
Pagi - pagi sekali Biru sudah datang ke apartemen Jingga. Dia begitu mengkhawatirkan adik kembarnya ini. Dia sangat terkejut mendapati Ji yang tengah duduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya sambil menatap kosong keluar jendela, dia masih mengenakan baju yang sama seperti sebelumnya. Matanya sembab, wajahnya pucat. Jingga terlihat tidak bersemangat sama sekali
Biru berlari kearahnya berjongkok dihadapan sang adik
" Apa kamu baik - baik saja? "
Ji menoleh menatap wajah sang kaka dan memaksakan senyum di bibirnya
" Bi,,, Aku tidak papa.. Aku baik - baik saja. Kenapa kamu kemari? Bukannya pergi ke kantor? Aacch!! "
Cara bicara Ji terdengar begitu tenang, senyum tipisnya berusaha membuktikan kalau dia gadis yang kuat. sayangnya ketika dia hendak berdiri, tiba - tiba Ji terhuyung. Dia hampir jatuh. Kakinya gemetar dan lemas. Mungkin karena semalam kakinya di tekuk sehingga tidak bisa digerakkan
" Apa kamu benar - benar tidak papa? "
Bi dengan cepat menahan tubuh Ji
" Aku tidak papa. Kakiku sepertinya keram, tolong bantu aku untuk berjalan ke tempat tidur "
Senyum getir masih tertap terlihat di bibirnya.
" Ach!! aku memintamu membantuku berjalan ke tempat tidur, bukan menggendongku "
Biru mengangkat tubuh Ji dan tidak merespon perkataan Ji.. Dia hanya berdiri disebelahnya dan terus memperhatikan sang adik
" Bagaimana malam begitu cepat berlalu? Aku sama sekali tidak menyadarinya hingga duduk dilantai semalaman "
Kata Ji dengan memijat kedua lututnya sendiri
" Ji kumohon, jangan paksakan dirimu untuk terlihat kuat. Aku kakakmu, terlebih lagi kita kembar. Kamu tidak akan bisa menyembunyikan apapun dariku! "
__ADS_1
Ji menundukkan kepala sambil terus memijat kakinya
" Aku tidak sedang menyembunyikan apapun. Hanya saja, aku ingat kalau tuan Jendral memintaku berjanji agar aku menunggunya, jadi aku yakin dia tidak papa dan aku akan menunggunya! "
Ji berkata dengan senyum di bibirnya, namun air mata pun ikut mengalir diwajahnya
" Ah air mata ini,,, kenapa dia tidak mau berhenti menetes? Harusnya air mata ini sudah habis kan, karena aku sudah mengeluarkannya selama seharian kemarin? Tapi kenapa masih tetap saja ada? "
Ji tersenyum lagi dengan tangan yang tak henti menghapus air mata dipipinya
Bi semakin tak kuasa melihat adiknya semakin rapuh. Dia duduk di sebelah Ji dan menggenggam erat tangannya
" Ji dengarkan aku! Kita akan mulai melakukan pencarian Ed hari ini. Kamu tidak perlu khawatir. Kita pasti akan menemukannya "
" Terimakasih Bi. Sudahlah aku harus mandi dan bersiap "
Ji yang kakinya sudah bisa kembali digerakkan, berdiri menuju kamar mandi meskipun jalannya sedikit terhuyung dan dia menopang dinding
Biru terheran - heran melihatnya
" Aku harus pergi ke JB Companies untuk menyelesaikan pekerjaanku. Setelah semua selesai, aku akan biarkan Adel juga Bina yang menggantikan ku untuk sementara waktu, agar aku bisa pergi ke negara A untuk ikut langsung dalam pencarian Ed "
Jingga berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Biru yang termenung sendiri..
Meskipun Ji berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, tapi air mata itu kembali membasahi pipinya ketika dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia kembali mengingat setiap momen kebersamaannya bersama Ed. Dia menangis ditengah guyuran air yang keluar dari shower
" *Tuan Jendral, kenapa kamu begitu jahat padaku? Kenapa kamu sama seperti orang - orang yang selalu berusaha menjatuhkanku? Kenapa kamu membuat hatiku sakit dan terluka seperti ini? Seandainya kamu disini, aku pasti sudah memukulmu,, hiks.. hiks.. hiks... "
Dug dug dug
__ADS_1
" Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan meninggalkanku dan membiarkan air mata menetes dari pipiku? Sekarang justru kamu yang melanggar janjimu sendiri.. hiks.. hiks.. hiks*... "
Ji terus saja bicara sendiri dibawah guyuran shower dengan kepalan tangan memukul - mukul dinding di hadapannya hingga tangannya memar
Tak lama Ji keluar dengan mengenakan jubah mandi dan berjalam menuju lemari pakaian. Dia mengambil setelan kantor yang biasa ia kenakan. Dia berpakaian dengan rapih dan memoleskan make up tipis di wajahnya agar terlihat sedikit lebih segar. Setalah dirasa penampilannya cukup baik, dia keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan dimana Biru tengah menunggunya untuk sarapan
" Apa kamu yakin untuk pergi kekantor? "
Biru seperti ragu - ragu. Dia menatap wajah Ji lekat, make up tipis membuatnya sedikit lebih baik namun tatapan matanya tentu saja masih terlihat kesedihan
" Tentu saja. Sudah kubilang kalau aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu "
Jawabnya ringan dengan sedikit senyum. Ji sudah menempatkan 1 sandwich di piringnya, namun dia hanya menatap sandwich dihadapannya itu tanpa berniat memakannya. Ji hanya meminum segelas susu yang ada dimeja.
Biru kembali melihat luka pada tangan Ji, dia bergegas mendekatinya dan meraih tangannya " Kenapa lagi ini? "
" Bukan apa - apa. Hanya sedikit terbentur" Ji menarik tangannya dengan keras
" Ji berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Luka akibat pecahan gelas kemarin masih belum sembuh. Dan sekarang kamu sudah terluka lagi. Bagaimana jika nanti Ed tahu kamu yang seperti ini? Dia pasti tidak akan menyukainya! "
Suara Biru terdengar bergetar karena amarahnya. Ji hanya tertunduk dan menitikan air mata
" Kumohon Ji, bertahanlah! Jangan melakukan hal konyol apapun yang dapat membahayakan nyawamu! "
" Bi,, bagaimana aku bisa bertahan tanpanya? Setiap kali dia pergi bertugas aku selalu takut jika dia tidak kembali. Aku sangat senang ketika dia berkata kalau dia tidak akan melakukan tugas lapangan lagi. Tapi sekarang, dia meninggalkan ku bahkan saat tidak bertugas "
Bi kembali melihat mata Ji berkaca - kaca dengan air mata yang sudah hampir jatuh. Sangat jelas tercermin disana betapa hancurnya hati jingga saat ini. Dia kembali menundukkan kepala dan melanjutkan perkataannya
" Tidak lama lagi kami akan menikah. Tapi ujian ini terjadi padaku. Kamu bisa bayangkan Bi bagaimana hancurnya perasaanku? Dia adalah pria pertama dalam hidupku. Aku berharap dia juga menjadi pria terakhir untukku. Tapi, justru takdir mengatakan hal lain. Dia yang mempertemukan kami, dia juga yang hendak memisahkan kami "
__ADS_1
" Ku mohon Ji. kamu tidak boleh menyerah. Belum ada kabar apapun mengenai Ed, kita masih memiliki harapan besar kalau Ed masih hidup. Kita hanya belum tahu dimana dia sekarang "
" Semoga saja,, semoga apa yang kamu katakan benar, semoga dia selamat dan bisa kembali kesampingku! "