Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Ternyata kamu sangat dibenci dan tidak dihargai orang terdekatmu, Bina


__ADS_3

Keluarga Kusuma sedang berkumpul di depan ruang operasi menunggu Mili yang berada didalam sedang melakukan operasi. Ed juga selalu ada disamping Ji. Selama tidak bertugas dia akan selalu menemani Ji kemanapun...


Berjam - jam telah berlalu lampu ruang operasi masih menyala ON tanda operasi masih berlangsung. Biru menunggu dengan cemas sambil memainkan jari - jari tangannya. Tampak jelas diwajahnya bahwa dia sangat khawatir.


Setelah hampir setengah hari akhirnya lampu ruang operasi berganti OFF, dan keluarlah seorang dokter dengan masih mengenakan pakaian operasinya.


" Bagaimana operasinya dokter? "


Kata Biru yang langsung menghampiri dokter Rudi ketika dia keluar, di ikuti oleh keluarga Kusuma lainnya yang ikut mendekat


" Operasinya berjalan dengan lancar dan sukses. Pasien akan segera dipindahkan kembali keruang rawatnya "


Kata dokter Rudi ramah sambil melepas maskernya


" Syukurlah "


Semua serempak menghela napas lega


Bi tersenyum, wajah tegangnya kini terlihat lebih tenang


" Terimakasih dokter "


" Sama - sama. Saya permisi! "


Dokter pun berjalan pergi meninggalkan ruang operasi . Setelah beberapa lama keluarlah Mili yang masih belum sadarkan diri setelah operasi. Semuanya langsung mengikuti di belakang menuju kamar rawat Biru dan Mili


" Ed besok aku akan berkunjung kerumah Hardi, pria yang waktu itu kita temui di mall. Apa kamu mau ikut pergi kesana bersamaku? " Tanya Ji kepada Ed, yang sedang berjalan di sampingnya dengan tangan yang melingkar dibagian pinggang Ji


" Tentu my queen. Aku juga ingin melihat pertunjukan mu itu " Ji tersenyum mendengar perkataan Ed


\=\=\=\=\=\=\=\=


Hardi pulang kerumah dengan tampang kusutnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan perusahaan milik keluarganya itu.


" Nak, kenapa kamu terlihat murung seperti itu? " Tanya ibu Hardi ketika melihat putranya pulang dengan wajah yang terlihat lesu


" Tidak apa bu, hanya saja perusahaan sedang mengalami masalah "


Katanya sambil berhambur tidur di atas sofa


" Masalah apa? Apa tidak ada solusinya? "


" Entahlah, aku bekum menemukan solusinya. Bu, dimana ayah? " Tanya Hardi sambil merubah posisinya jadi duduk


" Ada di ruang baca. Ayahmu terus saja marah - marah mendengar teriakan Clair. Belum lagi pak Sukmajaya yang selalu mengancam ayahmu agar melepaskan putrinya "


" Biarkan saja. Clair sudah berani selingkuh dariku. Dia tidak akan bisa lagi hidup tenang. Aku akan menemui ayah! "


Hardi berkata dengan nada dingin sambil beranjak dari sofa menuju ruang baca


Tok tok tok


" Ayah "


Ceklek

__ADS_1


Hardi mengetuk pintu kemudian masuk ke ruang baca menemui ayahnya


" Apa yang sedang ayah lakukan disini? "


Setelah pensiun, ayahnya sangat jarang masuk ke ruang baca. Hanya jika sedang bosan saja dia akan masuk kamari


" Ayah hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa Clair jadi menantuku? Kurasa dulu itu dia adalah gadis yang sangat baik dan sopan. Kenapa sekarang dia malah mempermalukan nama baik keluarga kita dengan berselingkuh di belakang mu? " Ayah Hardi tertunduk mengingat kelakuan menantunya


" Ayah, apa dulu aku salah memilih? Jika saja kita memilih Bina mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Dan proyek kita telah gagal yah. Besok mungkin perusahaan kita akan diambil alih oleh Bina, karena dia investor tertinggi saat ini "


" Apakah perusahaan kita harus bangkrut seperti ini? " Kata ayah Hardi sambil matanya menerawang memandangi langit - langit rumah


" Sudahlah ayah, sebaiknya ayah istirahat. Aku juga akan kembali ke kamarku "


Hardi berbalik dan berjalan keluar ruang baca menuju ke kamarnya


Tibanya didalam kamar Hardi langsung menuju kamar mandi dan membukakan pintu untuk Clair


Ceklek


Begitu pintu dibuka dilihatlah Clair yang terduduk diam dilantai dengan memeluk kedua kakinya pipinya masih terlihat memerah bekas tamparan Hardi, Masih ada bercak darah kering di ujung bibirnya


