
Sandra begitu terkejut melihat isi dari amplop coklat itu. Isinya adalah sebuah dokumen berisikan informasi bahwa Sandra meminta pada ibu kandung Emili untuk membiarkannya merawat Emili dan memberikannya imbalan uang yang cukup besar sebagai gantinya.
Saat itu usia ibu kandung Emili masih sangat muda, dan dia juga berasal dari keluarga biasa saja. Jadi dia setuju dengan tawaran Sandra dan membiarkannya merawat Mili. Agar Mili bisa hidup lebih layak bersama ayahnya.
" Berarti selama ini mama telah membohongiku? Mama bilang padaku kalau ibuku adalah wanita yang suka berfoya - foya dan menghabiskan uang papa dalam jumlah besar. Katakan mah dimana ibuku sekarang? Hiks... hiks... hiks.. "
" Hahaha, ibumu sudah mati 15 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan bersama ayahmu. Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang saat mereka mencoba untuk kawin lari. Dan kecelakaan itu seketika menewaskan mereka berdua. Mereka memang pantas mendapatkannya. Pria hidung belang dan wanita penggoda. Hahaha "
Prang,,,
Terdengar sebuah suara seperti barang jatuh dan pecah dari arah dapur. Ternyata Bi Marni yang sedang mendengarkan perdebatan mereka. Dia terlihat pucat dan tubuhnya gemetar, dia terduduk di lantai dengan deraian air mata
Putriku,,,, tidak mungkin meninggal, itu pasti bohong! Dia tidak mungkin meninggalkan ku dengan cerita palsu,,, Aku mengira dia sendiri yang menjual putrinya. Ternyata selama ini aku salah menilai putriku sendiri. hiks hiks hiks
" Maksud bi Marni apa berkata seperti itu? Siapa putri bi Marni? "
Tanya Mili disela tangisnya ketika dia mendengar perkataan bi Marni. Namun bi Marni hanya diam saja tanpa jawaban, hanya air mata yang terus mengalir dari wajahnya.
Mili berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di depan bi Marni, menatapnya lekat dengan air mata dan rasa penasaran. Bi Marni yang sedang terduduk mendongakkan kepala berkata " Cucuku " dengan suara lirih. Mili seketika jongkok mendengar sebutan bi Marni padanya
" Bibi bilang apa? "
Tanya Mili memastikan
" Cucuku, nona Mili adalah cucuku.. hiks hiks hiks " Kata bi Marni kemudian menarik Mili kedalam pelukannya. Mili tertegun tanpa reaksi
" Prok,,, prok,,, prok,,,
waah sungguh pertemuan yang mengharukan. Ibu dan cucu dari si wanita ****** yang telah merebut suamiku, kini berada di hadapan ku. Sungguh mengesankan! Kalian memang keluarga menyebalkan. Kalian merenggut kebahagiaan ku dan suamiku. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia "
__ADS_1
Sandra berkata dengan tatapan penuh kebencian
" Mama salah, justru aku yang tidak akan membiarkan mama hidup tenang mulai sekarang. Karena aku tidak akan sungkan lagi melawan mama. Mama lihat saja, mama pasti akan kehilangan semuanya. Semua harta yang selalu mama banggakan. Aku akan merebutnya hingga mama berakhir dijalanan! Ayo bi, ikut aku! "
Mili berkata dengan tegas dan tatapan yang penuh keyakinan kemudian membantu bi Marni berdiri dan berjalan meninggalkan rumah Sandra
" Kamu pikir kamu itu siapa?
Dasar anak haram tak tahu diri!
Tidak ada yang bisa menghancurkan ku! "
Teriak Sandra saat menatap Mili yang berjalan meninggalkan rumahnya
Mili mengabaikan perkataan Sandra padanya dan tetap berjalan menuju mobil
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Hai Sabrina, saya Jingga. masuklah! kita cari tempat yang nyaman untuk berbincang "
Bina naik mobil Ji dan berkendara menuju sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari apartemen Bina.
Setelah tiba di restoran mereka duduk disebuah meja dekat jendela dan memesan minuman
" Ada perlu apa kamu menghubungi ku? "
Kata Bina penasaran . Jingga duduk dengan elegan sambil memegang cangkir kopi ditangannya
" Aku tahu kamu tidak kerja. aku menawarkan sebuah pekerjaan yang akan sangat menguntungkan untuk mu! "
__ADS_1
Kata Ji dengan nada yang begitu tenang dan senyum tipis. Bina memicingkanmata mendengar tawaran Ji
" Pekerjaan apa? Aku tidak mau melakukan hal yang tidak - tidak "
" Tentu saja bukan hal yang macam - macam, kamu bekerja di perusahaan ku dan juga membantu ku untuk memberikan pelajaran pada seseorang "
Senyum licik terpancar dari wajah Ji
" Aku tidak mau! "
" Aku ingin memberikan pelajaran pada Hardi. Dia menganggap remeh setiap perempuan "
Deg, mendengar kata Hardi, Bina sedikit tegang. Tangannya mengepal dengan keras dibawah meja. Ji tersenyum melihat reaksi Bina
" Aku tahu betul masa lalu mu dengan pria brengsek itu. Karena itu aku memberikan tawaran padamu untuk bekerja denganku. Aku yakin kamu juga ingin memberikan pelajaran pada pria kurang ajar itu "
Jingga begitu tenang sambil meminum caramel machiato miliknya. Bina terdiam dengan menundukkan kepala. Setelah beberapa saat barulah dia kembali bicara
" Apa yang kamu rencanakan padanya? "
" Sebenarnya aku bisa dengan mudah menghancurkan dia dan keluarganya, tapi aku ingin sedikit bermain dengannya. Agar dia hancur secara perlahan "
Kilatan kelicikan terlihat pada tatapan dingin Ji dan senyum tipisnya
" Aku menghubungi mu untuk menawarkan bantuan padamu. Mungkin kamu ingin membalas sendiri perbuatan dia dan Clarisa padamu. Tapi jika kamu tidak mau ikut juga tidak apa - apa. Karena mungkin kamu masih menganggap Clarisa sebagai keluarga mu. Aku bisa memainkan ini sendiri! "
" Aku ikut. Aku akan membantumu "
Ji tersenyum mendengar jawaban Bina
__ADS_1
" Bagus, permainan akan sangat menarik sekarang, karena kamu ikut terlibat! "