
Leo dengan panik membawa Vio ke klinik.
" Permisi, dokter tolong periksa dia. Dia sepertinya demam karena kedinginan! "
Kata Leo dengan panik ketika telah sampai di klinik dan meletakkan Vio di ranjang pasien
" Baik, biar saya periksa! "
Dokter mulai memeriksa Vio. Suster menyadari kemeja bagian lengan Leo yang robek dan terdapat bercak darah
" Pak, sepertinya tangan anda terluka. Biar sekalian di obati! " Kata sister ramah
" Ah iya, terimakasih!! "
Drtttt drrrttt
ponsel Leo berdering. dilihatnya nama dilayar tertulis " Pak Direktur " Leo dengan cepat menerima panggilan tersebut
" Leo, kalian dimana? Bagaimana bisa kalian meninggalkan kantor disaat jam kerja? "
Rian langsung mengomel ketika panggilan tersambung
" Maaf pak, saya membawa Vio ke klinik karena dia tidak sadarkan diri "
Leo mejelaskan dengan sopan
" Vio pingsan? Bagaimana bisa? Di klinik mana kalian sekarang? "
Tanya Rian seperti terkejut
" Di klinik tidak jauh dari kantor pak! "
" Saya tahu. Saya akan segera kesana! "
Rian segera bergegas meninggalkan ruangannya menuju klinik untuk melihat kondisi Vio
Tak lama dia tiba di klinik
" Bagaimana kondisinya? "
Tanya Rian kepada Leo
" Dia masih tertidur, dia butuh istirahat. Dokter bilang tidak terlalu parah. Hanya demam karena kedinginan "
Leo menjelaskan dengan tenang
" Baiklah, kamu boleh kembali ke kantor. Hendel semua pekerjaan saya. Biar saya yang menjaga Vio disini! "
Leo tertunduk diam sebelum kemudian mengatakan " Baik pak, saya mengerti! Permisi! "
" Leo leo, kamu tidak mungkin mampu bersaing dengan direktur. Jelas dia lebih dari segalanya dibanding kamu "
Gumam Leo berkata pada diri sendiri sambil berjalan lemas meninggalkan klinik dengan sebelah tangannya memegangi tangan yang diperban
Didalam klinik, Rian menghubungi Biru
Tuut tuut tuut
__ADS_1
" Hei Bi, bagaimana bisa kamu membiarkan adikmu menjadi karyawan biasa diperusahaan orang lain? "
Rian langsung bicara ketika panggilannya tersambung dengan Biru
" Apa maksudmu adikku bekerja sebagai karyawan biasa?"
Biru mengernyitkan dahi dengan nada suara yang datar mendengar perkataan Rian
" Adikmu melamar kerja sebagai sekertaris di perusahaan ku. Sekarang dia ada di klinik karena tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya! "
Rian menjelaskan dengan tenang
" Dia di klinik? Apa yang terjadi dengan Vio? bagaimana keadaannya? "
Biru terdengar panik
" Dia demam dan sekarang masih tertidur. Tapi dia tidak papa"
"Bi,, Aku heran, bagaimana kalian bisa dengan mudah ingin bekerja diluar tanpa menggunakan nama keluarga kalian? Apa kalian malu Bi dengan nama keluarga kalian? "
Bi terdiam dengan mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Rian
" Kamu benar, kami malu menggunakan nama keluarga kami. Kami malu, jika kami menggunakan nama keluarga Kusuma begitu saja, sedangkan kami belum sekuat mami dan papi. Kami akan mengumumkan kalau kami putra putri dari keluarga Kusuma setelah kami mendapatkan pengakuan jika kami sudah kuat seperti mami dan papi. Kami sudah bertekad untuk itu! "
" Kamu selalu mengatakan jika kita ini adalah teman, tapi kamu sama sekali tidak mengerti bagaimana aku? " Tanya Bi dengan nada sinis
" Ayolah Bi, aku kan hanya sekedar bertanya saja. Tak perlu kamu terlalu serius seperti itu! "
Rian dengan sikap tak berdosanya berusaha kembali mencairkan suasana
" Aku akan kesana menjemput Vio "
" Baiklah kalau begitu. Aku titip Vio padamu! " Setelah berbicara Biru menutup teleponnya
" Ih dia ini, mengatakan ku teman hanya ketika membutuhkan bantuanku saja. Jika dia tidak membutuhkan bantuanku maka hanya Alex saja yang selalu di ingatnya. Huh "
Gerutu Rian sambil menatap ponselnya
Ditempat lain Alex sedang bersama Biru ketika menerima telepon dari Rian
