Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Kamu lebih pantas berada dikalangan orang gila


__ADS_3

Bi sedang mengendarai mobil hendak mengantarkan Emili kembali ke kantor setelah selesai makan siang bersama. Dia sangat terkejut hingga mengehentikan mobil secara mendadak, ketika mendengar dari Edward kalau adik kembarnya telah hilang diculik.


Emili yang berada disamping Biru juga tak kalah terkejut. Dia membelalakan mata dengan alis yang hampir menyatu, tak percaya dengan apa yang di dengar dari mulut Bi. Dia terus menatap kearah Bi dan mendengarkan apa yang Biru katakan


" Bagaimana bisa Ji diculik?


Bukankah kamu sedang menemani dia pemotretan? "


Bi terlihat sangat panik, dia meninggikan suaranya


" Coba jelaskan padaku Ed! Bagaimana bisa kamu kehilangan Ji? "


Suaranya kembali datar. Bi mengernyitkan dahi sambil memijat pelipisnya perlahan.


Ed menjelaskan kronologinya dan Bi mendengarkan dengan seksama.


" Kamu sudah mencoba menghubungi ponselnya? Aku akan meminta anak buahku untuk melacak keberadaan Ji! "


Biru mematikan sambungan teleponnya dengan Ed


"Ada apa Bi? apa yang baru saja kamu katakan itu,,, benar Bi? "


Emili merasa ragu bertanya pada Biru, tapi dia sangat ingin tahu dan tidak mungkin kalau dia tidak bertanya


" Iya, Ji di culik. Ed melihat di CCTV ada dua orang pria dengan mengenakan penutup wajah membawa Ji pergi. Sepertinya dia dibius. Karena Ji pandai beladiri, jadi tidak mungkin kalau dia tidak melawan dan bisa dibawa pergi begitu saja! "


" Apa yang harus aku lakukan sekarang? "


Bi terlihat berpikir, kemudian dia menekan kembali ponselnya untuk menghubungi Yudha


" Sepertinya aku harus memberitahu papi terlebih dahulu! "


Tuuutt tuuutt tuuu


" Angkat dong pih! "


" Halo Bi "


" Halo papi, gawat pih, Ji hilang diculik! "

__ADS_1


Bi langsung memberi tahu Yudha ketika dia mengangkat teleponnya


" Apa katamu? "


Yudha meninggikan suaranya karena terkejut


" Tadi setelah pemotretan Ed menunggu Ji,, bla bla bla


Bi menjelaskan semuanya pada Yudha


" Baiklah papi mengerti, kamu minta anak buahmu untuk mencari petunjuk di sekitar gedung! Papi akan menghubungi orang - orang papi untuk ikut mencari Ji "


" Baik pih! "


Bi langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


" Mili, aku akan mengantarmu dulu, setelah itu aku harus mencari Ji! "


Emili mengangguk dan berkata


" Baiklah kamu cari adikmu, nanti kabari aku kalau sudah ada kabar! "


" He ehm"


Gumam Bi sebelum dia kembali berkendara mengantarkan Emili.


\=\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain, Ji dibawa ke sebuah gedung tua di pinggiran kota. Tak terdengar ada suara motor atau mobil yang berlalu lalang disana.


Ji di ikat di sebuah kursi dengan mulut masih tertutup lakban, tapi penutup mata telah di lepaskan. Dia masih belum sadarkan diri


Byuuuurrr...


Ji disiram dengan seember air oleh salah seorang penculik hingga membuatnya tersadar. Dia mengerjapkan matanya berkali - kali.


Ketika dia berhasil sadar dan membuka mata, dia melihat ada beberapa pria disana. Dan salah satu orang yang dia kenal adalah Nasya yang berada diantara pria - pria itu


" Bos dia sudah sadar! "

__ADS_1


Kata salah seorang pria kepada Nasya


Nasya menoleh dan berjalan ke arah Ji. Dia tersenyum licik, mencibir Ji yang telah berhasil dia bawa kemari.


" Hai Jingga. Jingga Kusuma. Bagaimana? Kamu tidak menyangka kalau aku akan membawamu kemari kan? "


Ji menatapnya dengan tajam


" Ayolah Ji,,,, jangan berikan tatapan mengerikan seperti itu padaku. Lagipula,, siapa suruh, kamu hanya membuat keluargaku bangkrut? Coba kalau kamu meminta orang untuk membunuhku, pasti aku tidak akan bisa membalasmu! Hahaha "


Nasya terbahak puas melihat Ji yang sedang terikat.


" Kenapa kamu diam saja Ji?


Hmn ? Kamu tidak bisa bicara ya?


Oops,, sorry,, aku lupa membuka lakban yang menutup mulut mu "


Sreeett...


Nasya menarik keras lakban yang ada di mulut ji, hingga dia meringis karena kesakitan. Nasya berkata dengan tenang, dipenuhi nada yang mengejek pada Ji


" Bagaimana Ji? Apa kamu suka bermain denganku? Ku kira kamu dan kakak mu itu memang suka bermain - main kan? Jadi aku juga ingin bermain dengan mu "


" Cuih! "


Jingga meludahi wajah Nasya dan tersenyum sinis kemudian berkata


" Gadis psiko seperti mu, memang tidak pantas berada di kalangan orang kaya. Kamu dan kelakuan mu itu mencerminkan, kalau kamu lebih pantas berada dikalangan orang gila! hahaha "


Plak,,,


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ji, hingga membuat ujung bibirnya berdarah


" Kurang ajar! Kamu masih berani melawanku, hah? "


Nasya yang kesal dan marah mulai meninggikan suaranya


" Kenapa aku harus takut padamu?

__ADS_1


Bahkan, jika aku mati ditanganmu, kamu dan keluarga mu itu tidak akan pernah lolos dari keluargaku. Jadi,, tunggu saja bagaimana mereka akan datang kemari dan memberimu pelajaran! "


Ji berkata dengan tenang, namun tatapan matanya memancarkan sebuah ancaman.


__ADS_2