
Biru berteriak dan dengan cepat berlari menghampiri sang adik yang kondisinya sangat memprihatinkan. Penuh luka lebam, luka cambuk dan darah..
Biru berjongkok di hadapannya tak berdaya, memperhatikan tubuh adik kembarnya yang saat ini begitu lemah
Dia menangis mengangkat Ji dan mendekapnya dalam pelukannya dan berkata dalam derai air matanya,,
" Maaf Ji, aku terlambat..."
" Bi,,, Akhirnya kamu datang menolongku! "
Meskipun Ji berusaha tersenyum tapi suaranya terdengar begitu lirih membuat hati Bi sakit..
Biru meletakkan Ji kembali di lantai perlahan. Bi menoleh melihat ke sekeliling orang - orang yang telah menganiaya adiknya. yang saat ini sedang berkelahi dengan Ed dan juga anak buahnya
" Brengsek! akan ku habisi kalian satu persatu! "
Biru berjalan dengan cepat menghampiri para penculik yang sedang berkelahi dengan Ed dan anak buahnya
Buk buk buk
Bi melawan mereka satu persatu. Dia memukulnya bertubi - tubi tanpa membiarkan mereka melakukan perlawanan. Dia melampiaskan semua amarahnya.
Setelah mereka tergeletak di lantai, Bi berhenti memukul mereka. kini pandangannya tertuju pada satu orang gadis yang dia kenal.
Sorot matanya tajam, memancarkan kemarahan dan kebencian. Dia mendekati gadis itu perlahan. Nasya gemetar ketakutan karena melihat tatapan Biru, dia mundur selangkah demi selangkah.
" Jangan mendekat! Atau ku bunuh kau! "
__ADS_1
Nasya mengacungkan sebilah pisau belati kepada Biru. Biru tak gentar, dia terus jalan dengan tatapan tajamnya
" Kamu telah berani menyiksa adikku. kamu berani membuatnya menderita seperti itu. Kamu berani menyakiti tubuhnya hingga dia terlihat sangat menyedihkan. Kamu harus dapat merasakan apa yang Ji rasakan!
Nada suara Biru berat dan bergetar. Dia menahan setiap amarahnya. Amarah yang siap meledak kapan saja. Biru berjalan semakin dekat dengan Nasya, dan dia meraih lehernya mencekiknya dengan sekuat tenaga hingga pisaunya jatuh ke lantai.
" Kamu yang harusnya mati ditanganku! Bahkan kematian mu pun tidak sebanding dengan sakit yang Ji rasakan! "
Mata Bi sangat berapi - api. Ji terus menatap Biru dari kejauhan.
" Bi hentikan! Jangan mengotori tanganmu sendiri dengan membalasnya! "
Dia ingin berteriak menahan Bi, tapi suaranya tak kunjung keluar
Ed memperhatikan Ji, dia mendekatinya. Tapi Ji memberikan isyarat mata kearah Bi, seakan berkata " Tolong hentikan dia! "
" Bi lepaskan dia bisa mati. Ji akan sangat sedih jika melihatmu di penjara karena membunuh gadis bodoh ini! "
Tapi Ed tidak berhasil. Biru mencekiknya sangat kuat. Sorot matanya seakan dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri
Nasya sudah kehabisan nafas, tenggorokannya sakit, dadanya sesak, dia berpikir bahwa dia akan mati.
Tapi tidak, Yudha tiba tepat waktu. Disusul Rama yang hanya memperhatikan di ambang pintu. Dia tak percaya melihat apa yang dilakukan putrinya. Putri yang dia manjakan. Kini dia berani menyiksa orang lain. Kaki Rama seketika lemas, dia terduduk di lantai.
Apakah dia Nasya yang ku besarkan selama ini? Gadis yang selalu ku manjakan dan ku lindungi dari siapapun? Apakah aku salah selama ini selalu menuruti apapun yang dia minta? kenapa dia jadi seperti ini?
Yudha memperhatikan sekeliling. Pandangan matanya berakhir pada putri cantiknya yang sudah terbujur lemah tak berdaya di lantai. Dia mendekati Ji, air mata tertahan di pelupuk matanya. Mata Ji pun berlinang air mata, seolah mendapatkan kembali ketenangan dan perlindungan yang biasa dia dapatkan.
__ADS_1
" Pih, Bi,,, Bi,,, "
Karena rasa sakitnya, Ji tidak dapat mengeluarkan suara dengan jelas, suaranya sangat serak, hampir tidak terdengar sama sekali. Yudha mencari sekeliling, dan melihat Bi yang sedang mencekik leher Nasya dan Edward yang berusaha melepaskan tangan Bi dari leher Nasya.
Yudha berdiri dan berjalan dengan langkah cepat menuju putranya. Dia marah, kesal, melihat ada orang yang berani menyiksa putrinya dengan sedemikian kejam. Sorot maya Yudha tajam. Tak kalah menyeramkan dari tatapan Biru. Bahkan sorot mata Yudha lebih menyeramkan lagi..
Dia mendekati Biru yang masih di kendalikan amarah, bahkan Ed tidak dapat melepaskan tangan Biru dari leher Nasya. Biru seperti tak mendengar apapun yang dikatakan Ed.
" Ed, biar om saja! "
Yudha meminta Ed untuk bergeser untuk menenangkan Bi
" Bi, dengarkan papi, jika kamu mencekiknya sampai mati, itu hanya akan meringankan penderitaannya saja. Jangan biarkan dia mati dengan mudah dan mengotori tanganmu dengan darah kotornya! Biarkan dia merasakan kesakitan terlebih dahulu seperti Ji sebelum dia mati! "
Yudha berkata dengan dingin dan menyeramkan.
" Lepaskan dia, dan biarkan dia juga keluarganya mendapatkan hukuman cambuk dan merasakan sakit yang Ji rasakan. Itu balasan yang setimpal untuknya! "
Bi perlahan melepaskan tangannya dari leher Nasya
" Uhuk uhuk uhuk "
Nasya terjatuh kelantai dan terbatuk karena cekikan Bi. Dia merangkak mendekati Yudha dan menyentuh kakinya
" Tuan, ku mohon jangan hukum keluargaku. Ini salahku. Ini tidak ada hubungannya dengan keluargaku. Mereka sama sekali tidak terlibat dengan ini. Maaf kan aku tuan! " Nasya memohon dan menyembah dengan derai air matanya
" Sudah terlambat! Ini balasan yang setimpal karena kau telah menyakiti putriku! Orang yang menyakiti keluargaku harus mendapatkan balasan 1000 kali lipat dari apa yang telah dilakukannya! Aku, Yudha Arya Kusuma tidak akan pernah tinggal diam begitu saja jika ada yang berani memprovokasi ku! Tidak akan ada seorang pun yang bisa menahanku melakukan apa yang ingin ku lakukan! "
__ADS_1