
Bram masih tertegun setelah mendapat telepon dari Yudha
" Jadi,,, tunangan Ed adalah putri dari Yudha? Bagaimana bisa kami tidak tahu hal itu. Yudha memang tidak bisa mengusik jabatanku. Tapi, dia bisa dengan mudah menghancurkan Laura.. Ish, Laura,,, kenapa kamu begitu gegabah dalam membuat keputusan, tanpa menyelidiki terlebih dahulu asal usul gadis itu. Aku harus segera menemui Laura! "
Bram kembali memegang ponselnya dan menghubungi Laura
Tuut Tuuttt tuutt
Terdengar nada panggilan tersambung beberapa kali, namun Laura tak kunjung menerima panggilan dari Bram. Karenanya Bram dengan segera bergegas kerumah sakit untuk menemui Laura..
" Kita ke rumah sakit tempat Laura dirawat! "
Kata Bram kepada supirnya...
" Baik pak! "
Supir Bram melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit, sehingga perlu cukup waktu untuk sampai disana.
Setibanya di rumah sakit supir memarkir mobil di parkiran dan Bram turun dari mobil dan berjalan memasuki area rumah sakit, sayangnya setibanya Bram di depan rumah sakit para wartawan yang telah lama berkumpul disana menyadari kedatangannya dan segera mengelilinginya dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan
" Pak Jendral, bagaimana pendapat anda mengenai masalah yang ditimbulkan putri anda? "
"Apa anda mengetahui masalah tersebut? "
" Apa memang kenaikan pangkat letnan jendral Edward itu karena pengaruh kekuasaan anda?
"Tolong jelaskan pada kami pak, bagaimana bisa anda menggunakan kekuasaan anda demi memenuhi keinginan putri semata wayang anda? "
Para wartawan terus mendesak Bram dengan beebagai pertanyaan, namun dia bungkam seribu bahasa hanya mengatakan
" Maaf, tidak ada komentar "
Dan terus berjalan pergi memasuki rumah sakit melewati kerumunan wartawan dengan di bantu oleh satpam rumah sakit.
Setelah tiba di dalam rumah sakit,dia bertanya kepada suster yang berjaga.
"Permisi suster, putri saya yang bernama Laura diruwat diruang mana ya? "
Tanya Bram dengan penuh kesopanan
" Oh nona Laura dirawat di lantai atas pak, kamar VIP sebelah kanan "
Jawab suster dengn sopan setelah memeriksa daftar nama pasien
" Baiklaj, terimakasih! "
Bram meneruskan kembali langkahnya menuju kamar rawat Laura, hingga tibalah dia di depan kamar putrinya. Diapun segera masuk ke dalam kamar dan terlihatlah Laura yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Ada suster yang sedang memeriksa kondisinya
" Suster, apa yang terjadi dengan putri saya? Bagaimana keadaannya? " Tanya Bram kepada suster
" Putri anda tadi sedikit terguncang dan dia terus saja berteriak mencaci maki orang bernama Edward dan Jingga "
Terang suster kepada Bram
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah cukup parah? "
" Kami sudah menyuntikan obat penenang. kami harap dia dapat lebih tenang dan emosinya kembali stabil setelah nanti dia sadarkan diri "
__ADS_1
" Baiklah suster, terimakasih! "
" Anda bisa memanggilku ketika nona Laura telah bangun! "
Kata suster sambil berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Laura
" Terimakasih suster! "
Cukup lama Bram menunggu sampai Laura sadar dari efek obat penenangnya. Namun selama Laura masih belum sadar, media menjadi semakin heboh dan berita mengenai cerita dari kebohongan Laura terus ditekan oleh orang suruhan Yudha agar tetap berada di urutan no 1. Sehingga cerita itu tidak turun atau beralih dari trending topik di internet.
Ji mneyadari hal itu jadi dia menghubungi Yudha
Tuuut tuuut tuuut
" Hallo papi "
Kata Jingga begitu panggilannya terhubung
" Iya, ada apa Ji? "
Jawab Yudha dengan tenang dari seberang telepon
" Papi, apa papi yang menekan media online agar berita mengenai Laura tetap berada di urutan teratas? "
Kata Jingga penuh curiga
" Hahaha, kamu bisa mengetahuinya dengan mudah Ji "
Yudha terbahak sebelum menjawab pertanyaan Ji
" Papi tidak bisa menurunkan pangkat Jendral Bram dan papi tidak ingin berurusan dengan orang diluar lingkungan bisnis. Tapi,,, tekanan publik akan bisa menurunkan dia dari jabatannya sebagai Jendral yang tidak bisa mendidik putrinya dengan baik "
" Papi pandai sekali! "
Kata Ji dengan bangga kepada Yudha
" Tentu saja. Kamu harus cerdik jika ingin jadi pebisnis yang handal "
" Aku mengerti papi. Terimakasih banyak! Sampai jumpa! "
" Sampai jumpa sayang "
Yudha dan Ji mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.
