Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Pewaris tunggal keluarga Nugraha


__ADS_3

Leo masih berdiri di depan rumahnya yang penuh kenangan.. Yang dilihatnya kini hanyalah kenangan akan kematian sang ibu yang begitu tragis


" Tuan muda, silahkan masuk! "


Suara salah satu pengawal menyadarkannya dari lamunan. Dia menoleh dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Ceklek,,


Krieeettt,,,


Leo mulai melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, air mata tetap tak mampu tertahan mengiringi langkahnya memasuki rumah besar itu


Leo menoleh ke setiap penjuru. Rumah ini masih tetap sama, tidak ada satupun yang dirubah oleh sang ayah


" Tuan muda, sebelah sini! Tuan besar sedang ada diruang kerjanya! "


Leo mengangguk, mengikuti langkah sang pengawal


Tok tok tok


Ceklek


krieett


" Permisi tuan besar. Tuan muda sudah tiba!


Silahkan masuk tuan muda! "


Pengawal melapor kepada tuan Fabian, ayah Leo kemudian mempersilakan Leo untuk masuk ke dalam. Setelah itu dia meninggalkan ruangan dan membiarkan ayah dan anak itu berdua untuk melepas rindu yang tertahan selama bertahun - tahun


Seorang pria paruh baya terlihat tengah berdiri diruang kerja yang sedikit gelap dan hanya diterangi cahaya dari jendela


Fabian terlihat berbadan tinggi tegap dengan rambut yang sudah memutih juga memiliki janggut dan kumis, dia mengenakan tongkat untuk membantunya menopang berat badan tubuhnya ketika berdiri.


Dia menoleh dan menatap Leo dengan linangan air mata


" Putraku.. Kamu benar - benar putraku, Leo. Aku bersyukur kamu masih hidup! "


Katanya dengan suatu lirih

__ADS_1


" Ayah,,, ayah,,, "


Leo berlari dan berhambur kepelukan sang ayah. Dia menangis, mencurahkan segala kerinduan terhadap sang ayah yang selama ini telah dipendamnya


"Aku merindukan ayah, aku selalu menunggu saat dimana aku bisa kembali bersama ayah! Ku kira ayah sudah benar - benar melupakan aku. Ku kira aku tidak akan pernah bertemu dengan ayah lagi.. hiks.. hiks... hiks..! "


" Anak bodoh, bagaimana bisa ayah melupakan putra semata wayang ayah? Selama ini ayah selalu berusaha mencarimu. Ayah menyebar semua anak buah ayah dan meminta detektif untuk bisa mencari keberadaan mu. Ayah selalu memikirkan mu. Bagaimana caranya kamu bertahan diluar sana? Apa kamu baik - baik saja? Apa kamu makan? Tak pernah sedetik pun ayah melupakanmu.


Maafkan ayah, karena ayah tidak bisa menjaga dan melindungi kamu serta ibumu. Ayah tidak berada disisi kalian ketika malam tragis itu. Seharusnya ayah tidak pergi melakukan perjalanan dinas hari itu dan tidak membiarkan kalian berada dalam bahaya. Ayah benar - benar minta maaf nak! "


Fabian tertunduk dengan air mata yang membasahi pipinya


" Ayah, itu sudah berlalu, sudah cukup lama itu terjadi. Hanya saja,, aku belum bisa melupakan kematian ibu.. Ayah, apa aku boleh pergi ke makam ibu? "


" Tentu saja nak! Ceritakan pada ayah, bagaimana kamu melewati hari - harimu selama berada diluar rumah! "


Ayah dan anak itu saling melepas rindu dengan bercengkrama mengenai apa yang dilakukan Leo selama berada diluar rumah, hingga tanpa terasa waktu sudah menjelang malam


" Apa kamu sudah makan? Ayah sampai lupa menanyakanmu itu karena terlalu senang bertemu denganmu "


Kata Fabian sambil tersenyum


" Belum yah! "


" Kalau begitu kamu bisa mandi dan istirahat sebentar sebelum makan malam siap! Kamarmu masih sama, ayah selalu meminta pelayan membersihkannya "


" Baik ayah! "


Leo berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kerja sang ayah.


