
Setelah Ed selesai berbincang dengan orang tua Ji, mereka meninggalkan rumah Ji dan pergi menuju butik Maria. Butuh sekitar 1 setengah jam perjalanan dari rumah Yudha ke butik Maria.
Ji dan Ed berjalan bergandengan tangan terlihat begitu serasi ketika memasuki kawasan pertokoan tersebut. Hingga tibalah mereja di butik Maria.
Begitu mengejutkan, ketika mereka masuk ke dalam ternyata ada Laura di dalam butik sedang berbincang dengan Maria
" Hai Ed, Ji. Kalian berdua dari mana? kenapa bisa sampai kemari? " Kata Maria sambil berdiri dari duduknya untuk menyambut Ji dan Ed ketika menyadari kedatangan mereka berdua
" Hai Ji, Ed " Laura berdiri kemudian berjalan mendekat ke arah Ed. Memegang lengannya
" Apa yang dilakukan olehmu disini, Laura? "
Tanya Ed dengan nada datar dan alis hampir menyatu
" Memangnya salah jika aku berkunjung kemari? Ku kira tidak ada salahnya jika aku mengunjungi ibumu? Apalagi jika kita sudah menikah, tante Maria juga akan jadi ibuku "
Laura tersenyum bahagia, sedangkan Ji mengernyitkan dahi mendengar perkataan Laura terlebih lagi melihat tangannya Laura yang ternyata telah melingkar di bagian lengan dekat siku Ed
" Gadis gila! Dia sama sekali tidak melihatku berdiri disini apa?! "
Wajah Ji terlihat begitu kesal melihat Laura yang melingkarkan tangan pada Ed. Dia lantas membuang muka dan mengalihkan pandangannya pada baju - baju yang dirancang Maria
" Tante, apa ini baju rancangan tante sendiri? " Tanya Ji sambil memegang salah satu gaun
" Iya, ini adalah baju yang tante rancang sendiri " Maria berkata sambil mendekati Ji
" Bu, aku ingin segera menikahi Jingga! "
Kata Ed dengan tenangnya. Sontak perkataan Ed membuat Maria terutama Laura menjadi sangat terkejut
" Apa? " Kata Laura dengan mata terbelalak tak percaya
" Benarkah? " Maria terlihat bahagia dengan apa yang dikatakan putranya
" Ibu senang sekali mendengarnya. Kapan rencana kalian menggelar pesta pernikahan? " Maria terlihat begitu antusias mendengar rencana pernikahan Ed dan Ji
" Secepatnya. Tadi kami baru saja dari rumah orang tua Ji dan mereka akan segera menemui ayah dan ibu untuk membicarakan rencana pernikahan kami "
Ed menjelaskan dan Laura mengepalkan tangan mendengar penjelasan Ed
" Permisi saya harus pergi, masih ada keperluan lain yang harus saya kerjakan "
Kata Laura dengan wajah yang menahan amarah juga tangisnya
" Baiklah hati - hati dijalan ya! "
Kata Maria dengan lembut. Laura hanya menganggukkan kepala dan bergegas meninggalkan butik. Ji mendekati Ed setelah Laura pergi
" Kamu sengaja melakukan itu? " Bisin Ji kepada Ed
" Tentu saja aku sengaja melakukannya. Aku ingin dia segera berhenti berharap padaku! "
Jawab Ed sambil menatap punggung Laura yang semakin menjauh.
Laura yang kesal meninggalkan butik dengan mata yang berkaca - kaca, air matanya pecah setelah ia masuk ke dalam mobil miliknya
" Ach,,,, kenapa kamu malah memilih perempuan itu Ed,,hiks... hiks.. hiks.. ? Apa kurangnya aku dibandingkan dia,,,hiks.... hiks... hiks..?