Ji beralih kepada Ed yang berada di sebelahnya
" Bagaimana sekarang? Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu masih akan tetap menjadi tentara "
Tanya dengan dahi mengernyit
" Tentu saja, kita sudah terbukti tidak bersalah. Dan tidak akan ada yang berani merendahkan kita lagi "
Kata Ed dengan senyum bangga
" Baiklah, terserah padamu saja tuan Jendral! " Jawab Ji sambil memalingkan wajahnya dari Ed
" My queen, kita lihat pertunjukan terakhir yang dibuat om Yudha! " Kata Ed berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Ji
__ADS_1
" Baiklah! "
Ji meraih tangan Ed dengan tersenyum lembut dan mereka berjalan keluar rumah menuju mobil
" Kita mau kemana? "
Tanya Ji kepada Ed
" Kita akan kerumah sakit dan melihat bagaimana Laura sekarang. Kurasa dia akan sangat senang karena menjadi orang paling terkenal saat ini " Kata Ed dengan senyum liciknya.
Dirumah sakit, Laura mulai sadar dari pengaruh obat penenang
"Ehhhhmmm "
Dia tersadar dan memegangi kepalanya
" Kamu sudah sadar? "
Kata Bram dengan nada dingin
" Papa. Apa yang papa lakukan disini? "
Tanya Laura yang masih berusaha untuk sadar sepenuhnya
" Kamu sadar apa yang telah kamu perbuat? Kamu telah menghancurkan segalanya. Kamu sudah mencoreng nama baik papa sebagai seorang tentara dengan jabatan tertinggi di militer. Dan kamu juga telah merendahkan dirimu sendiri. Harusnya kamu berfikir dulu mengenai konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan dari setiap tindakan mu. Bagaimana bisa kamu begitu ceroboh dalam mengambil keputusan! "
Bram yang kesal melampiaskan amarahnya kepada sang putri dan Laura hanya diam dengan air mata yang berlinang
" Pah, sebelumnya aku sudah mengatakan kepada papa kalau aku kan melakukan apapun untuk mendapatkan Ed. Kenapa sekarang papa menyalahkan ku? hiks.. hiks.. hiks.. " Laura menjawab disela isak tangisnya
" Jika papa tahu cara yang kamu maksud adalah memfitnah orang lain, maka papa tidak akan mengiyakan perkataanmu. Ini semua salah papa karena terlalu memanjakan mu selama ini. Sekarang terserah kamu mau melakukan apa. Papa sudah tidak bisa membantu apa - apa "
Bram berkata sambil berbalik dan berjalan kearah pintu hendak meninggalkan kamar rawat Laura
" Papa jahat, papa tidak menyayangi ku. Aku benci papa! Hiks hiks hiks"
Laura yang kesal terus berteriak dan melemparkan bantal serta selimut pada Bram yang sudah berjalan keluar dari kamarnya. Setelah itu dia berjalan keluar dari kamarnya dan hendak meninggalkan rumah sakit dengan masih mengenakan seragam pasien.
Ketika tiba diluat rumah sakit para wartawan langsung datang mendekati Laura
" Itu Laura! Laura apa yang ingin anda katakan mengenai siaran langsung Edward kemarin? "
" Laura, apa anda bisa menjelaskan pada kami motif anda sebenarnya? "
" Laura, bagaimana anda bisa terfikir untuk memfitnah Jingga dan Edward? "
" Laura, bagaimana anda bisa setega itu menjebak Edward? "
Laura terus diserang berbagai pertanyaan dari wartawan, dia tidak tahu bagaimana menjawabnya atau menghadapi para wartawan yang semakin menggila
" Hentikan! Tolong hentikan! Aku tidak bersalah! Aku mencintai Ed! Aku akan mendapatkannya! Kalian yang menghancurkan semuanya! Kalian penyebabnya"
Laura terus berteriak seperti orang gila di tengah kerumunan para wartawan bahkan dia berbuat kasar pada salah satu wartawan
Ed dan Ji memperhatikan dari jauh dengan senyum licik penuh kemenangan
" Kamu memang pantas mendapatkannya Laura, itu hadiah dari kami "
__ADS_1
Kata Ed dengan tatapan dan senyum liciknya