" Untuk apa Rian menghubungi mu? Dia sangat jarang sekali menghubungi mu kecuali akan ada pesta di keluarganya yang memintamu untuk ikut hadir dan menaikkan pamor mereka " Tanya Alex sedikit aneh
" Dia mengatakan kalau Vio melamar kerja jadi sekertarisnya dan sekarang Vio dirawat di klinik karena deman. Dari dulu aku selalu memintamu menjaga jarak darinya. Meskipun dia mengatakan kalau kita berteman entah kenapa aku selalu merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengannya "
" Aku mengerti Bi, kadang aku juga merasa kalau dia memiliki rencananya sendiri, tapi aku tidak dapat mengetahui apa rencananya itu? Aku menyelidiki usahanya tapi tidak dapat menemukan masalah yang terjadi "Alex sedikit menundukkan kepala saat berkata
pada Bi
" Tidak masalah, yang penting kita harus tetap waspada saja padanya,,! " kata Biru sedikit tersenyum
" Bagaimana dengan perusahaan Sandra? Apakah ada perkembangan? "
" Kita sudah mengambil setiap projek yang hendak dia kerjakan, sekarang perusahaannya mengalami penurunan. Dan polisi juga kembali membuka kasus kecelakaan pak Andrew Anggara waktu itu "
" Bagus, bantu polisi agar mereka bisa menemukan bukti konkret mengenai kecelakaan. Kita bisa memberikan sedikit bukti yang kita miliki kepada polisi, karena jika kita memberikan semua bukti, Sandra akan langsung masuk penjara tanpa rasa sakit atau penyesalan. Teror Sandra tentang kecelakaan Andrew. Agar dia merasa ketakutan dan memilih masuk penjara atau rumah sakit jiwa "
Tatapan mata Biru memancarkan hawa dingin yang membuat Alex merasa merinding dan tidak berani bertanya lebih..
__ADS_1
" Baik Bi, aku mengerti. Akan ku lakukan sesuai dengan keinginan mu! Dan aku juga ingin memberitahukan padamu kalau Taeson Elektronik juga JB Companies semakin berkembang pesat. Kita masuk dalam nama jajaran perusahaan baru dengan keuntungan yang tinggi. Harga saham kita juga terus melonjak naik setiap harinya"
Alex menjekaskan sambil melihat grafik kemajuan perusahaan didalam tabletnya
" Bagus. Persiapkan bonus 10% untuk setiap karyawan. Agar mereka lebih giat lagi bekerja "
" Baik Bi. Apa gajiku juga naik Bi? "
" Ya, akan ku tambah bonus jika kamu mengurus masalah Sandra dengan baik! "
" Yess! Oke akan aku kerjakan sebaik mungkin! "
Alex mengepalkan tangannya ke udara dengan semangat
******
" Ehmmm,,,, "
Vio mulai sadar setelah hampir seharian dia tertidur. Dia mengerjapkan mata perlahan dan menoleh ke sekelilingnya . Pandangannya beakhir pada Rian yang duduk di kursi disebelahnya
" Kak Rian, aku ada dimana? "
Kata Vio dengan suara masih lemah
" Akhirnya kamu bangun juga. Kamu ada di klinik dekat kantor. Ini minum dulu! "
Rian menjawab sambil berdiri dari duduknya dan memberikan segelas air pada Vio
" Terimakasih!
Jam berapa sekarang? "
Tanya Vio setelah memberikan gelas kepada Rian
" Sekarang hampir jam 4 sore "
Kata Rian sambil melihat jam tangannya
" Lama sekali aku tidur? Pekerjaan ku masih menumpuk! "
" Berhenti memikirkan pekerjaan. Kamu harus istirahat. Leo sudah menghendel semua pekerjaan mu! "
" Kak Leo?
Ah iya kak Leo yang menolongku. Apa dia yang membawaku kemari? "
" Tidak. Aku yang membawamu kemari. Dia menghubungi ku setelah menemukanmu tidak sadarkan diri? "
" Benarkah?
Tapi seingatku,,, Kak Leo yang menggendongku kemari.. Apa aku salah? "
Vio terlihat ragu - ragu namun dia menyadari jas yang Leo kenakan padanya
" Sudah, jangan berfikir terlalu banyak. Dia itu hanya seorang asiaten. Kalian berdua tidaklah cocok. Aku akan mengantarkan mu pulang! "
Vio masih terlihat berfikir mengenai Leo. Setelah semua di urus, Rian hendak mengantarkan Vio pulang kerumah. Dari kejauhan Leo memperhatikan Rian yang membantu Vio naik ke dalam mobil
__ADS_1
" Kamu bagaikan bintang yang hanya bisa dipandang namun sulit untuk ku gapai "