Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Nikmatilah waktumu perlahan sebelum akhirnya membusuk didalam penjara


__ADS_3

Gina, Yudha dan Vio telah tiba dikantor polisi , dimana Nasya dan anak buahnya ditahan setelah menghabiskan waktu kira - kira 1 jam perjalanan dari rumah sakit tempat Ji dirawat.


Dia langsung melapor kepada sipir yang bertugas untuk dapat mengunjungi Nasya. Setelah mendapat izin, Gina dibawa ke ruang tunggu pengunjung lapas sedangkan Yudha dan Vio menunggu diluar.


Setelah menunggu beberapa saat, Nasya datang dengan di dampingi oleh 2 petugas sipir wanita. Penampilannya jauh dari kata baik..


Dengan mengenakan seragam tahanan. Rambut yang di ikat 1 asal, wajah bengkak karena luka juga terdapat sedikit luka di ujung bibir, tangan dan kaki terlihat lebam dan ada bekas cambukan. Dia berjalan dengan tertatih akibat bengkak di kaki.


Gina tersenyum sinis melihat Nasya yang mulai duduk bersamanya


" Bagaimana rasanya? Sepertinya kamu mulai terbiasa disini? "


Nada suaranya terdengar begitu sinis dan penuh kebencian


Nasya memicingkan mata, dia tak mengenali siapa wanita yabg ada dihadapannya


" Maaf, nyonya ini siapa? "


" Kamu tidak mengenalku? Sayang sekali. Putri dari seorang konglomerat tidak tahu siapa aku "


" Maaf tapi jika anda tidak ada keperluan apa - apa. Sebaiknya anda pergi dari sini. Sepertinya anda bukan orang yang pantas untuk datang berkunjung kemari "


Nasya masih bersikap tenang saat bicara dengan Gina


" Kamu salah. Justru aku orang yang paling pantas berada disini melihat kehancuran mu. Kamu pikir dengan berada di dalam penjara hidupmu sudah bebas dari penderitaan? Tidak, karena balasan dariku baru dimulai! "


Gina tersenyum puas saat mengatakannya.


" A,,, apa maksudmu?

__ADS_1


Si,,,,siapa kamu sebenarnya? "


Nasya mulai panik, suaranya mulai terbata - bata , wajahnya yang bengkak berubah pucat


" Aku? huh,, Sepertinya kamu tidak pernah membaca majalah bisnis,,, Aku, gina Yulia Kusuma. Apa kamu sudah ingat siapa aku? "


Gina memiliki senyum yang tak dapat diartikan maksudnya. Senyum yang sangat misterius..


" Nyo,, nyonya tolong ampuni aku, aku sudah sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan pada Ji. Kumohon lepaskan aku.. hiks,, hiks,, hiks "


Derai air mata menyertai permohonan Nasya. yang tiba - tiba berlutut di samping kursi Gina. Tapi Gina hanya tersenyum sinis mencibirnya


" Nona, Sepertinya anda salah jika meminta maaf padaku! Karena,, aku sudah tidak memiliki rasa belas kasihan lagi. Aku tidak sama seperti putriku yang hanya memberikan pelajaran kecil saja. Jadi nikmatilah waktumu perlahan sebelum akhirnya membusuk didalam penjara "


Gina tersenyum dan berdiri meninggalkan Nasya yang masih terpaku dengan apa yang dikatakannya


Dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Gina, hingga didalam tahanan dia mengalami apa yang namanya disiksa secara perlahan oleh tahanan lain. Tidur tanpa alas, makanan yang diludahi, dipukul tahanan lain ketika sedang sepi. Semuanya menjadi penyesalan besar untuknya. Tidak hanya usaha keluarganya saja yang hancur karena kesombongannya, tapi juga penderitaan yang dia hadapi setelahnya. Dia menyesal akan semua tindakan konyolnya yang berakhir dengan memancing kemarahan dari pasangan penguasa dunia bisnis.


Beberapa hari telah berlalu, Emili berniat mengunjungi Ji yang masih berada dirumah sakit. Dia datang dengan membawa parcel buah. Sebelumnya dia mengirim pesan terlebih dahulu kepada Biru


Emili


Apakah kamu ada dirumah sakit? Aku berniat mengunjungi Ji sekarang


Biru membalas pesan Emili dengan cepat


Iya, aku dirumah sakit. Kabari aku jika kamu sudah tiba. Aku akan menjemputmu di lobby rumah sakit


Emili

__ADS_1


Baiklah, sampai jumpa nanti


Biru


oke, hati - hati berkendara my sweet heart 💕


Biru tersenyum sendiri membaca pesan dari Emili. Dan Ji memperhatikan kakak kembarnya itu


" Hei, apa ada yang lucu dengan ponsel mu itu? kenapa kamu tersenyum sendiri, hanya dengan menatap ponsel mu saja? Apa kamu melihat atau menonton sesuatu yang tidak - tidak? "


Ji berkata dengan senyum mengejek pada Biru


" Berisik. Tidak usah memikirkan hal yang aneh - aneh! Aku tahu kamu hanya iri karena Ed sedang pergi bertugas! Jadi kamu tidak bisa ditemani cinta masa kecilmu "


" Cih, apa maksudmu? Jangan asal bicara! "


" Aku sudah tahu, kalau dia kakak penakut itu. Anak laki - laki yang kita tolong waktu itu " Bi bicara dengan tenang tanpa menoleh pada Ji


" Hei,, dari mana kamu tahu hal itu? "


Ji memicingkan mata curiga menatap Bi


" Dia sendiri yang menceritakannya padaku! "


" Benarkah? kapan itu? "


Mata Ji tampak berbinar menanti sebuah jawaban dari mulut Bi


" Cih, lihatlah wajahmu yang merona dengan mata berbinar seperti itu. Seperti anak kelinci saja! Dasar gadis bodoh! "

__ADS_1


" Hei, bagaimana bisa kamu menyamakanku dengan seekor anak kelinci? Jika aku sudah Bisa bangun dari tempat tidur sialan ini, aku sudah pasti bangun dan mencekikmu, hump! Dasar menyebalkan! Aaach sampai kapan aku akan terus terbaring disini sih!!! "


Ji yang kesal kepada Biru berteriak dengan histeris, sedangkan Bi hanya tersenyum karena berhasil membuat adiknya merasa jengkel


__ADS_2