" Bangunlah dan kau sudah bisa keluar sekarang " Kata Hardi dingin


" Terimakasih sayang. Apa kamu sudah memaafkan aku? Aku tidak bersalah, ada seseorang yang menjebakku. Percayalah padaku "Kata Clair sendu


" Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu! Entah aku masih bisa percaya padamu atau tidak. Aku ingin kamu menjaga jarakmu dariku" Hardi berkata sambil berbalik menuju kamar mandi. Clair hanya diam mematung mendengar apa yang Hardi katakan


\=\=\=\=\=\=\=\=


" Hallo Del, kamu dan Bina bisa langsung datang kerumah Hardi! Kita lihat, bagaimana reaksi mereka! " Kata Ji dengan senyum sinisnya


" Tentu, kita akan bertemu disana Ji "


Adel menjawab dari seberang telepon


" Baiklah sampai jumpa! "Ji mengakhiri sambungan telepon diantara mereka


" Apa semua sudah siap, mu queen? "


Tanya Ed dengan lembut


" Tentu saja! "


Ji tersenyum ramah berjalan lergi bersama Ed


"Kalian mau pergi kemana? "


Kata Biru datar


" Kami ada sedikit pertunjukan. Tidak akan lama, kami akan segera kembali! "Ji tersenyum lalu berjalan bergandengan dengan Ed keluar dari rumah sakit.


Bina dan Adel sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Hardi


" Adel apa kamu yakin tidak apa jika kita kesana berdua saja? Keluarga Hardi itu sangatlah kasar. Mereka tidak akan segan memukul orang, bahkan wanita sekalipun "

__ADS_1


" Kamu tenang saja, Ji akan menolong kita. Dia pasti akan datang tepat waktu. Ada sesuatu darinya yang tidak kamu ketahui. Dan itu akan terungkap sebentar lagi. Orang sombong dan tidak tahu diri itu akan dibungkam mulutnya oleh Ji. Saat dia menyadari kesalahannya, maka semua sudah terlambat " Adel tersenyum dengan optimis


" Sepertinya ada banyak hal yang aku tidak ketahui mengenai Ji. Yang aku tahu dia hanyalah seorang gadis licik yang berbahaya "


Adel tersenyum lembut sanmbil berkata


" Dia tidak sejahat itu. Masih banyak lagi hal yang sebenarnya bisa dipelajari darinya " mereka berdua terus bercengkrama sambil menikmati perjalanan mereka. Hingga tanpa terasa mereka telah tiba di rumah keluarga Hardi.


Adel memarkir mobilnya kemudian keluar beri mobil bersamaan dengan Bina


Bina menarik napas panjang kemudian membuangnya. Dia terus menatap rumah yang ada dihadapannya. Dulu dia sering bermain kesini bersama Clair. Tapi hubungan mereka


semua harus hancur setelah Clair menjebak Bina dulu karena merasa iri padanya. Ingatan itu masih sangat jelas terbayang dikepala Bina, seperti baru terjadi kemarin saja .


" Ayo kita masuk! "


Suara Adel menyadarkan Bina dari lamunannya. Dan Bina hanya menganggukkan kepala, berjalan mengikuti Adel dari belakang


Ting nong,,, ting nong,,,, ting nong


Adel menekan bel rumah Hardi berkali - kali


Tak lama terdengar suara


Ceklek


Krieeet


Pintu dibuka dari dalam dan terlihatlah seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang rapi dan anggun dari balik pintu. Dia adalah Ibu Hardi


" Selamat pagi tante "


Sapa Bina dengan senyum sinis dan licik


" Untuk apa kamu kemari? Kami tidak menerima gadis penggoda dirumah ini "


Kata ibu Hardi dengan sinis


" Benarkah?


Bukankah itu sebutan yang pas untuk menantumu sendiri? "


Kata Bina datar


" Dasar kurang ajar, sudah berani kamu mengejek keluarga ku? "


" Hentikan nyonya! Kami kesini untuk bertemu dengan tuan Hardi " Adel menghalangi sebelum Bina di tampar


" Ada apa ini? Ribut sekali diluar? "


Tuan Sukmajaya yang mendengar keributan, keluar rumah Hardi dan melihat Bina


" Gadis pembawa sial? Apa yang kamu lakukan disini? " Kata tuan Sukmajaya dengan mata yang membelalak


" Wow,, ternyata kamu sangat di benci dan tidak dihargai orang terdekatmu Bina "

__ADS_1


Kata Adel sambil menoleh kepada Bina


__ADS_2