Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Bunga cinta Biru dan Jingga


__ADS_3

Emili


Aku sudah tiba di rumah sakit


Biru


Aku akan turun sekarang


Biru beranjak dari kamar Ji untuk menjemput Emili yang sedang menunggu di lobby rumah sakit.


Tak berapa lama setelah dia turun dsri lift, dia menemukan Emili yang sedang duduk di salah satu kursi tunggu. Didekatinya Emili dan bertanya dengan senyum indah yang terpatri di bibirnya


" Hai, sudah lama menunggunya? "


Tanya Biru lembut sambil mengulurkan tangannya


" Tidak, aku belum lama tiba disini "


Emili tersenyum dan menyambut uluran tangan Biru, lalu mereka melangkahkan kaki menuju kamar Ji dengan terus bergandengan tangan


Semua mata tertuju pada mereka, terutama kaum hawa. Mereka tersihir oleh ketampanan Biru hingga tidak dapat mengalihkan pandangan matanya dari Biru.


Wajah Emili seketika berubah muram ketika dia menyadari kalau Biru melepaskan genggaman tangannya. Tiba - tiba ada tangan yang membuatnya terkejut tapi membuatnya nyaman melingkar di sekitar pinggangnya.


Mili menoleh pada Bi. Dan dia dengan lembut berkata


" Sudah pernah ku katakan sebelumnya bahwa aku hanya perlu kamu berada disisiku. Itu saja, jadi tidak perlu mengkhawatirkan yang lain lagi " kemudian Biru mendekatkan wajahnya dekat dengan telinga Emili dan Berbisik " Dimata ku hanya ada kamu seorang saja "


Wajah Emili langsung berubah merah merona


" Dia lucu sekali jika sedang merona itu, seperti buah cheri yang segar dan siap untuk dimakan "


Pikir Biru dalam hati sambil tersenyum sendiri. Emili memperhatikannya dan mulai penasaran


" Apa yang kamu pikirkan? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu diwajahku? "


Emili bertanya sambil memegang wajahnya sendiri


" Tidak ada, hanya saja,,, Wajahmu seperti cheri yang ingin aku makan! "


Biru berkata dengan berbisik dan Emili memukul pelan bagian lengannya sambil mengerucutkan bibir. Biru terbahak melihat ekspresi yang di perlihatkan sang gadis..

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba di ruang rawat Ji. Biru membawanya masuk dan melihat Ji yang di tempat tidur pasien yanh sedang tiduran dengan menghadap ke samping dengan masih mengenakan pakaian pasien. Dia sedang memainkan ponselnya.


Keadaannya sudah semakin membaik. Wajah Ji sudah tidak bengkak seperti pertama dirawat, tapi masih ada bekas merah di ujung bibirnya. Luka di tangan, kaki dan punggungnya juga mulai membaik. Tapi dia belum bisa tidur terlentang.


" Ji, ada Emili datang untuk menjengukmu! "


Suara Bi mengalihkan pandangan Ji dari ponselnya


" Hai, masuklah! "


Ji tersenyum menyambut Emili


" Ji, bagaimana keadaan mu? Maafkan aku, karena aku kamu berurusan dengan Nasya. Jika waktu itu kamu tidak ikut terlibat, pasti kamu tidak akan berakhir seperti ini "


Emili terlihat muram dan penuh penyesalan


" Sudahlah, ini bukan salahmu. Dia yang mencari gara - gara denganku. Kenapa harus menyalahkanmu? "


Emili sedikit tersenyum kepada Ji


" O iya, aku hanya membawakan beberapa buah untukmu. Aku tidak tahu apa yang kamu suka. kadi,,, aku hanya membawa itu saja "


Tak lama berselang, Gina datang bersama Yudha dan juga Vio


" Rupanya ada tamu? "


Kata Gina dengan sopan dan penuh kelembutan. Yudha tidak mengeluarkan suara sepetah katapun.


" Halo tuan, nyonya! "


Sapa Emili dengan sangat sopan. Bi dan Ji saling menatap kemudian tersenyum melihat respon Emili yang gugup


" Tidak perlu terlalu formal, panggil saja om dan tante! "


Kata Gina lembut


" Baik nyo, eh tante! "


" Bi, siapa gadis cantik ini? "


Gina beralih menatap biru

__ADS_1


" Ini Emili mih, pacarnya Biru! "


Bi memperkenalkan Emili dengan tenang, Emili hanya mengangguk dan tersenyum


" Kakak Mili, kenapa kakak mau pacaran sama si kakak muka es? Memang sih dia tampan, tapi dia sungguh menyebalkan!


Kakak akan sering mengelus dada bila selalu dekat dengan dia "


Vio menjelekkan kakaknya sendiri di depan Emili. Biru langsung melotot kepada Vio


" Tuh kakak lihat sendiri kan dia langsung melotot begitu. Sebentar lagi matanya akan melompat keluar "


" Diam kamu bocah ingusan! "


Suasana di ruang rawat Ji terasa hangat, dan semua berbincang dengan santai. Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, waktu kini sudah beranjak malam, Biru mengantar Emili pulang. Gina, Yudha juga Vio sedang pergi makan malam. Tinggallah Ji sendiri yang terus menatap ponsel miliknya


Kenapa dia masih belum menghubungi ku? Padahal ini sudah lebih dari 5hari. Apa dia masih belum selesai dengan misinya?


Tak lama ponselnya berdering hingga membuat Ji terkejut dan hampir menjatuhkannya. Ji seketika tersenyum ketika dilihatnya panggilan tersebut dari seseorang yang sedang dia tunggu


" Halo "


" Halo My little girl, apa kamu merindukanku? "


Terdengar suara yang begitu seksi dari ujung telepon


" Ish, narsis sekali tuan Jendral kita ini? Apa kamu selalu seperti itu kepada para gadis? "


" Tidak, hanya kamu yang mendapat perlakuan special dariku "


" Benarkah? Aku sungguh terharu sekali mendengarnya tuan Jendral. Kapan kamu akan kembali? "


" Aku sedang dalam perjalanan "


" Perjalanan kemana? Apakah baru selesai dari tempat misi? "


" Perjalanan menuju hatimu setelah melewati misi selama beberapa tahun menunggu "


Ji dibuat terdiam dengan perkataan Edward


" Si narsis ini benar - benar pandai merangkai kata - kata manis "

__ADS_1


__ADS_2