Putra Putri Sang Penguasa

Putra Putri Sang Penguasa
Aku rela kehilangan jabatan di militer asalkan aku tidak kehilanganmu


__ADS_3

Ed memperhatikan Ji yang seketika berubah wajahnya menjadi kesal dan mengerucutkan bibir. Ed tersenyum puas lalu berbisik pada Ji


" My queen, apa kamu cemburu? Kamu tidak perlu khawatir. Dia tidak akan bisa membuatku mengalihkan perhatian darimu. Sayangku! "


Ji masih membuang buka san memalingkan wajahnya dari Ed. Laura pun kesal karena Ed sama sekali tidak mempedulikan dia.


" Ed, kamu kan sudah lama tidak pulang kemari. Bagaimana kalau kita pergi jalan - jalan? " Ajak Laura dengan senyum manis


" Betul, pergilah jalan - jalan! Jingga juga sudah lama kan tidak pulang ke negara ini? "


Kata Maria dengan antusias


" Iya, tante. Saya sudah lama tidak pulang kemari " Ji menjawab dengan tenang


" Baiklah, kita pergi jalan - jalan. Ayo my queen. Kita siap - siap dulu! " Ed mengulurkan tangan pada Ji agar dia bangun dari duduknya. Ji tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian menyambut uluran tangan Ed dan beranjak pergi menuju kamar untuk bersiap


" Tuan Jendral, sebenarnya kenapa dia selalu datang kemari? Apa hubungan kalian berdua begitu dekat? " Tanya Ji kepada Ed sambil berjalan ke kemar mereka. Kamar yang Ji tempati berada tepat disebelah kamar Ed


" Ayah Laura adalah seorang tentara yang berpangkat Jendral Besar. Dia adalah atasanku. Aku mendapat pangkat Letnan Jendral di usia yang terbilang muda karena berhasil dalam perang 2 tahun lalu di perbatasan negara Z. Ayahnya yang mengajukan kenaikan pangkatku. Pangkatku sebenarnya adalah Mayor Jendral atau bintang 1. Hanya saja,, bawahanku selalu memanggil ku dengan sebutan Jendral saja. Padahal pangkatku belum sampai disana. Karena promosiku itu juga, orang - orang tidak percaya dan mengira aku mendapatkan pangkat letnan jendral karena Laura "


Ed berkata dengan santai sambil berjalan bersama dengan Ji, dan tangannya melingkar di pundak Ji


" Bisa jadi karena itu juga, dia kan dekat denganmu. Tidak mungkin dia tidak menggunakan jabatan ayahnya untuk bisa menarikmu masuk dalam keluarganya "Ji berkata acuh tak acuh


" Sudah, jangan bicarakan dia lagi. Yang penting aku sudah memberitahumu dan kamu harus percaya padaku! Sekarang, ganti bajumu kita pergi keluar "


Ed membukakan pintu kamar Ji. Setelah Ji masuk tatapan mata Ed berubah tajam. Entah apa yang dia pikirkan atau rencanakan


Selang beberapa lama Ji turun ke lantai bawah menemui Ed dan Laura yang sudah menunggu disana. Ed berjalan mendekat ke arah Ji ketika dia melihat sang pujaan hatinya menuruni tangga

__ADS_1


" My queen. Apa kamu sudah siap untuk pergi? " Ji menganggukkan kepala dan Ed mengangkat setengah tangannya dan berdiri disamping Ji agar Ji dapat melingkarkan tangannya disana


" Ibu, ayah. Kami pergi dulu "


Kata Ed dengan sopan kepada orang tuanya yang sedang duduk di sofa. Ji yang berdiri disebelahnya hanya tersenyum ramah


" Iya. kalian bersenang - senanglah dan


hati - hati " Kata Maria dengan senyum ramah


" Om, tante kami permisi " Laura bicara dengan sopan dan orang tua Ed menganggukkan kepala sambil tersenyum ramah


Mereka bertiga pun berjalan keluar meninggalkan rumah Ed. Laura menatap Ji dan Ed yang berada di depannya dengan tatapan cemburu dan kesal.


