
Emili seketika murung dan bibirnya mengerucut.
Biru mengernyitkan dahi tak mengerti dengan apa yang terjadi pada kekasihnya ini. Kemudian dia memandang ke sekeliling mereka, dia mengerti kenapa tiba - tiba Emili bersikap seperti ini.
Biru tertawa melihat Emili. Dia menghentikan langkahnya dan berdiri menghadap Emili.
" Aku tahu apa yang kamu pikirkan! Dengarkan aku baik - baik! tak peduli ada berapa banyak wanita yang mengelilingiku. Aku hanya butuh kamu disampingku "
" Tak peduli berapa banyak orang yang membenci dan menjelek - jelekkan aku, aku hanya butuh kamu percaya dan mendukungku " Biru berkata dengan sangat lembut dan Emili tersenyum dan terbuai mendengar setiap kata manis yang terucap dari mulut Biru
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ji sedang melakukan pemotretan untuk salah satu majalah di sebuah studio photo. Dia ditemani dengan manajer barunya, Adel
Adel sebenarnya berasal dari kalangan berada. Tapi dia sama sekali tidak merasa malu dengan pekerjaan yang dia miliki. Dia menyukai dunia hiburan. Dia adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara, tapi dia tegas dan bertanggung jawab. Dia juga orang yang memiliki pendirian yang kuat
" Ji, kamu mendapatkan undangan untuk menghadiri Fashion show di kota F, minggu depan. Apa kamu akan menerimanya? "
Adel bertanya sambil membantu Ji merapikan barang setelah pemotretan
" Bagaimana menurutmu? Apakah ini acara penting? "
" Sebaiknya kamu hadir, karena ini brand yang cukup ternama. Terlebih lagi, banyak kalangan dari dunia hiburan yang akan hadir disini "
Ji menganggukan kepala perlahan
" Kalau begitu, kita akan hadir disana! "
Adel meninggalkan Ji untuk istirahat setelah pemotretan.
" Kenapa dia belum mengabariku ya? Apakah dia masih dalam misi? "
Ji bergumam sambil menatap ponselnya dan membayangkan Edward
__ADS_1
" Ach, Kenapa aku malah memikirkannya?
Ji,,,, tidak boleh tidak boleh. Kamu tidak boleh memikirkan dia. Dia tentara, dan yang namanya tentara pasti akan selalu pergi bertugas dan meninggalkan mu. Kamu tidak bisa bergantung padanya. Pasti akan selalu was was dan khawatir ketika dia tidak ada.. Jadi jangan pikirkan dia, oke! "
Ji berbicara pada dirinya sendiri, seakan sedang menasehati orang lain..
" Ah, Sebaiknya aku ke kantir Bi. Aku sudah tidak ada kerjaan "
Ji menekan ponselnya dan menghubungi Biru
" Halo, Bi. Kamu ada dikantor mana?
Pekerjaan ku sudah selesai, dan aku sedang merasa bosan "
Ji langsung bicara setelah panggilan tersambung dengan Bi
" Aku sedang sibuk. Saat ini aku sedang tidak berada di kantor "
Nada suara Biru terdengar tenang dan acuh tak acuh. Saat ini dia sedang bersama Emili
Jingga langsung memutuskan panggilan setelah Bi selesai berbicara
" Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa sangat bosan. Lebih baik aku jalan - jalan ke mall saja "
Gumam Ji setelah telepon terputus. Tapi begitu dia keluar dari gedung studio. Terlihat sebuah mobil militer terparkir di depan gedung
Ji menyipitkan mata, diam terpaku menatap mobil itu. Tak lama keluarlah seorang pria dari dalam mobil. Dengan badan yang cukup tinggi dan tampan, mengenakan seragam tentara dan berjalan mendekati Jingga
" Aku kesini untuk menjemputmu. Apa kamu merindukan Aku? "
Nada suaranya terdengar begitu dingin tapi entah kenapa. Jingga merasakan kehangatan di dalam hatinya.
" Bagaimana kamu tahu kalau aku berada disini? "
__ADS_1
Jingga bertanya dengan alis yang hampir menyatu
" Cukup mudah bagiku menemukan keberadaanmu "
Edward tersenyum nakal berkata pada Ji
" Apa kamu meminta seseorang untuk memata - matai ku? "
" Tidak perlu seorang mata - mata. Karena aku sudah memiliki pelacak ditubuhmu! "
Sontak Ji meletakkan tangan di dadanya seakan memeluk diri sendiri sebagai pelindung dan memicingkan mata tajam. Reaksi Ji yang tiba - tiba itu membuat Edward terbahak, sedangkan Ji cemberut.
" Sudah - Sudah, ayo cepat naik! Karena aku telah selesai bertugas di pangkalan. Sekarang tugasku adalah untuk menemani mu, kemana pun! "
Edward bicara sambil menuntun ji masuk ke dalam mobil
" Tapi sebelum itu, kita harus kerumahku untuk berganti pakaian. Tadi aku bergegas datang kemari dari pangkalan. Sehingga tidak sempat mengganti baju ku! "
Sambung Edward lagi ketika hendak membuka pintu mobil untuk Ji
"Hei, siapa yang setuju untuk ikut pergi bersama denganmu? Aku kan belum memberikan jawaban! "
" Aku tidak meminta persetujuan darimu. Tapi aku mengajakmu dan itu tanpa adanya penolakan! Jadi, kamu tidak punya pilihan! "
Ji mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir bersamaan, sebelum dia berkata
" Itu pemaksaan namanya. Aku juga kan berhak menyuarakan pendapatku! "
" Jika kamu ingin menolak, maka tidak akan bisa. Karena sudah ku katakan tidak ada penolakan. Jadi kamu harus menuruti aku! "
Edward tersenyum melihat Ji yang terlihat kesal
" Mana ada tentara sepertimu. Hanya suka memaksa dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain! "
__ADS_1
" Tentu saja tidak ada tentara lain seperti ku. Karena hanya ada aku, dan itu sudah terikat denganmu! "