Jelas jika bersama dengan ku akan lebih menguntungkan bagimu untuk bisa mendapatkan jabatan lebih tinggi dalam militer. Dia tidak ada apa - apanya dibandingkan aku. Kenapa Ed? Kenapa hiks... hiks... hiks... ? "
Laura menangis sambil memukul - mukul kemudi mobil
__ADS_1
" Aku tidak boleh menyerah disini. Aku harus melakukan sesuatu! " Laura lantas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
" Hallo, aku punya pekerjaan untukmu! Kamu harus melakukannya dengan baik! Nanti aku akan menghubungi mu untuk waktunya! "
Kata Laura ketika panggilan telah tersambung
" Baik nona, asalkan bayarannya cukup. Saya akan melakukan apapun untukmu " Jawab seseorang dibalik telepon sebelum menutup panggilan mereka
" Ed, kamu harus jadi milikku!! "
*****
Sementara itu di perusahaan Sanggara, Vio hari ini selesai dengan pekerjaannya
" Akhirnya hari ini selesai juga! Rasanya sangat melelahkan! "
Gumam Vio sambil meregangkan tubuhnya
" Aku harus segera pulang dan berendam air hangat dengan campuran aroma terapi, Sepertinya akan menyegarkan sekali! "
" Kamu terlihat sangat lelah sekali? "
" Tentu saja kak Leo. Ini baru hari pertamaku, tapi aku seperti telah lama bekerja disini. Jam pulang pun terasa sangat lamban "
Leo hanya tersenyum mendengar jawaban Vio
" Sudahlah ayo kita pulang! "
Ajak Leo sambil berdiri dari duduknya
" Eh,, kak Leo tidak pulang dengan pak direktur? Setahuku setiap asisten selalu menemani atasannya! "
" Pak direktur tidak suka ku temani diluar. Jadi aku hanya asisten di kantor saja! "
Leo dan Vio berjalan meninggalkan meja kerja mereka menuju lift dan turun ke lantai bawah. Karyawan lain memperhatikan mereka berdua
" Bukannya dia dekat dengan pak direktur? Kenapa sekarang malah dia dekat dengan asisten Leo? "
Kata salah seorang karyawan
" Benar, ketika rapat tadi siang aku melihat dia dan pak direktur bertatapan mesra "
Kata karyawan lain
" Sepertinya dia ini seorang wanita penggoda . hahaha! "
Vio merasakan tatapan aneh yang ditujukan padanya. Tapi Vio sama sekali tidak menggubrisnya. Leo pun merasakan hal. yang sama
" Sudah, abaikan saja mereka. Mereka hanya karyawan yang suka bergosip saja. Tidak usah dipedulikan! "
Kata Leo dengan sikap acuh tak acuhnya tapi terdengar lembut ditelinga Vio
" Yaaah, hujan. Bagaimana aku bisa pulang? " Kata Vio sambil menatap langit dan menengadahkan sebelah tangannya menerima hujan yang turun dari ujung atap
" Kamu tidak bawa mobil? "
Kata Leo menoleh melihat Vio
" Aku tidak punya mobil. Jadi aku naik taksi "
Disini memang tidak punya tapi kalau di negara A, aku ada beberapa mobil sport di garasi hehehe
__ADS_1
Vio meneruskan kalimatnya dalam hati
" Kalau begitu biar aku antar! Akan sulit mencari taksi saat cuaca seperti ini. Aku akan mengambil mobil ku dulu diparkiran "
Leo hendak berlari namun Vio menahan tangannya
" Hujannya cukup lebat, tunggu sedikit reda saja! " Leo menatap tangan Vio yang memegang tangannya
" Ah maaf "
Vio menarik tangannya dengan cepat
" Hari sudah semakin gelap, kamu akan tiba saat malam jika tidak buru - buru pulang "
" Tidak masalah kak. Tidak usah khawatir kan aku! "
Vio tersenyum lembut. Tiba - tiba
Ckiiittt
Sebuah mobil Merci berhenti tepat di depan mereka. begitu kaca mobil diturunkan perlahan
" Vio!
Ayo cepat naik. Biar aku mengantarkan mu pulang! "
Kata Rian dengan nada sombong dan memerintah
" Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri! "
Vio berkata sinis tanpa menatap Rian
" Kubilang naik berarti kamu harus naik! "
" Hei, ini diluar jam kerja. Kamu tidak bisa memerintahkan aku seenaknya! "
Vio tetap pada pendiriannya
" Siapa bilang? Jika kamu tidak menurutiku. Maka aku akan membeberkan semuanya! "
Rian tersenyum penuh kelicikan
" Bagaimana ini? Jika dia membocorkan semuanya sekarang. Maka rencanaku akan berantakan! Mau tidak mau aku harus menurutinya. Huh! "
Vio menghela napas kasar
" Kak Leo maaf ya, sebaiknya aku ikut dengan kak Rian saja "
Leo tersenyum dan menganggukkan kepala. Vio sedikit berlari memasuki mobil Rian
" Pakai sabuk pengamanmu! "
Kata Rian dengan senyum penuh kemenangan. Vio langsung mengenakan sabuk pengaman tanpa berkata apapun
Leo menatap mobil Rian yang semakin menjauh
" Vio, kamu belum menjawab pertanyaan ku! Kenapa kamu memilih bekerja di perusahaan orang lain. Ketimbang di perusahaan keluargamu? "
Tanya Rian berusaha memecah keheningan
" Bukan urusanmu! Kamu tidak perlu ikut campur! " Jawab Vio dengan nada sinis
__ADS_1
" Aku hanya bingung saja. Kedua kakakmu juga memilih untuk membangun bisnis mereka sendiri. Kenapa tidak meneruskan perusahaan yang sudah jelas berkembang pesat? "
" Kamu tidak akan mengerti, karena kamu terbiasa menggunakan fasilitas yang disiapkan keluargamu! "