" Ed kita mau pergi kemana? Bagaimana kalau kita ke restoran yang dulu sering kita datangi? " Laura dengan senyum liciknya berusaha membuat Ji cemburu


" Ed, aku naik mobilmu saja ya? jadi kita bisa berangkat sama - sama "


" Lebih baik kita gunakan mobil sendiri - sendiri. Kamu juga tidak akan kesusahan nantinya! " Ed berkata dengan acuh tak acuh sambil membantu Ji membukakan pintu mobil dan meninggalkan Laura yang sedang kesal


" Hahaha,, Tuan Jendral apa kamu memperhatikan wajah Laura saat kamu menolaknya untuk naik ke mobil mu? Wajahnya berubah seperti kepiting rebus karena menahan marah dan malu. Aku tidak tahu kalau kamu bisa bersikap seperti itu? Hahaha " Ji bercerita sambil terbahak. Ini pertama kalinya Ed melihat tawa Ji. Dia terpesona dan menatap Ji penuh cinta disertai senyum menawan diwajahnya


" Sepertinya kamu bahagia sekali my queen? "


Katanya sambil tersenyum lembut


" Tuan Jendral kamu tidak mengerti. Dia itu berusaha mendekatimu, tapi karena sikapmu tadi padanya, aku yakin dia pasti merasa sangat kesal sekali " Ji begitu antusias mengatakannya


" Sudahlah! hentikan membahas dia. My queen kamu tidak usah menghiraukan atau mempedulikan dia. Aku akan tetap setia padamu meskipun dia menggunakan jabatan ayahnya untuk mengancamku " Ed berkata dengan seringai jahilnya. Mereka terus bercengkrama bahagia. Sedangkan Laura mengikuti mobil Ed dengan suasana hati yang kacau

__ADS_1


" Ed, kamu berani memojokkan ku dihadapan Jingga. Aku tidak akan membiarkan Jingga merebutmu dariku. Kamu adalah milikku Ed " Laura menggenggam kemudi dengan begitu erat. Matanya penuh kebencian


Tanpa terasa mereka sudah tiba disebuah restoran. Ed dengan senyum lembut membukakan pintu mobil untuk Ji. Tatapan Ed kepada Ji membuat Laura semakin kesal dan benci kepada Ji.. Mereka memasuki restoran


" My queen, Aku ke toiket sebentar ya "


Ed berkata setelah menarik kursi untuk Ji duduk. Ji hanya menganggukkan kepala disertai senyum sebagai jawaban


" Jingga, kamu tidak tahu apa hubunganku dengan Ed? Aku adalah cinta masa kecilnya. Aku yakin dia masih belum bisa melupakan ku. Meskipun kami telah lama tidak bertemu dan saling berkomukinasi, dia tidak akan pernah menjauhiku. Karena nasib dia di militer bergantung padaku "


Laura berkata dengan senyum liciknya. Ji menanggapinya acuh tak acuh


" Nona, apa kamu yakin jika Ed mencintaimu?Kalau memang seperti itu, lantas untuk apa dia memberikan cincin berlian ini padaku? Kenapa dia tidak memberikannya padamu saja? " Ji berkata sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang melingkar cantik dijari manisnya. Kemudian Ji kembali berkata dengan santai


" Nona, apa kamu tahu. Kenapa dia memanggilku My queen? itu karena, hanya ada aku dihatinya dan aku wanita satu - satunya yang akan menempati tahta Ratu dihatinya. Meskipun kamu berhasil mendapatkan tubuh Ed. Kamu tidak akan berhasil mendapatkan hatinya. Jika kamu menjadikan posisi Ed di militer sebagai ancaman untuknya. Itu tidak akan berhasil, karena Ed bisa meninggalkan itu kapan saja dan ikut denganku sebagai pebisnis. Aku sama sekali tidak mementingkan jabatan dia di militer"


Ji begitu tenang menghadapi Laura.


Tidak jauh dari sana Ed yang baru kembali dari toilet mendengar setiap jawaban Ji. Dia tersenyum puas dengan setiap kata yang di ucapkan oleh Ji


" Bagus, aku tahu kalau ratuku bukanlah gadis lemah. Kamu tenang saja sayang. Kedudukan di militer tidak akan jadi penghalang hubungan kita. Aku rela kehilangan jabatan di militer asalkan aku tidak kehilanganmu. Aku akan mengikutimu sebagai rekan bisnis agar kita bisa selalu bersama, jika memang aku harus keluar dari militer "


Gumam Ed dengan senyum penuh makna. Diapun berjalan dengan santai seakan tidak mendengar apapun


" Maaf sayang aku membiarkan mu menunggu lama " Ed muncul dari belakang Ji dan duduk disebelahnya. Laura dibuat kesal dengan sikap mereka berdua. Rencana awalnya ingin membuat hubungan mereka renggang. Malah dia sendiri yang merasa kesal


" Sial!! aku mengajak mereka kesini agar Jingga merasa kesal. Malah aku yang dibuat kesal oleh mereka berdua "


Pikir Laura sambil mengepalkan kedua tangan dibawah meja

__ADS_1


__ADS_2