" Sayang,, putra kita kini sudah dewasa. Dia tumbuh mandiri dan jadi pria yang tampan. Dia akan jadi pewaris tunggal keluarga Nugraha yang bijaksana. Aku yakin, dia bisa melindungi dirinya sendiri juga bisnis keluarga kita. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu dan juga membesarkannya dengan baik! "


Gumam Fabian yang kembali menitikan air mata sambil terus menatap punggung Leo yang berjalan meninggalkan ruangannya


Leo kembali menyusuri ruangan rumah ini. Dia berjalan perlahan sambil mengenang masa lalu yang menyenangkan sebelum tragedi itu terjadi. Dia tersenyum tapi juga menangis secara bersamaan dengan langkah kaki perlahan


" Ibu,,, aku pulang "


Gumamnya denga. suara yang lirih

__ADS_1


Leo melewati ruang keluarga. Dia terdiam menatap ke ruang keluarga, dia kembali mengingat masa lalu bersama ibunya


" *Leo! bukankah kamu harus berlajar menebak? "


" Iya bu, sebentar lagi. Aku masih mau menonton tv "


" Leo! sini coba kie buatan ibu. Kami pasti suka! "


" Leo apa kamu baik - baik saja? Ibu akan mencari lilin untuk menerangi ruangan ini* "


Bayangan ibunya kembali melintas dipikiran Leo, dia masih mengingat bagaimana suara ibunya dan juga wajahnya ketika tersenyum lembut.


Leo terduduk dilantai, dia menundukkan kepala dengan kedua tangannya berada dilantai. Air matanya kembali mengalir deras dan membasahi lantai


" Ibu,,, ibu,,, aku sungguh merindukan mu.. Aku ingin sekali memelukmu saat ini. Aku ingin mengatakan padamu kalau aku sangat menyayangimu bu,,, Aku sudah kembali kerumah ini bu, tapi aku tidak bisa menemukanmu.. hiks.. hiks.. hiks... "


Cukup lama Leo menangis di ruang keluarga, tanpa ia sadari, seseorang datang dan menepuk punggungnya perlahan


" Ayah percaya kalau kamu kuat. Ibumu juga pasti bangga melihatmu, karena berhasil hidup sendiri di luar sana. Ayah yakin kamu pasti mengalami kesusahan selama ini. Terlebih lagi, kamu tidak membawa apapun dari rumah ini sebagai bekal. Ayah bangga padamu, begitupun ibumu...


Jangan menangis lagi! Kamu harus buktikan pada ibumu bahwa kamu adalah anak yang kuat dan bisa jadi pemimpin di keluarga kita. Ayah akan umumkan kepulangan mu. Tapi,,, "


perkataan Fabian terhenti, dia menunduk dan terlihat khawatir


" Tapi apa yah? "


Tanya Leo di sela air matanya


" Musuh kita juga pasti akan keluar dan kembali berusaha untuk menyakitimu! "


Mata Fabian memancarkan kekhawatiran kepada sang anak


" Ayah tenang saja. Kali ini aku sudah siap menghadapi mereka, aku tidak akan lari seperti dulu "


Jawab Leo dengan air mata yang masih tersisa dipipi dan mata yang memancarkan kelicikan, amarah dan kebencian


" Tapi kamu tetap harus berhati - hati. Ayah akan meminta beberapa orang pengawal terlatih untuk selalu menemanimu kemanapun kamu pergi. Karena kita tidak tahu, kapan dan dimana mereka akan berusaha menyerangmu! "


" Baik ayah, aku sangat menantikan waktu dimana aku bertemu lagi dengan mereka. Akan ku berikan rasa sakit yang ibu rasakan pada mereka! "

__ADS_1


" Sudahlah. Istirahatlah dulu. Besok ayah akan membawamu ke perusahaan kita! "


" Baik ayah! "


__ADS_2