
" Permisi pak, ada sebuah kiriman untuk anda! " Kata seorang pegawai Hardi yang membawa sebuah amplop coklat
" Apa kamu tahu siapa pengirimnya?"
Kata Hardi dengan memicingkan matanya
" Saya tidak tahu, ini sudah ada didalam kotak surat tanpa ada nama pengirimnya. Hanya disini tertulis untuk bapak saja! "
Katanya dengan sopan
" Letakkan saja di atas meja. Nanti saya akan melihatnya. Terimakasih. Kamu boleh pergi! " Kata Hardi tanpa menoleh sedikit pun
" Baik pak, permisi! "
Hardi mengambil amplop itu setelah pegawainya meninggalkan ruangannya..
Amplop apa ini dan,,, siapa yang mengirimkannya?
Hardi berbicara sendiri sambil membolak balik amplop tersebut kemudian membukanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat isi amplop tersebut
" Sialan! Apa maksudnya ini? "
Teriak Hardi sambil membelalakkan mata karena terkejut. Dia membuka photo lembar demi lembar. Photo itu diambil dengan macam - macam gaya. Tampak kedekatan diantara orang yang ada dalam photo..
" Berani - beraninya Clair bermain dibelakang ku. Siapa laki - laki ini? Sepertinya aku tidak pernah mengenalnya. Awas saja kamu Clair, akan ku beri kamu pelajaran! "
Hardi yang kesal dan marah berjalan dengan wajah dipenuhi emosi meninggalkan kantornya untuk segera pulang kerumah
Hardi berkendara dengan penuh kemarahan. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba dirumahnya. Hardi keluar dari mobil dan berjalan dengan tergesa - gesa. Wajahnya penuh emosi, matanya menatap dengan tajam. Auranya diselimuti dengan kegelapan seakan hendak membunuh.
BRAK!!!!
Dia membuka dan membanting pintu dengan sangat keras hingga mengejutkan semua orang yang ada dirumah itu
Hardi langsung berjalan menuju kamarnya dan mencari Clair..
" Clair!
Clair dimana kamu?
Clarisa, dimana kamu? Cepat keluar! "
Hardi terus berteriak hingga semua orang berkumpul
" Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak seperti itu? "
Ibu Hardi langsung menghampiri putranya
" Bu, dimana Clair? "
Tanya Hardi dengan sedikit meninggikan suara
" Dia, sepertinya dikamar orang tuanya! "
Hardi langsung bergegas menuju kamar tamu tempat orang tuanya menginap
" Clair!
Clair! "
Brak!!!
__ADS_1
Hardi kembali berteriak dan membuka pintu kamar tamu dengan paksa. Hingga dia melihat Clair yang sedang asyik bercengkrama dengan ibunya
" Ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Apa ada sesuatu yang penting? "
Tanya Clair dengan polosnya tanpa memperhatikan wajah Hardi yang sangat kesal. Dia berjalan dengan cepat ke arah Clair dan meraih lehernya, mencekiknya dengan kuat
" Kamu masih bertanya ada apa? Kamu tidak tahu apa salahmu, hah? "
Tangan Hardi mencekik Clair dengan kuat, tatapan matanya begitu tajam diselimuti kobaran api yang penuhi rasa kebencian dan kemarahan
" Lepaskan nak Hardi, lepaskan dulu! Kamu bisa membunuh Clair jika terus seperti ini! "
Ibu Clair berusaha melepaskan tangan Hardi dari leher Clair
" Dia memang pantas mati. Dasar wanita ja*ang, tidak tahu diri! "
Hardi terus mencaci maki Clair
" Sa yang le pas kan du lu ta ngan mu. Ki ta Bi ca ra "
Clair berusaha membujuk Hardi dengan suara terbata - bata. Akhirnya Hardi melepaskan tangannya
" Uhuk uhuk "
Clair terjatuh ke lantai kemudian terbatuk sambil memegangi lehernya
" Sekarang katakan apa maksudnya ini? "
Hardi melemparkan photo - photo Clair ke wajahnya dengan keras hingga semua berserakan di lantai. Clair terbelalak menatap photo dirinya dengan Rey
" Ini.. ini.. bagaimana kamu mendapatkan semua ini? Ini semua palsu. Ini bukan aku. Ini semua direkayasa "
Clair terlihat panik dan berusaha mencari alasan.
Ach!!!
