
Dag dig dug
Jantung Ji seakan mau melompat dari dalam tubuhnya. Bahkan suaranya mungkin bisa terdengar dari jarak ribuan mil. benar - benar berdetak kencang hanya karena sekedar kata - kata dari Ed. Ji berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam - dalam. Setelah dia mulai menguasai detak jantungnya lagi, Ji kembali bicara dengan tenang
" Sudahlah Ed berhenti menggombal. Sekarang kamu ada dimana? "
" Dihatimu, aku tepat berada di dekat mu "
Deg deg deg,, detak jantung yang tadi berhasil terkendali kini kembali memberontak. Mendengar suara Ed yang tenang bagai air tapi seakan penuh duri yang berbahaya di dalamnya. Ji mencoba untuk duduk, tapi tidak berhasil, dia masih membutuhkan bantuan orang lain untuk duduk dan menopang tubuhnya. Ji meringis merasakan tangannya sakit karena berusaha duduk sendiri
ah! duuuhh,,,HIiiisssshhhh.....
Tak disangka dari pintu muncullah Ed yang langsung menghampirinya dan dengan cepat membantunya duduk, mungkin dia mendengar suara Ji yang sedikit berteriak. Ji terkejut dengan kedatangan Ed yang tiba - tiba dan terus menatapnya bahkan tanpa berkedip sekalipun
" Berhentilah menatapku seperti itu! wajahku bisa saja berlubang karena tatapan mu yang begitu tajam padaku! "
Ed menggoda Ji dengan nada bicara yang tenang tanpa menoleh padanya, Ji seketika memalingkan wajah dari Ed dan jadi salah tingkah karenanya
" Ich siapa juga yang menatapmu. geer sekali kamu tuan Jendral! "
Ed hanya tersenyum menanggapinya
"Apa kamu sudah makan? "
Ed bertanya pada Ji dengan lembut. Ji menggelengkan kepala kemudian menjawab
" Belum, papi dan mami nanti akan membawakan ku makan malam"
" Mau makan diluar denganku? "
__ADS_1
" Bagaimana mungkin? Tangan dan kaki ku masih belum pulih "
Wajah Ji tiba - tiba berubah murung dan melihat ke arah tangan dan kakinya yang terluka
" Apa yang tidak mungkin? Kan ada aku yang ada disini untukmu! "
Ji langsung menatap Ed
" Kamu tunggu disini sebentar! "
Ed berjalan keluar ruangan Ji dan tak lama dia kembali lagi dengan membawa sebuah kursi roda.
" Ach!! Hei, Apa yang akan kamu lakukan? Turunkan aku! "
Ji terkejut dengan tindakan Ed dan sedikit berteriak. Ed mengangkat Ji dari tempat tidur dan memindahkannya ke atas kursi roda
" Kita makan malam, tapi hanya bisa di kantin rumah sakit saja. Tidak papa kan? "
Mereka mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke kantin. Semua mata tertuju pada mereka.
Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian, jika seorang pria tampan dengan masih mengenakan seragam tentara mendorong kursi roda seorang gadis cantik yang sedang terluka. Sungguh pemandangan yang sangat romantis dan segar dipandang mata
" Apa yang akan kamu lakukan setelah keluar dari rumah sakit? "
" Hmn, entahlah, aku belum memikirkannya, tapi untuk menjadi seorang model lagi,,, sepertinya,,, akan sangat sulit "
Ji tertunduk saat mengatakannya. Ed bisa merasakan kesedihan yang di alami gadis cantiknya ini
" Tidak perlu khawatir, kamu bisa saja melakukan operasi plastik untuk menghilangkan bekas lukamu itu. Dan kembali lagi menjadi seorang model seperti yang kamu impikan selama ini"
__ADS_1
" Benarkah? Tapi aku sudah tidak begitu tertarik dengan dunia modeling. Terlalu banyak intrik dan manipulatif didalamnya. Semua orang menggunakan topeng mereka masing - masing untuk mencapai ketenaran. Sangat sulit untuk bisa mengetahui pribadi orang dengan benar di dunia modeling. Semua yang mereka perlihatkan adalah kepalsuan belaka "
Ed menghentikan langkahnya, dia berjalan memutar ke hadapan Ji dan mengunci kursi rodanya, lalu diam berjongkok dihadapannya. Ji terdiam memperhatikan Ed dengan tatapan yang dalam
" Tidak peduli berapa banyak orang yang menggunakan topengnya dihadapanmu. Kamu hanya perlu percaya pada satu orang saja disekitar mu,, yaitu aku. Jangan pernah pedulikan orang lain, aku percaya sepenuhnya padamu! Aku yakin kamu bisa melakukan yang terbaik, apapun itu. Aku akan selalu mendukungmu! "
Kata - kata Ed terdengar begitu lembut, Ji dibuat haru olehnya kemudian tersenyum
" Terimakasih banyak tuan Jendral! "
" Sudahlah. Ayo kita jalan lagi! "
Ed kembali berdiri dan mendorong kursi roda Ji. Hingga tibalah mereka di kantin rumah sakit.
" Kamu tunggu disini, aku akan pesankan makanan! "
Ji menganggukkan kepala sambil tersenyum, ditatapnya punggung sang pria yang menjauh untuk memesan makanan.
Tidak lama dia kembali dengan membawa nampan berisi 2 piring makanan dan 2 gelas minuman. Ed meletakkan makanan dan minuman secara perlahan dihadapan Ji.
" Terima kasih "
Ji berusaha mengangkat tangannya untuk meraih sendok yang ada dihadapannya. Tapi,,, dia menghentikan gerakannya karena masih terasa linu di tangannya. Ji terdiam memperhatikan makanan dihadapannya dan juga tangannya secara bergantian
Bagaimana cara aku memakannya? Aku masih belum leluasa menggerakan tanganku ini
Ed memperhatikan Ji, dia meraih sendok dan mengambilkan makanan lalu di arahkan ke mulutnya
" Aaaa, buka mulutmu! "
__ADS_1
Ji tercengang dengan tindakan Ed
" Sudah ku katakan, ada aku sekarang disamping mu, Jadi kamu tidak perlu khawatir tentang apapum lagi. Semua akan aku lakukan hanya untukmu! "