan tenang
" He'eh. aku kesana sebentar dan menemui pekerja kontrakmu yang akan melaksanakan proyek " Kata Ji sambil menganggukkan kepala
"Apa kak Alex tidak memberitahukan padamu kalau mereka itu bermasalah? "Kata Ji lagi dengan menggelengkan kepala
" Dia memberitahuku kalau ada masalah dana yang keluar cukup besar. Tapi aku masih meminta dia menyelidiki orangnya "
" Hah, kau lamban.. Aku sudah menyelesaikan masalah itu dan kamu tinggal memberikan bonus saat mereka selesai dengan pengerjaan proyeknya " Ji sedikit mencibir Bi. Dan Biru hanya tersenyum sebagai tanggapan
" Terimakasih telah menyelesaikan masalah perusahaan ku. Tapi apa kamu tidak lelah dengan banyak urusanmu? "
" Tidak, tentu saja aku tidak lelah. Aku sedang berlatih untuk mengambil alih perusahaan mami atau papi. Iyakan Pih "
Katanya tenang dan minta dukungan dari ayahnya. Yudha hanya menganggukkan kepala dan tersenyum
" Apa yang tidak lelah, tadi kamu sangat kelelahan sampai tertidur sepanjang perjalanan dari Taeson Elektronik hingga kemari " Ed berkata dengan santainya dan alhasil dia mendapatkan cubitan kecil dari Ji di bagian pinggangnya
__ADS_1
" Aw! Sakit, my queen "
Kata Ed meringis
" Kapan kalian berencana untuk bertemu keluargamu Ed? " Tanya Gina yang sedang duduk di samping Yudha
" Lusa kami akan berangkat ke negara A, tante. Setelah Perban Mili dibuka dan mereka sudah diperbolehkan pulang " Kata Ed dengan sopan
" Perban Mili akan dibuka hari ini, kita sedang menunggu kedatangan dokter " Bi menyela disela perkataan Ed
" Benarkah? Apa tidak terlalu cepat? " Tanya Ji yang terkejut
" Dokter kata perkembangan cukup bagus jadi bisa dilepas sekarang. Tapi kemungkinan wajahku tidak akan sama seperti semula. Karena lukaku waktu itu sangat parah " Kata Mili dengan wajah tertunduk dan sedih
" Seperti apapun wajah mu nanti, aku akan selalu mencintaimu dan akan selalu berada disampingmu " Bi berusaha menenangkan dengan lembut. Mili tersenyum dengan mata berkaca - kaca
" Kak Ji, kapan kak Ji akan melakukan operasi untuk menghilangkan bekas luka itu? " Tanya Vio kepada kakaknya
" Entahlah, aku tidak memikirkan itu sekarang. Apa itu akan jadi masalah untuk mu Ed? "
" Kenapa itu harus jadi masalah untukku? Aku mencintaimu bukan karena tubuhmu. Aku tulus mencintaimu karena kebaikan hatimu "
Ji dan Ed saling menatap mesra
" Hentikan! Kalian selalu saja memamerkan kemesraan kalian di depanku! Hanya aku yang tidak memiliki pasangan disini.. Huuuhhh! "Kata Vio dengan nada manja dan rengekan khasnya
" Segeralah cari pasanganmu Vi. Kedua kakakmu sudah mendapatkan cinta mereka, tinggal kamu yang masih jual mahal " Yudha berkata dengan nada datarnya
" Papi kira mencari pasangan itu mudah? Lagipula, aku ini perempuan pih tidak mungkin aku mengungkapkan perasaan cintaku lebih dulu kepada laki - laki "
" Siapa bilang perempuan tidak bisa mengungkapkan cinta lebih dulu? Mamimu ini juga melamar papi lebih dulu "
Yudha sedikit melirik kepada Gina saat mengatakannya
" Benarkah mih? mami yang melamar papi lebih dulu? " Gina melayangkan tatapan tajam kepada Yudha, dan Yudha dengan santainya mengacuhkan tatapan Gina dan menyeruput kopi miliknya
" Benar, mami yang mengajak papimu menikah. Tapi sebelumnya papi pernah mengajak mami menikah lebih dulu hanya saja tidak langsung mami jawab saat itu. Alhasil saat mami terdesak mami langsung mengajak papi mu menikah "
Gina menjawab dengan tenang dan senyum tipis
" Memang, situasi seperti apa yang telah mendesak mami? " Tanya Vio dengan polosnya
Deg
__ADS_1
Pertanyaan Vio membuat Yudha dan Gina terdiam. Yudha seketika menoleh pada Gina. Dan benar saja wajahnya kini sudah berubah pucat. Gina tertunduk dengan memainkan kedua tangannya. Masa lalu Gina yang kelam dan telah lama dia lupakan kini teringat lagi