
Dirumah sakit Yudha dan Gina datang bersama seorang dokter ahli bedah plastik yang dia panggil untuk mengoperasi Mili..
" Papi, mami "
Sapa Biru ketika melihat orang tua mereka datang. Gina tersenyum lembut tapi Yudha hanya menganggukkan kepala saja
" Bagaimana kabar kalian? "
Tanya Gina sambil duduk disebelah Biru
" Aku merasa jauh lebih baik mih "
kata Mili dengan suara pelan
" Aku juga sudah merasa lebih baik mih? O iya pih, apa yang terjadi dengan Bayu? "
Biru mengalihkan pandangannya pada Yudha setelah dia menjawab pertanyaan sang mami. Yudha tersenyum licik dengan pertanyaan Biru
" Adikmu memberinya sedikit pelajaran. Dia mematahkan sebelah kakinya dan membuatnya babak belur sebelum memasukan dia dan orang tuanya ke dalam penjara " Yudha tersenyum puas menceritakan apa yang dilakukan Jingga pada orang yang telah meyakiti Biru. Sedangkan Biru dan Mili saling menatap tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar
" Kalau papi yang membalasnya, pasti papi tidak akan membiarkan dia hidup. Akan papi habisi dan potong tubuhnya menjadi beberapa bagian" Kata Yudha lagi dengan nada yang tenang namun matanya memancarkan kebencian
" Sudahlah itu sudah cukup, kalau dia mati ditanganmu. Maka dia tidak akan merasakan sakit yang dirasakan Biru dan Mili "
Kata Gina dengan tenang
" Hmn,,, baiklah "
Jawab Yudha sedikit kecewa
" Oh iya, papi sudah membawa dokter ahli bedah plastik untuk mengoperasi Mili "
Kata Yudha mengenalkan dokter yang berada dibelakangnya. Yang ternyata saat ini sedang gemetaran ketakutan karena mendengar percakapan antara keluarga ini
" Sa,,, saya Dr. Rudi
Saya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap pasien sebelum menentukan waktu untuk melakukan operasinya "
Dokter bicara dengan terbata - bata dan berjalan dengan kaki gemetaran, keringat bercucuran dari keningnya. Yudha memperhatikan gerak gerik dokter Rudi lalu mencibir
" Anda tidak perlu gugup dokter, anda akan selamat dan mendapat bayaran yang setimpal jika bekerja dengan baik. Tentu anda akan mendapatkan bayaran yang setimpal juga jika anda melakukan kesalahan sedikit saja. Anda tentu mengerti maksud saya bukan? " Kata Yudha dengan senyum sinisnya
" Ten,, tentu tuan. Sa,, saya mengerti dengan baik " Dokter Rudi menjawab dengan senyum yang dipaksakan sambil menghapus keringatnya dengan sapu tangan
" Sudahlah sayang. Hentikan itu! "
Gina mendekati Yudha dan melingkarkan tangannya di pinggang Yudha
" Tentu sayang "
Katanya dengan senyum lembut
" Mih mana Vio? "
Tanya Mili
" Dia bilang akan pergi ke mall. Tapi mami belum bertemu dengan Jingga hari ini "
__ADS_1
Kata Gina sambil menoleh kepada Yudha
" Dia pergi bersama Ed. Ed baru saja pulang dan langsung kemari menemui Ji. Entahlah mereka pergi kemana? "
Jawab Biru sambil mengangkat kedua bahu
" Tuan, hasil pemeriksaan akan keluar besok. Besok saya akan kembali dan memutuskan kapan nona Mili akan menjalani operasi "
Kata dokter Rudi sedikit tenang
" Baiklah "
" Kalau begitu, saya permisi! "
" Terimakasih dokter "
Yudha hanya menganggukkan kepala dan Gina yang berterimakasih. Dokter pun beranjak pergi meninggalkan ruangan Biru. Setelah keluar dari ruangan
" Pyuh,,, akhirnya aku masih bisa bernapas dengan lega "
Gumam dokter Rudi
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vio berjalan - jalan di mall sendiri, dia tidak tahu kalau Ji dan Ed juga sedang berda di mall.
Dia memutuskan untuk menikmati es krim di sebuah restoran...
" Hmn,, Enak sekali. Setelah ini aku mau pergi nonton ach "
" Hai Vio , rupanya kamu sedang disini? "
Vio mengangkat kepala, melihat kearah sumber suara yang berasal dari sebelahnya kemudian kembali memainkan ponselnya
" Berhentilah mengikutiku! Kamu sepeti hantu yang bisa muncul kapan saja dan dimana saja "
Kata Vio dengan nada sinis tanpa melihat kearah orang yang bicara padanya
" Kenapa kamu selalu seperti itu padaku?