" Dengar wanita Ja"ang berani - beraninya kamu bermain dengan laki - laki lain dibelakangku dan berusaha membodohiku " Hardi menamparnya sangat keras hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah dan menarik rambut Clair hingga dia meringis kesakitan
" Aku tidak pernah membohongimu. Aku sangat mencintaimu. Kamu sendiri tahu itu! "
Clair terus mencoba membujuk Hardi sambil meringis kesakitan karena rambutnya di tarik Hardi. Sang ibu tidak dapat berbuat apa - apa. Dia hanya menitikan air mata dan ayahnya sedang pergi keluar
Ah!!
" lepaskan! Lepaskam aku! "
Clair terus berteriak disaat Hardi menariknya seperti seekor hewan
" Ikut aku, mulai hari ini aku tidak akan membiarkan mu hidup nyaman! " Hardi menarik Clair secara paksa menuju kamar mereka
" Kamu harus merenungkan kesalahan mu disini! " Hardi menguncinya di kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka
Dor Dor Dor
" Buka pintunya, Hardi hiks.. hiks.. hiks..!!!
Clair dengan berderai air mata terus memukul pintu dengan keras agar Hardi mau membukanya
" Hardi buka pintunya! Ibu,, tolong bukakan pintinya untukku. bu. hiks hiks hiks "
" Ingat. Tidak ada yang boleh membukakan pintu untuknya! "
__ADS_1
Hardi berjalan kembali keluar rumah untuk kembali ke kantor. Wajahnya masih terlihat sangat kesal.
Sungguh menyebalkan. padahal hari ini aku juga harus bertemu dengan Bina. Ach wanita - wanita ini merepotkan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adel dan Bina hendak bersiap untuk menemui Hardi dikantornya. Untuk membahas kendala yang terjadi pada proyek kali ini
" Bina, apa kamu sudah siap? " Tanya Adel dengan penuh ketegasan
" Ya. tapi aku gugup sekali membayangkan akan bertemu dengan pria baji**an seperti dia "
Bina menjawab dengan sedikit ketakutan
" Kamu tenang saja. Aku pasti membantumu. Kita harus bekerja sama untuk menghancurkan dia " Bina hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban
Adel kemudian meraih ponsel dan mengirimkan pesan singkat untuk Ji
*Aku dan Bina akan berangkat ke perusahaan Hardi untuk membahas mengenai kendala yang dihadapi proyek hingga belum mulai pengerjaannya
Baiklah berikan kabar terbarunya padaku*
balas Ji
Oke Ji
Ji tersenyum mendapatkan pesan dari Adel.
" Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? "
Tanya Biru penasaran dengan tingkah sang adik
" Tidak ada. Aku hanya sedang menikmati permainan saja. Salah seorang anak buah yang diberikan papi telah mulai membuat percikan api antara l Hardi dan Clarisa. kurasa itu sudah cukup menarik "
Kata Ji dengan senyum liciknya
" Clarisa, saudaranya Bina? "
Bi memicingkan mata mendengarkan
" Heum. Dan ternyata dia laki - laki yang sangat kasar.
Entahlah bagaimana Bina dan Clair itu bisa tertarik padanya. "
Ji memasang wajah heran sambil menggelengkan kepalanya
" Sudahlah jangan terlalu tertarik dengan hubungan mereka. Aku tidak ingin kamu terlibat lebih jauh dengan mereka "
" Hardi sudah berurusan dengan ku Bi, aku tidak akan melepasnya sebelum dia menderita " Tatapan mata Ji memancarkan kebencian da rasa jijik
" Ada masalah apa antara kamu dan dia hingga kamu begitu membencinya! "
" Dia telah berani merendahkan ku. aku tidak akan melepasnya begitu saja "
" Apa yang terjadi?
Apa sesuatu terjadi saat aku tidak sadarkan diri? "
" Tidak, bukan saat koma. Aku bertemu dengannya ketika hari pernikahan mu. Kami mengadakan rapat untuk proyek baru tapi dia berakhir mengajakku ke hotel "
" Kurang ajar sekali dia! Berani - beraninya dia memperlakukan mu seperti wanita murahan. Memang harus diberi pelajaran dia. Dia tidak pantas menjadi pebisnis. Akan lebih banyak wanita lain yang jadi korbannya jika dia terus jadi seorang pengusaha "
__ADS_1
" Kamu tenang saja. Dia pasti akan hancur ditanganku! "
Kata Ji dengan mata penuh kelicikan dan kebencian