Sebenarnya apa salahku padamu? Sehingga kamu bersikap begitu sinis padaku "
Tanya Rian yang kini sudah duduk di sebelah Vio
" Pergilah dari sini, sebelum terjadi keributan besar yang akan mengakibatkan perang dunia yang kesekian kalinya "
Belum lama Vio mengatakam itu, Stefi mendekati meja mereka..
" Kak Rian, bagaimana kamu bisa bersama gadis kurang ajar ini?
Aku berdiri cukup lama menunggu mu disebelan sana "
Stefi langsung saja mengoceh ketika tiba disana
" Kalian mengganggu ketenanganku saja! Sudah ku katakan untuk tidak mendekati ku. Benar saja kan datang pembuat keributan. Huh. menyebalkan! " Vio berkata sambil bangun dari duduknya dan hendak pergi dari sana
" Hei, apa maksudmu mengatakan itu? "
__ADS_1
Stefi yang kesal berdiri secara tiba - tiba dan berteriak kepada Vio
" Ternyata selain kamu pembuat onar. Kamu juga bodoh ya. Begitu saja tidak mengerti dengan apa yang aku maksud "
Vio tersenyum sinis sambil berjalan pergi
" Hei berhenti disitu! "
Vio tidak menggubrisnya dan tetap berjalan menuju lantai atas untuk menonton film
" Sudahlah jangan membuat keributan! Semuanya memperhatikan kearah kita "
" Aku tidak peduli. Ini sudah kesekian kalinya dia berani mengata - ngatai aku. Kali ini aku tidak akan melepaskan dia begitu saja! " Kata Stefi dengan nada kesal
" Kamu akan menyesal jika berurusan dengannya! "
Rian berkata dengan santai dan berusaha memperingati Stefi
" Apa maksud kak Rian? Aku Stefi, selama ini tidak ada yang berani bersikap kurang ajar padaku. Dia belum tahu siapa aku. Jadi, aku harus memberinya pelajaran agar dia bisa menghormati orang lain! "
" Dia itu tidak perlu menghormati orang lain. Bahkan ayahmu bisa langsung tunduk padanya jika dia mau " Rian berkata acuh tak acuh
" Maksud kak Rian apa sich? Aku tidak peduli, aku harus mengejarnya! "
Stefi berjalan dengan cepat untuk mengejar Vio yang sudah berjalan semakin jauh
" Hei, berhenti! "
Teriak Stefi sambil sedikit berlari
" Kubilang berhenti! Apa kamu tuli? "
Kata Stefi yang sudah berhasil mengejar Vio dan menarik tangan Vio
" Untuk apa lagi kamu mengejarku? Temani saja pria mu itu. Tidak usah mengganggu ku! "
"Aku ingin membuat perhitungan dengan mu karena telah berani bersikap kurang ajar padaku. Minta maaf sekarang! "
Amarah Stefi meluap - luap
" Untuk apa aku harus meminta maaf padamu? Aku tidak melakukan kesalahan apapun! " Vio masih bersikap tenang dan acuh tak acuh
" Untuk apa katamu? Aku Stefi, dikota ini tidak ada yang berani memperlakukan ku dengan sikap kurang ajar sepertimu. Kamu bilang untuk apa? "
" Bisakah kamu mengecilkan sedikit volume suaramu? Membuat kupingku sakit saja! "
" Apa katamu? "
Plak,,,,
Stefi menampar Vio dengan keras. Vio memegangi pipinya yang terasa sakit dan menatap Stefi dengan penuh kemarahan. Dari belakang mereka Ji dan Ed yang telah berkeliling mall dan hendak nonton film melihat kejadian itu. Ji dan Ed mendekat ke atah mereka
" Apa kamu akan diam saja setelah dia menampar mu, Vi?! " Kata Ji dengan tenang dan tangan masih melingkar di lengan Ed. Vio menoleh ke arah suara yang sangat dia kenal. Kemudian berkata dengan sinis
" Tentu saja tidak kak Ji. Aku sudah berbaik hati membiarkannya begitu saja. Kali ini sudah tidak ada ampun. Aku Vio Indriani Putri Kusuma, tidak akan membiarkan dia begitu saja. Jika dia bisa menggunakan nama keluarganya untuk bersikap sombong dan membuat orang menghormatinya. Maka aku bisa dengan mudah menghapus nama keluarganya dari daftar nama orang terhormat di kota ini dengan nama keluargaku! "
Vio tersenyum licik saat mengatakannya
__ADS_1